Jumat, 09 Desember 2011

Bayu and By You


Cleo terpana, terpaku dan terkesima melihat pemuda yang baru saja menolongnya dari ulah nakal para Senior kelas 2. Sebenarnya Cleo yang rada-rada tomboy gak jelas itu hampir saja melawan keempat seniornya yang gak banget itu, tapi berhubung hari ini adalah hari terakhirnya OSPEK di sekolah barunya, Cleo pun mengurungkan niat gilanya itu.
“Hm, kamu gak apa-apa khan?” Tanya Pemuda itu seraya memberikan pita warna-warni Cleo yang terjatuh. “Selamat datang di dunia biru-putih. Beginilah dunia barumu...”
“Iya Bang. Makasih yach udah nolongin aku...”
Pemuda itu mengangguk dan dengan cueknya meninggalkan Cleo yang masih terpana.
“Bayu Erlangga Junior. Hm, nama yang keren seperti orangnya...” Cleo tersenyum bahagia. Tak sia-sia hari ini dia dikerjai oleh para senior kalau akhirnya bisa bertemu dengan Bayu. Hohoho...
©©©
“Dari mana aja? Aku cariin dari tadi.” Melur, sahabat akrab Cleo sejak kecil telah menunggunya di Aula.
Cleo senyam-senyum. “Ada insiden tadi. Tapi itu gak penting...” Kata Cleo saat melihat sahabatnya mulai panic. “Yang terpenting adalah... aku ditolong oleh seorang pangeran yang aduhai...”
Melur mengerutkan kening. “Sumpah! Aku gak ngerti...”
Cleo menghela nafas. “Gini lhoh fren... tadi aku diusili sama abang-abang kelas. Sempat melawan sih, tapi makin diusili. Aku pasrah aja deh! Eh rupanya datang pangeran tampan yang menolongku, namanya... Bayu Erlangga Junior. Duh... kayaknya aku jatuh cinta...”
Melur mencubit pinggang Cleo.
“Aduh!!! Apaan sich Melur? Sakit tau!”
“Habisnya kamu aneh! Anak kecil udah cinta-cintaan!”
“Lhoh... memangnya gak boleh? Melur sayang... kita ini udah eS eM Pe. Udah gede, bukan anak SD lagi...”

“Cleopatra yang manis dan imut... kita baru saja memasuki gerbang eS eM Pe. Itu berarti, kita baru beberapa hari mendapatkan ijazah SD. Jadi kita belum pantas lah untuk dekat dengan cinta...”
Cleo memonyongkan bibirnya. “Tapi kata kakakku, cinta itu fitrah manusia. Jadi siapa saja bisa jatuh cinta, termasuk anak baru tamat SD seperti kita.”
“Huh! Terserah dech apa katamu. Yang penting aku gak peduli dan gak campur.” Melur membereskan barang-barangnya. “Mau nebeng sama aku?”
“Mau dong!” Cepat-cepat Cleo membereskan barang-barangnya yang sedikit tapi lumayan acak-acakan.
©©©
Semenjak kejadian ‘romantis’ tersebut, Cleo selalu memperhatikan dan memikirkan Bayu. Setiap gerak-gerik Bayu tak pernah ada yang luput dari pantauannya. Walaupun Melur tidak mau membantunya, dengan gigih berani Cleo mencari tau tentang Bayu. Inilah efek dari cinta…
“Ya ampun Cle… aku pikir si Bayu itu ganteng dan termasuk ke top ten lah di sekolah kita. Ternyata… biasa aja dan gak terkenal, malah terkesan cupu dengan kacamata besar plus tebal-nya itu. Ada-ada saja kamu Cle.” Itulah yang dikatakan Melur saat Cleo menunjukkan photo Bayu, sang pujaan hati Cleo.
Cleo langsung mencubit bahu sahabatnya, tanda protes. “Ini khan di photo Melur… kalo aslinya dia cute koq…” Bela Cleo.
“Cle, aku kenal dengan orang ini. Beberapa kali aku bertemu dia di perpustakaan…”
“Dia lagi ngapain? Hebat khan ada cowok serajin dia…” Cleo memotong perkataan sahabatnya.
“Cleo… dia itu biasa aja, gak ada yang special. Koq bisa sih kamu suka sama orang cupu dan freak kayak si Bayu itu???”
Cleo menatap sahabatnya tak suka. “Jadi menurut kamu orang jelek, cupu dan freak itu gak pantas dicintai? Aku tau kamu cantik, tapi bagaimana denganku? Aku hanya si itik buruk rupa yang gak akan mungkin bersanding dengan si angsa berbulu emas. Aku tau diri, makanya aku Cuma jatuh cinta dengan Bayu yang menurutku sudah sangat ‘wah’…”
“Maafin aku Cle. Aku gak bermaksud seperti itu, aku hanya…”
“Gak apa-apa koq, aku maklum. Hm, aku ke kelas duluan yach…” Tanpa menunggu jawaban sahabatnya, Cleo langsung beranjak menuju kelasnya.
©©©
Hari-hari pun berganti. Tak terasa kini sudah memasuki semester 2, berarti sudah 6 bulan Cleo mengecap pendidikan di bangku SMP.
“Hai! Kamu Cleopatra khan? Juara I lomba penulisan puisi antar sekolah.” Seorang gadis cantik nan mempesona menyapa Cleo sok ramah.
Cleo tau siapa gadis yang menyapanya itu. Rachel, cewek paling cantik, paling pintar, paling tajir dan paling TOP di sekolahnya. Cleo pun tersanjung disapa oleh kakak kelasnya itu. “Iya kak.” Jawab Cleo polos.
“Kalau begitu bisa dong kamu bantu aku?”
“Bantu apa?”
“Seminggu lagi ada acara peringatan hari Kartini di alun-alun kota dan aku dipercaya untuk membacakan pusi. Kamu bisa khan buatin aku puisi? Temanya tentang Kartini. Nanti aku umumkan kalau itu puisi karya kamu.”
“Hm, gimana yach kak…”
Tangan lembut Rachel menggenggam tangan Cleo. “Please…” Wajah cantiknya memelas, membuat Cleo enggan menolak.
“Oke dech. Tapi beri aku waktu beberapa hari yach kak untuk menyelesaikannya.”
Rachel tersenyum. “Baiklah. Nanti aku hubungin kamu lagi. Thanks.” Rachel mengedipkan mata indahnya dan bergabung dengan teman-teman ‘selevelnya’ yang sudah lama menunggu.
Cleo tersenyum karena dihampiri oleh orang ‘sekelas’ Rachel. Ingin rasanya memamerkan keberuntungan itu pada Melur yang pasti sudah kesal menunggu lama di perpustakaan. Tanpa Cleo sadari, ada sepasang mata yang mengawasi dari jauh dekat dan kini pemilik mata itu menghampiri Cleo.
“Cleopatra?”
Alangkah terkejutnya Cleo mendapati orang yang sudah beberapa bulan ini dikagumi memasang senyum indah di hadapannya. “I… iya…” Jawab Cleo gugup.
“Kamu yang memberiku coklat di hari valentine khan?”
“I… iya…”
Bayu  tersenyum lega. “Aku sudah lama mencari-cari kamu, baru hari ini punya kesempatan untuk berbicara langsung.”
Wajah Cleo merona merah. “Masa sih bang? Duh… jadi malu.”
“Kamu punya acara nanti sore?”
Jantung Cleo semakin berdebar. “Hm, sebenarnya sih ada bang…”
Wajah Bayu Nampak kecewa, membuat Cleo jadi serba salah.
“Tapi kalau abang mau ikut sih gak apa-apa.”
“Memangnya kamu mau ke mana?”
“Aku mau ke beberapa toko buku untuk mencari referensi tentang Kartini. Tadi kak Rachel minta tolong dibuatkan puisi.”
Mata elang Bayu langsung berbinar. “Wah, pas banget aku juga mau ke toko buku. Berarti bisa bareng. Hm, ada nomor yang bisa aku hubungi?”
“Hah! Bang Bayu minta nomorku???”. Dalam hati Cleo bergejolak senang. “Tapi telepon rumah bang, soalnya aku belum boleh pakai ponsel…”
“Ow, no problem. Berapa nomornya?” Bayu menyodorkan sebuah buku.
Dengan gemetar, Cleo menuliskan nomor telepon rumahnya.
“Nanti sore aku telepon yach…” Kata Bayu sebelum meninggalkan Cleo yang semakin berbunga-bunga.
©©©
Siang itu sepulang sekolah, Cleo langsung menceritakan 2 hal yang membuatnya begitu senang hari ini, Melur pun mendengarkan dengan seksama.
“Koq ada yang aneh yach…” Kata Melur selesainya cerita Cleo.
Cleo mengerutkan kening. “Apa?”
“Bisa-bisanya kejadian ini berbarengan. Kemudian kenapa tiba-tiba Bang Bayu deketin kamu setelah kamu berbicara dengan Kak Rachel? Ada yang gak beres.”
Cleo mencibir. “Jangan gitu dong Lur… aku jadi down nich! Harusnya kamu menyemangati aku.”
“Yach maaf dech… aku hanya ingin membuka mata kamu agar berhati-hati. Takutnya kamu hanya dimanfaatin.”
Cleo menatap Melur tak suka. “Udah ah! Kalau bicarain Bang Bayu selalu kamu membuatku kesal. Kamu masih lama dijemput? Aku mau tidur-tiduran…”
“Kamu ngusir aku?”
“Ya gak juga, tapi aku kesal lhoh sama kamu.”
Dengan emosi Melur membenahi barang-barangnya. “Gak perlu dijemput, aku bisa pulang sendiri koq. Makasih atas tumpangannya!.” Melur meninggalkan sahabatnya dengan kesal. “Bisa-bisanya dia mengusirku hanya gara-gara si Bayu yang gak seberapa itu. Huh!”
Setelah kepulangan Melur, Cleo langsung membuka lemari pakaian dan memilih baju apa yang pantas ia gunakan untuk ‘kencan’ pertamanya. Hati Cleo berbunga-bunga seakan melayang ke langit ketujuh. Cinta oh cinta…
©©©
“Cleo…”
“Eh Bang Bayu! Dari mana Bang?”. Cleo tersenyum malu-malu saat Bayu memandangnya.
“Dari kelas, mau nyamperin kamu.”
Cleo tertawa manja.
“Mau ke mana? Kelihatannya terburu-buru?”
“Aku mau ke kelasnya Kak Rachel, mau memberikannya puisi yang aku ceritakan kemarin.”
Wajah Bayu berbinar cerah. “Aku ikut.” Bayu langsung merangkul Cleo yang semakin bergetar terbius oleh cintanya sendiri. “Oia, nanti kenalin aku yach sama Rachel…” Pinta Bayu yang langsung disanggupi oleh Cleo.
“Kak Rachel, ini puisinya udah aku buat…”
Rachel yang sedang latihan dance langsung menghampiri Cleo. “Wah… makasih ya Cle…”
“Tapi kalau gak bagus jangan marah ya kak…”
“Ya ampun Cle… udah kamu buatin aja aku udah senang banget. Thanks a lot…” Rachel memeluk Cleo. “Tapi aku gak bisa lama-lama ngobrolnya, lagi latihan untuk lomba dance besok. Maaf yach…”
“Oh gak apa-apa kak. Ya sudah, aku pamit dulu.”
Rachel melambaikan tangan gemulainya.
“Kamu gimana sich Cle? Katanya mau kenalin aku sama Rachel.” Kata Bayu ketus setelah beberapa langkah meninggalkan ruangan tempat Rachel latihan.
“Maaf bang, kak Rachel lagi sibuk jadi…”
“Harusnya kamu cari celah dong supaya Rachel berkenalan denganku! Kamu ini gimana sich?!!” Suara Bayu naik beberapa oktaf.
“Ma… maaf bang. Nanti kalau ada kesempatan, aku pasti memperkenalkan abang ke kak Rachel. Maaf banget dech…” Air mata Cleo hampir tumpah.
“Janji?”
“Janji.”
Bayu tersenyum dan merangkul Cleo. “Gitu doooong…”. Kemudian Bayu langsung meninggalkan Cleo yang banjir air mata.
©©©
Seperti biasa, apapun masalah yang dihadapi oleh Cleo pasti akan dicurahkan pada Melur yang akan selalu menampung walaupun Cleo sering membuatnya sakit hati. Mungkin inilah arti sahabat sejati yang sering diagung-agungkan orang. Namun kali ini Melur tidak mau menghakimi Cleo dengan menjelek-jelekkan Bayu. Melur hanya dapat mengelus rambut Cleo seraya mengucapkan beberapa kata yang membuat Cleo tersenyum.
“Makasih Ya Lur, kamu sahabatku yang paling mengerti dan memahamiku.” Cleo memeluk Melur.
“Apapun yang terjadi, kamu harus ingat kalau aku selalu ada dan sayang kamu…” Bisik Melur.
Cleo tersenyum.
©©©
Pagi yang cerah secerah hati Cleo. Burung, rerumputan dan hawa sejuk di pagi ini mengiringi langkah bahagia Cleo. Ada apa yach??? Baru kemarin Cleo menangis karena sang pujaan hati, tapi hari ini Ia tersenyum bahagia. Ternyata penyebabnya adalah sang pujaan hati itu sendiri. Tadi malam Bayu menghubunginya dan meminta maaf atas kata-katanya siang tadi di sekolah. Mendengar suara Bayu yang penuh rayuan gombal, Cleo yang polos pun langsung memaafkannya. Maka hari ini, Bayu berjanji akan menemani Cleo sarapan di kantin sekolah. Cleo pun tak sabar menanti kehadiran Bayu di sekolah.
“Hallo manis…” Sapa Bayu di depan gerbang sekolah. “Sudah lama menunggu?”
Cleo menggeleng. Padahal sudah hampir 30 menit dia menunggu, bahkan bel masuk kelas sudah 5 menit yang lalu berbunyi.
“Aku telat bangun, jadi telat ke sekolah.”
Cleo tersenyum hambar. “Gak apa-apa bang…”
“Masuk yuk! Nanti kita dihukum karena terlambat.”
Langkah tak semangat Cleo berjalan di samping Bayu. “Bang…”
“Nanti jadi khan kenalin aku sama Rachel?” Bayu memotong perkataan Cleo.
Dengan terpaksa Cleo mengangguk. “Aku jalan lewat sini ya bang…” Cleo memutuskan untuk memutar arah menjauhi Bayu.
Bayu mengangguk. Ia sudah tak sabar menjabat tangan seorang Rachel tanpa memperdulikan Cleo yang sudah menunggunya lama, bahkan Cleo sangat lemas karena belum sarapan.
©©©
Bayu sudah menunggu Cleo di depan kelas, padahal bel istirahat belum berbunyi.
“Hm, yang lagi kasmaran… gak sabar untuk bertemu.” Goda Melur.
Cleo tersenyum. Padahal dia ingin menjerit dan mengatakan pada Melur kalau Bayu bukan tak sabar untuk bertemu dengannya, tapi bertemu dengan Rachel. Semua ditahan oleh Cleo agar nama baik Bayu yang selama ini dia besar-besarkan tidak tercemar di mata sahabatnya.
“Udah bel tuh! Langsung tancap gas deh…” Melur menyemangati sahabatnya.
“Thanks ya Lur…” Dengan langkah beratnya Cleo menghampiri Bayu.
“Lama banget sih! Kakiku keram nungguin kamu.”
“Maaf bang.” Hanya itu yang dapat dikatakan Cleo karena ia tak ingin berdebat dengan orang yang dicintainya.
“Kita langsung ke tempat Rachel khan?”
Cleo mengangguk. Padahal ia berharap Bayu mengajaknya ke kantin untuk melunasi janjinya tadi malam, Cleo sangat lemas karena lapar.
“Nanti kamu bilang kalau puisi Kartini itu aku yang buat.”
“Iya Bang.”
“Terus kamu bilang juga kalau aku ini pandai membuat puisi. Pokoknya yang bagus-bagus dech.”
“Iya…” Kata Cleo lemah.
“Itu Rachel! Hm, cantiknya bidadariku…” Bayu menarik tangan Cleo agar berjalan lebih cepat. “Kamu samperin gih si Rachel…”
“Kak Rachel.” Panggil Cleo.
“Hai Cle! Apa kabar?” Rachel memeluk Cleo. “Makasih lhoh puisinya. Sukses! Semua orang memuji puisi yang kamu buat.”
Cleo tersenyum paksa. “Nah, yang buat puisi mau kenalan sama kakak. Sekalian mau tau tanggapan kakak tentang puisinya.”
Kening mulus Rachel berkerut. “Lhoh, bukannya puisi itu kamu yang buat?”
“Puisi itu aku yang buat…” Dengan PeDe Bayu menyabotase percakapan. “Aku Bayu, anak kelas II.” Bayu mengulurkan tangan.
Rachel menjabat tangan Bayu dengan enggan. Pengen muntah rasanya melihat wajah berminyak pemuda berkacamata ‘pantat’ botol di depannya. Kalau bukan karena puisi yang menaikkan point-nya di depan para petinggi Kota Medan, Rachel pasti enggan berjabat tangan dengan Bayu yang cupu. “Rachel. Kamu pasti sudah kenal.” Katanya angkuh.
“Siapa sich yang gak kenal seorang Rachel. Hm, bagaimana puisi yang aku buat itu?”
“Not bad. Hm, kapan-kapan boleh khan aku minta dibuatin puisi lagi? Soalnya dalam bulan ini ada 4 event yang mengharuskanku untuk membaca puisi.” Rachel langsung to the point. Niatnya sudah bulat untuk memanfatkan Bayu yang cupu dan kelihatan sangat menyukai Rachel.
Bayu tersenyum senang. “Boleh… boleh banget. Kapan mau aku buatkan puisi? Kalau perlu aku akan ajarin kamu tekniknya supaya kamu bisa membuat sendiri puisi yang kamu suka.” Tawar Bayu.
Rachel tertawa, padahal dalam hati ia mencibir. “Oh boleh juga. Kapan punya waktu? Nanti aku hubungi kamu.”
“Kapan aja boleh koq. Mau nomor ponselku?”
“Gak perlu, ntar aku Tanya Cleo. Sekarang aku mau latihan, jadi gak bisa ngomong lama-lama. Udah ya…” Rachel langsung meninggalkan Bayu yang masih terpesona.
Bayu tersenyum, tanpa sadar kalau Cleo berlinang air mata karenanya.
©©©
“Cle, tolong buatin aku puisi tentang keindahan alam yach! Besok pagi aku tunggu puisinya di kelasku.”
Waktu menunjukkan angka 11 saat Bayu menelepon dan memerintah Cleo sesuka hatinya. Ini bukan pertama kalinya Cleo terbangun dan bergadang membuat bermacam-macam puisi perintah Bayu yang pastinya akan diberikan pada Rachel. Cleo ingin menolak setiap perintah Bayu, tapi apalah daya cinta itu terbelenggu untuk menuruti semua permintaan Bayu. Cleo berharap pada suatu hari Bayu akan melihat dan betapa besar samudera cintanya itu. Padahal cinta itulah yang akan menenggelamkan Cleo di dasar samudera.
©©©
“Cle, ada yang ingin aku bicarakan.”
Cleo bertanya-tanya dalam hati karena Melur sangat serius. “Kenapa?”
“Hubungan kamu sama Bayu gimana sich?”
“Ya gak gimana-gimana, biasa aja. Kenapa?”
“Kamu gak pacaran sama dia?”
Cleo tersenyum. “Belum, tapi sebentar lagi pasti akan pacaran. Kenapa sich?” Kata Cleo pede.
“Bayu pacaran dengan Rachel.”
Bak mendengar petir di siang hari, alangkah terkejutnya Cleo mendengar pernyataan Melur. Entah apa yang Cleo rasakan, marah, malu dan kecewa bercampur aduk seperti permen nano-nano. Okelah apabila Bayu dan Rachel berpacaran, Cleo sudah menduga itu pasti akan terjadi satu saat. Tapi kenapa harus Melur yang memberitahukannya? Mengapa bukan orang lain, Rachel atau  bahkan Bayu??? Rasanya seperti ditelanjangi tatkala Melur tau yang sebenarnya. Tak terasa air mata Cleo menetes.
“Kamu gak apa-apa khan Cle?”
Cleo menghapus air matanya agar Melur tidak khuatir. Namun terlambat karena air mata itu bak waduk bocor yang menumpahkan airnya. Cleo memeluk Melur. “Kamu jangan salah sangka dulu yach Lur. Bang Bayu pacaran sama Kak Rachel itu karena aku yang comblangin, aku hanya menganggap bang Bayu itu sahabat.” Entah apa yang dipikirmakn Cleo, hanya kebohongan itu yang terucap. Padahal baru saja Cleo bilang tak lama lagi akan berpacaran dengan Bayu.
Melur memandang sahabatnya, ia tidak mengerti arah pikiran Cleo. “Kamu bohong khan Cle?”
“Kapan aku pernah bohong Lur?”
Melur menggeleng. “Semenjak kamu jatuh cinta sama Bayu, setiap kata yang keluar dari bibirmu adalah kebohongan.”
Cleo terperanjat karena aktingnya tak berhasil. “Maafkan aku Lur, aku salah karena gak pernah dengerin kamu. Aku menyesal…”
Melur memeluk Cleo erat. “Aku selalu ada dan sayang padamu Cle…”
Tangis Cleo semakin kencang.
©©©
Semenjak kejadian air mata itu, Cleo berusaha untuk melupakan Bayu dan semakin mendekatkan diri dengan sahabatnya. Dan tak terasa hari-hari pun terlewati tanpa ada nama Bayu di hidup Cleo. Hari ini murid kelas 3 akan melaksanakan perpisahan untuk beranjak ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu bangku SMA. Harusnya moment perpisahan ini adalah moment bagus bagi Cleo untuk mendapatkan Bayu kembali. Apalagi sebuah kejadian dasyat terjadi…
Saat itu Rachel yang memperoleh nilai tertinggi naik ke podium untuk mengucapkan beberapa patah kata perpisahan. Bayu menatap dan bersorak bangga untuk kekasihnya. Namun itulah terakhir kali Bayu bisa berbahagia karena beberapa menit kemudian Rachel dengan kejamnya MEMUTUSKAN Bayu di depan semua tamu acara perpisahan. Ternyata selama ini Rachel hanya memanfaatkan keluguan Bayu untuk mendongkrak popularitasnya sebagai pembaca puisi yang terkenal. Semenjak saat itu Cleo tak pernah melihat Bayu hadir di sekolah. Rupanya Bayu hijrah ke Singapore mengikuti ayahnya yang baru saja bercerai dengan sang ibu. Setelah kejadian itu, Cleo memang benar-benar menghapus Bayu dalam kata-katanya. Tapi nama itu tetap tersimpan di hati dan terlukis di diary Pink milik Cleo. Bahkan ketika bibir Cleo mengucap kata cinta pada orang lain, hati Cleo masih milik Bayu walau mungkin Bayu tak mengingatnya lagi.
©©©
Bertahun-tahun kemudian…
Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Cleo dan Melur hijrah ke Jakarta karena mereka mendapatkan beasiswa dari sebuah Universitas Negeri paling bergengsi di Ibukota Negara tersebut.
Walaupun Cleo dan Melur yang berbeda Fakultas itu sangat sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing, kedua sahabat itu selalu punya waktu untuk berkumpul dan bercerita tentang aktivitas baru sebagai seorang mahasiswi.
“Cle, kamu di mana?”
“Lagi di jalan menuju rumah tantemu.”
“Cepetan dong…”
“Iya bawel! Sabaran dikit napa? Aku tau kamu kangen tapi…”
Tut…tut…
Cleo tertawa karena sudah berhasil membuat sahabatnya kesal sampai memutuskan telepon.
©©©
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam. Siapa Lo?” Seorang pemuda membuka pintu rumah dan bertanya kasar.
Cleo tercengang. “Siapa neih anak? Gak sopan amat.” Ucapnya dalam hati. “Permisi mas, Melurnya ada?”
“Lo pikir ini toko bunga?”
“Hah?”
“Apaan? Kurang jelas apa kata-kata gue? Ini bukan toko bunga, jadi gak ada Melur.”
“Gila!” Akhirnya keluar juga makian dari bibir Cleo.
“Kalo mau ke RSJ bukan di sini.”
Cleo semakin heran, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Kamu siapa sich? Aku mau cari Melur, bukan toko bunga atau RSJ.” Intonasi suara Cleo semakin naik. Siang-siang bikin gondok!
“Gue yang punya rumah. Lo siapa? Mau minta sumbangan ya?”
“Hah??? Emang tampangku mirip pengemis apa?!!”
Pemuda itu tertawa. “Kurang lebih gitu dech…”
“Ihh! Kamu siapa sich? Pembokat baru ya makanya gak sopan sama tamu.”
“Gue yang punya rumah. Mau liat KK? Tunggu di situ biar gue ambil.” Pemuda menyebalkan itu berbalik. “Ingat tunggu di situ, jangan bergerak setengah langkah pun.”
Cleo semakin kesal dan langsung menghubungi Melur. “Kamu di mana? Ada orang gila di rumah tante kamu.”
Melur langsung menghampiri Cleo dengan khuatir. “Mana orang gilanya Cle? Kamu gak apa-apa khan?”
Pumuda yang membuat Cleo kesal itu datang dengan sehelai kartu di tangannya. “Imel, kamu ngapain dekat-dekat sama orang aneh itu?”
Dikatakan orang aneh, Cleo langsung baik darah. “Enak aja! Kamu tu yang aneh. Nyebelin banget sih!”
“Hello… jangan bertengkar dong. Mas, ini Cleo sahabatku yang sering aku ceritakan itu lhoh...” Melur menarik tangan Cleo. “Ini sepupuku, Iura. Anak bungsu tante yang kuliah di Ausie, baru pulang beberapa hari yang lalu.”
Cleo mengerutkan keningnya. “Anak tante? Gak mirip!”
“Lo juga gak seperti yang diceritakan Imel. Kata Imel Cleo itu anaknya manis, lembut dan ramah. Ternyata jauh banget dari cerita.”
“Whatever lah! Masuk yuk Lur, aku liat sepupu kamu jadi naek darah. Mana panas lagi udaranya...”
Melur tersenyum. “Ya udah, kamu naik duluan yach… aku mau ambil jus dulu.” Setelah Cleo naik ke atas, Melur mendekati sepupunya. “Kalau suka bilang aja, gak perlu pakai bertengkar.”
Iura tertawa, terdengar aneh di telinga Melur.
©©©
“Resek banget sich sepupu kamu itu.” Cleo menggerutu. “Hampir aja aku keluarin jurus silatku.” Tambahnya lagi.
Melur tertawa. “Mentang-mentang udah ‘ban’ hitam, dikit-dikit main hajar…”
“Habisnya aku kesal banget Lur. Mana panas banget, macet lagi, eh sampe di rumah ada orang stress. Btw nama kamu koq bisa berubah jadi Imel sih?”
“Itu panggilan kesayangan Mas Iura, Cuma dia yang boleh panggil Imel.”
“Ow pantesan dulu kamu mutusin si Vino gara-gara dia panggil kamu Imel…”
“Duh, jangan bahas masa lalu dech!” Melur merengut.
“Iya… iya… sorry…”
“Cuma bercanda koq!”
Langsung saja tangan Cleo mengambil bantal terdekat dan menimpuk sahabatnya itu dengan garang. Maka seperti jaman kanak-kanak bertahun-tahun silam, perang bantal pun dimulai.
©©©
Mentari mulai menampakkan ‘keangkuhannya’ menyinari bumi dengan panasnya yang garang. Debu-debu pun ikut-ikutan menampakkan kekuasaannya dengan menyelelimuti seluruh jalanan. Hm, andai bukan musim midtest, ingin rasanya Cleo berendam di kamar mandi sambil mendengarkan music mellow kesukaannya. Namun sekarang, di sini lah Cleo bukan di kamarnya  apalagi berendam di kamar mandi. Cleo melangkah keluar dari gedung Fakultasnya. Pukul 17.00, ternyata matahari masih garang dan belum hendak berganti tahta dengan rembulan. Cleo pun menghela nafas berat seraya mengipasi badannya yang gerah dan panas. Lagi panas-panasan gini, ada saja yang membuat kepalanya tambah panas. Siapa lagi kalau bukan Iura yang selalu saja mengusilinya. Kali ini Iura sengaja menekan klekson mobil sampai gelendang telinga Cleo serasa mau pecah.
“Resek banget sich ne orang!” Cleo menghampiri mobil Honda jazz berwarna hitam yang parkir tak jauh dari tempatnya duduk. “Woiiiii!!!” Cleo menggedor kaca jendela mobil tersebut.
Kaca mobil diturunkan, seraut wajah tampan tapi menyebalkan menyembul dari dalam mobil. “Hati-hati bu, mobilnya dibeli pake duit bukan pake daun.”
“Iura! Kamu… ya ampun…” Cleo kehilangan kata-kata.
“Kenapa? Lo terkesima dengan ketampanan gue?”
“Amit-amit dech! Bisa gak sih kamu itu sehari saja gak menggangguku? Kenapa di mana-mana selalu ada kamu? Jangan-jangan kamu sakit jiwa ya?  Ngikutin aku tiap hari!”
Iura tertawa terbahak-bahak. “GR! Aku ke sini mau jemput Imel koq.”
“Oia? Hari ini Imel kamu itu gak ke kampus, dia khan lagi sakit bulanan. Masa gak tau?”
Iura gelagapan. “Hah? Masa sih? Tapi tadi dia sms gue suruh jemput.”
“Bo’ong. Sebenarnya ngapain kamu ke sini?” Tanya Cleo serius.
“Ya mau jemput Imel.”
“Sumpah?”
“Iya.”
“Mana tangan kamu?”
“Untuk apa?”
“Kalo kamu bohong aku gigit.” Cleo menarik tangan Iura dengan paksa. “Jujur. Ngapain kamu ke sini?”
“Mau jemput… au! Sakit!”
Cleo tertawa, apalagi melihat cap ‘giginya’ ada di tangan Iura yang kekar. “Rasain. Makanya jangan resek sama aku.” Cleo meninggalkan Iura.
“Eh… eh… mau ke mana?” Iura menjalankan mobilnya mengikuti Cleo.
“Pulang.”
“Ke?”
“Kuburan. Ikut?” Tanya Cleo ketus.
“Temannya kunti dong.”
“Yupz!”
“Gue antar ya!”
Cleo menghentikan langkahnya, memandang Iura dengan muka manis campur masam. “Makasih…” Katanya sok manis. “Tapi aku gak butuh bantuan kamu.” Katanya masam.
Iura menelan ludah. “Udah malem lhoh, ntar kamu diapa-apain preman yang suka mangkal di ujung jalan ini.”
“Udah biasa… aduh…”
Iura langsung menghentikan mobilnya dan menghampiri Cleo yang mengaduh kesakitan. “Kenapa Cle? Ya ampun…” Iura berlari ke mobil dan mengambil seperangkat kotak P3K. “Makanya jangan suka pake sandal jepit kalau berpergian, kaki lo gak save jadinya…” Dengan telaten Iura membersihkan darah yang menyucur dari telapak kaki Cleo, kemudian Ia membubuhi obat merah dan memasang kain kassa sebagai perban. “Selesai.”
Cleo memandang Iura dengan takjub, ada secercah rasa berbeda di relung hati yang langsung ditepisnya. “Makasih ya…”
“Yupz! Jadi bagaimana? Aku antar?”
Cleo menggeleng. “Gak usah, aku bisa pulang sendiri koq.”
“Kamu yakin?”
Cleo mengangguk. “Makasih udah keluarin paku dan bersihin lukaku…” Cleo hendak berdiri namun terjatuh lagi karena ternyata kakinya masih sakit.
Iura langsung merangkul Cleo dan membawanya ke mobil. “Benar kata Imel, kamu itu keras kepala. Sepertinya lukamu itu dalam, aku takut terjadi infeksi. Lebih baik aku bawa kamu ke RS terdekat…”
Mau tak mau Cleo pun menuruti perkataan Iura, rasa sakit di kakinya memang menjalar sampai ke seleuruh tubuh. Alhasil malam itu Cleo harus menjalani operasi kecil untuk mengeluarkan karat dari paku yang menusuk telapak kakinya itu. Apalagi ternyata trombosit Cleo rendah, sehingga penyembuhan lukanya lama dan ujung-ujungnya harus opname di rumah sakit sampai luka sembuh dan tombositnya normal.
©©©
“Gimana keadaan kamu Cle?” Tanya Iura keesokan harinya. Sepertinya Iura tidak tidur karena menjaga Cleo.
“Baik.” Jawab Cleo lemah.
Melur memandangi Iura dan Cleo bergantian. “Kamu?” Tanyanya pada Iura. “Sejak kapan?”
Iura gelagapan. “Kamu? Memangnya kapan gue sebut kamu?” Tanya Iura balik.
Melur mencibir. “Ya udah kalau gak mau ngaku…”
“Cle, lo mau makan apa? Bubur atau roti?” Iura mengalihkan pembicaraan.
Melur semakin yakin kalau ada ‘sesuatu’ antara sepupu dan sahabatnya itu. “Ehem…”
“Lur, kamu gak beritahu papa dan mama khan?” Tanya Cleo.
Melur menepuk jidatnya, Ia meringis. “Maaf Cle, tadi malam aku panik banget jadi ya aku hubungin deh papa dan mama kamu.”
Cleo menarik nafas panjang, Ia pun tersenyum. “Gak apa-apa koq Lur, aku malah bersyukur karena akhirnya ada alasan yang membuat mama dan papa berkunjung ke Jakarta.”
“Dasar manja!” Ejek Iura.
Cleo langsung melotot dan bersiap-siap untuk perang. Tapi seperti biasa ada Melur yang menengahi.
©©©
3 hari kemudian…
Cleo, Melur dan Iura menjemput papa dan mama Cleo di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sebenarnya mama dan papa ingin berangkat pas malam operasinya Cleo, namun tidak ada tiket sampai 3 hari kemudian. Maka Cleo pun yang sudah sehat menjemput kedua orang tuanya di Bandara.
“Ya ela… udah buru-buru nyampe sini eh pesawatnya terlambat, 2 jam pula tuh.” Keluh Cleo saat melihat pengumuman bahwasanya pesawat yang ditumpangi kedua orangtuanya itu terlambat. “Delay lagi… delay lagi…”
“Berarti belum berangkat dong…” Kata Melur.
Cleo mengangguk sambil merengut.
“Ya udah deh, lebih baik kita jalan-jalan sekitar Bandara. Hm, kita ke terminal luar negeri aja, gue dengar si Miyabi sampai ke Indo hari ini.” Usul Iura yang aneh terpaksa diikuti Cleo dan Melur. Habisnya maksa sih…
©©©
“Lur, kayaknya ada artis dech! Rame wartawan di sana…” Cleo mengarahkan tangannya pada kerumunan orang, rata-rata membawa kamera dan recorder.
“Benar nih feeling gue, ada Miyabi. Asiiiikkkk…” Iuga langsung mendekati kerumunan wartawan. “Ada apa mas? Miyabi ya?” Tanyanya sok ramah pada seorang wartawan.
“Bukan mas, ada model terkenal Singapore pulang kampung. Aslinya sih orang Indonesia tapi terkenal di sana. Dengar-dengar sih mau merambah ke dunia acting di sini.” Jawab si wartawan panjang lebar.
Iuga manggut-manggut. “Makasih ya Mas.”
“Apaan tu rame-rame?” Tanya Cleo ke Iura.
“Model terkenal Singapore pulang kampung. Biasa lah dunia intertain kita suka nga-dopsi artis luar negeri, paling-paling tuh orang tuh gak laku lagi di negaranya. Alasan pulang kampung! Payah nih bangsa kita, Cuma modal tampang doang.” Jawab Iura panjang lebar, kesannya kok malah curhat ya? “Gue kirain si Miyabi…”
Tanpa sadar Cleo menjitak kepala Iura sampai pemuda itu mengaduh kesakitan. “Pikiran udah berpolusi, harus segera dibersihkan. Yang dipikirin cowok Cuma Miyabi. Huh!”
Iura tertawa. “Cemburu atau jealous nih?”
“Cuih… amit-amit dech!” Cleo pura-pura meludah.
“Biasa aja lagi, khan cuma tanya bukan minta.” Kata Iura.
Pipi Cleo bersemu merah, apalagi Melur menatapnya dengan tatapan yang menyelidik. Cleo pun segera meninggalkan Melur dan Iura yang mulai berbisik. Iseng-iseng Cleo mendekati kerumunan wartawan, saat itu seorang pemuda atletis, tampan namun berwajah angkuh berjalan melewatinya. Jantung Cleo langsung berdetak kencang, sampai-sampai nafasnya ketinggalan untuk mengikuti detak jantungnya. Cleo kenal bahkan sangat kenal siapa pemuda yang berjarak 1 meter darinya itu. Walaupun pemuda itu sudah berubah 180 derejat, tapi Cleo masih merasakan getaran-getaran yang sudah bertahun-tahun Ia pendam. Getaran itu kini bangkit lagi seperti mummy yang ingin mencari pasangan hidupnya. Tanpa sadar Cleo menyerukan sebuah nama yang membuat semua orang yang mencoba mewawancarai pemuda itu terkejut, termasuk  pemuda itu sendiri…
“Bayu?”
Pemuda itu menghentikan langkahnya saat mendengar ada seorang gadis menyerukan dengan lantang sebuah nama yang selama ini tak ada yang tau. Pemuda tampan itu menghampiri Cleo. “Apa aku pernah mengenalmu? Tak ada yang pernah tau nama itu.” Pemuda iu mengamati wajah Cleo dengan seksama, tak ada ruas yang terlewatkan. “Jangan-jangan kamu…”
Cleo menatap pemuda di hadapannya. “Aku bukan siapa-siapa.” Cleo berlari melewati kerumunan orang. “Kita pulang sekarang!” Katanya tegas.
Melur dan Iura mengikuti Cleo tanpa suara. Cleo pun menangis tersedu-sedu di dalam mobil.
“Kenapa Cle? Apa ada yang menyakitimu di bandara tadi? Siapa orannya? Bilang padaku.” Tanya Melur.
Isak Cleo semakin keras. “Dia memang sangat berubah, tapi aku masih mengenali mata dan suaranya. Aku sangat mengenalinya Lur…”
“Siapa Cle?”
“Bayu.”
“Apa? Kamu jumpa dia di mana?”
“Model Singapore itu…”
“Gak mungkin si Bayu yang cupu bisa jadi model terkenal. Kamu pasti salah orang Cle, pasti bukan dia.”
“Gak mungkin karena dia itu jelek dan culun? Sampai kapan kamu menilai dia seperti itu? Wajah dan penampilan bisa berubah dalam sehari Melur. Kamu lupa seperti apa jeleknya aku waktu kecil dulu? Setelah bertahun-tahun semua akan berubah, tapi hanya satu yang tidak bisa berubah… hati ini.”
Melur menatap Cleo marah. “Jadi kamu masih memendam rasa pada si bodoh itu?!! Ya ampun Cleo! Selama ini ak piker kamu sidah melupakannya, ternyata…”
“Maafin aku Lur, aku udah bohongin kamu. Jujur aku gak bisa melupakannya, bahkan semakin aku berusaha rasa itu semakin menjadi-jadi.”
Melur menggeleng-gelekkan kepalanya. “Aku pikir aku sudah merubahmu secara total, ternyata ada satu hal yang belum berubah dan itu akan berakibat fatal buatmu.”
Cleo memeluk Melur. “Maafkan aku Lur. Maaf. Maaf. Maaf. Aku terpaksa bohongin kamu agar kamu gak mengkhuatirkanku. Aku gak mau kamu memikirkan kebodohanku ini.”
 “Cleo…” Melur memegang bahu Cleo. “Tatap mataku. Sampai kapan kamu sanggup menyimpan perasaan tu? Okelah dulu kamu berpikir tidak akan pernah berjumpa lagi dengan Bayu. Nah sekarang Bayu ada di Jakarta, mungkin saja dia tinggal dekat kampus atau kontrakanmu. Lalu bila kalian bertemu, apa yang akan kamu lakukan? Parahnya lagi, apa yang kamu harapkan? Menjadi kekasihnya seperti dulu? Sama saja kamu mengulang kebodohan yang sama.”
“Aku gak tau…”
Melur memeluk Cleo. “Oh Cleo…” Melur pun ikut menangis.
Bukan hanya kedua bersahabat itu yang menangis, ada hati yang menangis dan terluka dalam diamnya.
©©©
Sementara itu di sebuah apartemen mewah di pusat Kota Jakarta…
Seorang pemuda tampan sedang mencari-cari sesuatu di kotak usangnya, sehelai photo. “Ternyata  kamu benar-benar Cleo. Kamu memang sudah berubah dari seorang gadis kecil yang polos menjadi gadis cantik dan menarik. Semua memang berubah kecuali tatapan mata penuh cinta yang selalu ku tepis.” Bayu menghela nafas berat. Ia menatap nanar sehelai photo bergambarkan dirinya yang sedang merangkul Cleo. Itu satu-satunya photo yang bisa mengingatkannya pada keluguan seorang Cleo, karena setelah photo itu dicetak Ia benar-benar meninggalkan Cleo dan larut dalam pesona Rachel yang malah mencampakkannya. “Tatapan cinta itu masih sama seperti dulu, masih untukku.” Bayu tersenyum misterius. Lalu ponselnya bordering, tak lama kemudian ponsel itu hancur berantakan. Sepertinya sang empunya marah besar pada si penelepon.
©©©
“Gue udah jumpa dengan Bayu.” Kata Iura pada Melur saat sarapan.
“Mas nyari si dia? Untuk apa?”
“Untuk Cleo. Lagipula gue gak mencarinya, dia datang sendiri ke studio. Manajemen pakai dia jadi model video klip band gue.”
“Kok kalian setuju sih? Enak banget si kunyuk itu, baru nongol udah dipake! Aku gak rela kalau dia bahagia di atas penderitaan Cleo.” Melur menyudahi sarapannya. “Di mana bisa menjumpai dia? Aku mau menghantamkan wajah sok gantengnya, terus aku ludahin sepuas-puasnya. Bertahun-tahun aku menunggu untuk membalas semua sakit hati Cleo.”
Iura menyentuh pundak Melur. “Mel, jangan berpikir akan kesakitan Cleo tapi berpikirlah akan kebahagiaan Cleo apabila bisa bersama dengan orang yang dicintainya. Cleo akan semakin sakit kalau Lo menghalangi mereka…”
“Mas, aku gak rela si Kunyuk itu nyakitin Cleo lagi!”
“Tapi bagaimana dengan Cleo Mel? Tidakkah Lo lihat bagaimana bahagianya dia saat berjumpa dengan Bayu? Air mata itu hanya sandiwara karena di dalam lubuk hatinya dia sangat ingin berjumpa dengan Bayu. Kalau gue jadi Lo, gue akan lakukan apa saja untuk membuat orang yang gue sayangi bahagia.”
“Aku tau mas, kamu benar-benar sayang sama Cleo. Yah walaupun si bodoh itu pura-pura gak merasa, tapi sebenarnya dia suka juga sama kamu tapi gara-gara kedatangan si Bayu semua jadi berantakan. Dasar Bayu biang kerok!”
“Dan gue akan lakukan apa saja untuk membuatnya bahagia, walaupun gue sakit.” Iura melanjutkan kata-katanya tanpa mempedulikan kata-kata Melur.
Melur terdiam. “Okelah kalau begitu. Yang penting Cleo bahagia aja dech…”
©©©
“Cle, lo bilang pengen maen ke studio gue khan?”
Cleo mengangguk. “Tapi Melur harus ikut.”
“Emangnya siapa yang ngajak Lo?”
Cleo merengut. Ia tertawa malu karena udah GR. “Gak ngajak yach? Habisnya Mas Iura udah janji khan mau ngajak aku dan Melur akhir bulan ini. Yach kirain mau ngajak…”
“Hm, berhubung Lo udah belajar sopan santun dengan manggil ‘mas’ maka gue berubah pikiran untuk ngajak Lo…”
“Hore!!!” Cleo langsung memeluk Iura. “Ops… sorry mas. Kelepasan…” Wajahnya bersemu merah. Entah mengapa sejak peristiwa masuk RS itu selalu ada getaran setiap kali Cleo berbicara dengan Iura. Tapi getaran itu selalu ditepisnya.
“Sering-sering aja Cle, rezeki nomplok… plok… plok…”
Semakin malu rasanya, Cleo mencubit pinggang Iura yang langsung terdiam dari tawanya. “Jadi pergi?”
“Jadi dong…” Iura menggandeng Cleo di tangan kanannya dan Melur di tangan kirinya.
©©©
“Lur, koq diem aja? Gak suka ya diajak ke studio Mas Iura? Kita khan bisa hunting cowok cakep Lur, udah lama nih gak hunting…”
Melur tersenyum, terpaksa. “Aduh Clo… kok ngebocorin rahasia sacral kita sih???”
“Sorry deh. Tapi kayaknya kegiatan kita gak jauh beda dengan mas Iura, paling bedanya mas Iura suka hunting cewek kayak Miyabi. Iya khan Mas?” Cleo mengedipkan matanya pada Iura.
“Enak aja!” Iura menjitak kepala Cleo.
©©©
Cleo, Melur dan Iura menapaki sebuah bangunan modern, di tingkat 6 lift yang mereka tumpangi berhenti.
“Welcome to the jungle…” Iura memamerkan studio manajemen band-nya dengan bangga. Namun hanya diberi cibiran oleh Cleo dan sedikit pujian oleh Melur.
“Kamu jalan duluan deh Cle, aku mau ke toilet dulu…” Melur menarik Iura untuk berbicara sejenak. “Aku khuatir Cleo belum siap bertemu si Bayu. Takutnya malah semakin sakit kalau dipertemukan secepat ini. Beberapa hari ini aku sering menyinggung tentang Bayu tapi gak ada tanggapan mas.”
“Mel, percayakan semua pada gue. Yakin deh, Cleo pasti sudah sangat siap. Gue janji Mel, semua akan baik-baik saja…”
Melur bernafas setengah lega. “Aku percaya Mas…”
©©©
“Lama banget sih! Aku nungguin dari tadi, kayak kambing congek tau…” Protes Cleo saat Melur dan Iura menghampirinya dengan senyuman sok manis.
“Mau protes atau lihat band yang lagi rekaman?”
“Lihat band dong…” Jawab Cleo cepat. Sudah lama Cleo ingin melihat prosesi rekaman, penasaran dari jaman SD dulu.
“Kalau begitu ikut gue…” Ajak Iura.
Baru beberapa langkah Clo berjalan…
“Cleo?”
“Bayu?”
Belum sempat Iura mengajak Cleo dan Melur ke studio rekaman, pertemuan yang sudah dinanti-nantikan oleh Iura dan Melur pun terjadi bak adegan sinetron.
Ada debaran aneh saat melihat tatapan Cleo ke Bayu dan sebaliknya. Iura langsung menepis semuanya demi kebaikan Cleo. “Hei kalian saling kenal? Di mana? Ya sudah deh, gue tingga dulu ya…” Iura menghampiri Melur yang bersembunyi di balik tembok. “All is well.”
Tak lama kemudian di sebuah CafĆ© masih di gedung yang sama…
“Apa kabar?” Tanya Bayu kaku.
“Baik.” Jawab Cleo singkat.
“Bertahun-tahun tak berjumpa ternyata banyak perubahan. Aku hampir tak mengenalimu, kecuali binar matamu itu.”
Cleo tertawa. “Kamu juga berubah, tak ada yang aku kenali dari wajah barumu itu.”
“Suaramu terdengar ketus. Maaf kalau aku memaksamu untuk ada di sini…”
“Biasa aja.”
“Cle, saat aku menyakitimu tak ada kata maaf yang sempat aku ungkapkan. Jujur aku gak punya keberanian untuk meminta maaf padamu, tapi sekarang aku sadar kalau semua ini kesalahanku dan aku minta maaf karena menggores luka di hatimu…” Bayu menggenggam jemari Cleo lembut.
“Aku sudah memaafkan kamu.” Cleo menarik tangannya.
“Cle, semenjak kita bertemu di bandara beberapa minggu yang lalu… aku selalu memikirkanmu dan kenangan kita dulu. Aku menyesal telah menyakitimu. Aku sungguh-sungguh menyesal Cle.”
“Aku sudah memaafkanmu.”
“Andai aku bisa membalikkan waktu, aku ingin kita seperti dulu.”
“Kembali seperti dulu? Memanfaatkanmu untuk mendekati perempuan lagi? Oh tidak.”
“Aku tau kamu marah, kamu benci dan muak padaku. Tapi tolong beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku, please…”
“Kalau mau menebus kesalahan, tebuslah pada Tuhan bukan padaku. Lagipula tidak terjadi apa-apa di antara kita yang mengharuskanmu memperbaikinya.”
Tiba-tiba Bayu menaiki kursi dan berteriak. “Cleo! Maafkan aku yang selama ini menyakitimu. Beri aku satu kesempatan untuk menebus semuanya. Aku cinta kamu Cleo! Maukah kau menjadi pacarku? Aku sangat yakin, hatimu masih tertaut padaku dan itu tergambar di tatapan matamu Cleo…”
Seketika CafƩ menjadi sangat riuh, semua orang bersorak agar Cleo menerima dan memaafkan Bayu.
“Cleo, please…” Pinta Bayu memelas.
Melihat mata Bayu yang begitu mengharapkannya, Cleo pun mengangguk. “Ya.”
“Terima kasih untuk Cle. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu. I love you…” Bayu memeluk Cleo erat.
Cleo menangis di pelukan Bayu. Tuhan mendengar do’a-do’a-nya, dream comes true. Kini cintanya bersambut, tidak bertemu sebelah tangan seperti dulu.
Bayu mencium kening Cleo. “Aku antar kamu pulang ya sayang…”
Cleo mengangguk.
“Oh, jadi ini kontrakan kamu. Hm, besok pagi aku jemput ya! Kita cari kontrakan baru yang lebih berkelas. Masa pacar seorang Bayu Erlangga tinggal di kontrakan kumuh seperti ini.”
“Tapi Bay…”
“Sudah, kamu masuk dan cepetan tidur. Pukul 7 aku jemput sekalian kita sarapan bareng. Good night honey…”
“Tapi besok aku ujian…” Belum sempat Cleo bicara, mobil Bayu sudah meninggalkan perkarangan kontrakannya. “Aku juga gak perlu kontrakan baru karena aku sudah berjanji akan tinggal bersama Melur di rumah tantenya.” Cleo memasuki rumah tanpa semangat. Tiba-tiba ada yang begitu menyesakkannya, Cleo menangis.
Mobil Bayu melaju cepat di keheningan malam. Di sebuah restoran ia berhenti. Tanpa basa basi Bayu berbicara dengan seorang wanita cantik dan sexy. “Jangan ganggu aku lagi! Aku sudah menemukan gadis yang lebih pantas darimu.”
“Oh, jadi gadis kampung itu yang menggantikanku?” Wanita itu mencibir. “Aku piker sainganku seorang artis sekelas Luna Maya, ternyata gadis cupu yang menjelma menjadi Cinderella. Dengar Bayu Erlangga Junior, seperti apa pun kau merubahnya dia tetap gadis yang sama seperti beberapa tahun lalu. Dia tidak akan pernah bisa setara denganku walaupun penampilannya berubah. Dia tetap Cleopatra yang dulu…”
“Terserah! Aku pastikan dia lebih pantas mendampingku dari pada wanita penipu sepertimu! Sekarang dengarkan aku baik-baik, jangan pernah menggangguku karena aku tidak akan terbujuk rayuanmu untuk ketiga kalinya.” Bayu meninggalkan wanita itu.
“Kau pasti akan jatuh kepelukanku, lagi dan lagi…” Kata wanita itu sangat yakin.
©©©
“Sayang, kamu cantik deh kalau pakai baju itu.” Bayu mengambil sebuah baju santai berwarna coklat.
“Gak ah Bay, terlalu sexy membuatku risih.”
“Cleo, berhenti mencari alasan ini dan itu. Coba kamu lihat sekelilingmu, semua mata tertuju padaku. Kenapa? Karena aku seorang superstar. Dan seorang superstar hanya pantas berdampingan dengan wanita cantik, smart dan berkelas. Kamu beruntung berpacaran denganku karena di luar sana bagitu banyak wanita yang ingin menjadih kekasihku, mereka lebih segalanya dari kamu. Paham?”
Untuk kesekian kalinya Cleo mengangguk. Yah, sejak resmi menjadi pacar Bayu otomatis kehidupan Cleo berubah. Mulai dari kontrakan, penampilan, dandanan, makanan bahkan pergaulan. Alhasil Cleo tidak bisa seenaknya bertemu dan bercanda dengan Melur dan Iura. Hidup Cleo seluruhnya diatur oleh Bayu. Tapi namanya cinta itu buta, Cleo pun membutakan seluruh hatinya walaupun itu sangat menyiksa.
“Sayang, kalau sedang bersamaku sebaiknya kamu tidak usah mengangkat telepon.”
“Tapi ini Mama dan Papa…”
Bayu mengambil ponsel Cleo, “Tanpa terkecuali.”
Cleo menelan ludah, pahit!
©©©
Cleo selalu tersenyum setiap mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu, di mana Bayu menggenggam tangannya mesra dan mengungkapkan semua perasaan cinta. Ternyata do’anya dikabulkan oleh Tuhan, tak sia-sia pengorbanannya selama ini. Kesabarannya membuahkan hasil, Bayu bisa dimilikinya tanpa ada Rachel yang membayang-bayangi hubungan mereka. Padahal tanpa Cleo sadari, dial ah yang sudah menjadi Rachel versi Bayu.
“Kenapa Lo senyam-senyum sendiri?” Iura melempar tissue bekasnya ke wajah Cleo. Suasana dapur rumah Iura pun jadi gaduh.
“Mas Iura! Aduh… make up-ku jadi rusak deh. Padahal sebentar lagi Bayu mau menjemput, dia pasti marah kalau aku tidak…”
Melur dan Iura saling bertatapan, lalu menatap Cleo.
“Kenapa sih pada ngeliatin aku? Ada yang aneh ya?” Cepat-cepat Cleo membuka perlengkapan make up-nya.
“Sejak kapan kamu punya ‘itu’?” Tanya Melur seakan-akan make up di tangan Cleo adalah barang yang menjijikkan.
“Biasa aja kali Lur… ini make up lhoh bukan ganja…” Kata Cleo agak tersinggung.
“Kamu aneh!”
“Aduh Melur… jangan kolot dech! Make up itu hal biasa, bukan sesuatu yang aneh.”
“Terserah deh!”
Melihat suasana yang mulai memanas, Iura berusaha mendinginkan. “Mau ke mana Cle?”
“Puncak mas, ada pemotretan untuk cover film terbarunya Bayu.”
“Yang dipotret Bayu khan? Kok kamu yang sibuk sih? Baru lima menit kamu di sini sudah mau pergi lagi!” Kata Melur ketus.
“Itulah mengapa aku malas ke sini, aku malas bertengkar denganmu.” Ucap Cleo tak kalah ketus.
“Oh iya ya aku lupa! Sekarang kamu itu pacarnya Bayu Erlangga yang sedang naik daun, pastinya lebih asyik bersama superstar dong dari pada di rumah ini bersama seorang sahabat yang dilupakan.”
“Kalau kamu memang sahabat, seharusnya kamu mendukungku dong.”
“Kalau aku mendukungmu sama saja aku mengkhianati orang tuamu. Kuliah berantakan, hubungan keluarga dan pertemanan berantakan, semua berantakan hanya gara-gara satu lelaki. Ingat kapan terakhir kamu berbicara dengan mama-papa? Ingat kapan terakhir kita hang out bareng? Ingat berapa banyak janji yang terabaikan? Bahkan ketika mas Iura masuk rumah sakit tak sekalipun kamu bertanya keadaannya, boro-boro berharap kamu datang. Lalu waktu aku wisuda, tak ada kata selamat, yah aku pun gak berharap kamu datang di tengah-tengah kesibukan menjadi baby sitter-nya si Bayu. Mungkin pun saat aku mati kamu juga gak akan datang…”
“Kamu kenapa sih? Kenapa gak pernah sekali pun mendukung hubunganku dengan Bayu? Kamu gak senang kalau aku bahagia? Katanya kamu sahabat, bulshit!”
“Yap! Aku memang sahabat bulshit. Ingat siapa yang membelamu saat disakiti Bayu? Siapa yang mengusap dan memelukku saat kamu sedih? Siapa yang menjagamu tanpa sempat terlelap saat kamu sakit? Itu orang tuamu, aku dan mas Iuga. Tapi kamu lupa karena saat ini kamu sedang bersenang-senang dengan kekasih idamanmu. Lihat saja nanti ketika kamu dicampakkan, siapa orang yang akan memungut dan membersihkanmu!”
“What?!!”
Suasana saat ini bukan hanya panas, tapi bagaikan bom atom yang akan meledak. Maka cepat-cepat Iura menengahi pertengkaran Cleo dan Melur. Iura hendak berbicara ketika klekson mobil Bayu menjerit tak sabaran, seperti biasa! Maka Iura yang awalnya dingin, kini mendidih.
 “Gak sabaran amat sih tu orang!” Rutuk Melur.
“Hello… orang itu bernama Bayu, Bayu itu pacarku lhoh…”
Melur melotot. “Seakan-akan pacarmu itu adalah Tuhan yang wajib kamu sembah!” Melur meninggalkan Cleo.
“Kenapa sih dia???” Tanya Cleo pada Iura.
“Lo yang kenapa!” Iura pun meninggalkan Cleo. “Jangan lupa tutup pintu pagar.”
Cleo mengangkat bahu seakan-akan tak ada kejadian apapun. “Hai sayang…” Cleo mencium pipi Bayu. “Pergi sekarang?”
©©©
Suasana restaurant mewah itu tampak romantis dengan lilin putih yang menghiasi setiap sudut ruangan, membuat Cleo semakin kasmaran dengan cinta yang tak henti-hentinya dicurahkan oleh Bayu.
“Suasananya romantis sekali…”
Bayu menarik kursi untuk Cleo. “Semua akan aku berikan untuk gadis sehebat kamu Cle…”
Wajah Cleo langsung merona. “Thanks sayang… hm, sebenarnya dalam rangka apa kamu mengajakku dinner seromantis ini?”
Bayu diam, memandang Cleo. “Hm…”
“Beib, jangan buat aku penasaran dong…”
Bayu tertawa, semakin membuatnya bertambah tampan. “Ini untuk kita dan… film perdanaku…”
“Apa?” Saking senangnya tak sengaja Cleo menyenggol botol anggur, warna merah anggur tersebut pun mengotori jas putih Bayu.
“Dasar cewek bego! Kampungan!” Maki Bayu.
Cleo terpana. “Ma…maaf Bay… aku gak sengaja…” Cleo berusaha menggapai jas bayu untuk dibersihkan.
Bayu menepis tangan Cleo asar. “Ternyata semua yang dikatakan Rachel itu benar! Kamu gak pantas buatku. Kamu Cuma cewek bodoh yang bisanya membuatku malu! Shitttt…” Bayu menepis tangan Cleo. “Kamu tau berapa harga jas ini? Gaji kamu selama seumur hidup sebagai editor di majalah murahan itu gak akan bisa mengganti jas mahal ini! Kamu benar-benar tidak bisa menjadi seperti Rachel!”
Air mata Cleo menetes. Dari semua kata-kata kasar Bayu, hanya satu kata yang begitu menyayat hatinya. “Rachel? Kamu masih berhubungan dengan Rachel?”
Bayu tertawa. “Dua tahun yang lalu aku kembali  memacari Rachel, kemudian beberapabulan yang lalu kami putus dan aku bertemu denganmu. Kamu pasti sangat tau betapa aku terobsesi pada Rachel, makanya aku mengubahmu sepertinya. Tidak sadar? Dasar bodoh! Okelah dari segi kecantikan kamu gak kalah dari Rachel, tapi kamu tetap seorang Cleo yang bodoh dan kampungan. Sampai kapan pun kamu gak akan mungkin bisa menyaingi seorang model papan atas seperti Rachel. Dasar freak! Bodoh! Ternyata hanya Rachel yang pantas bersanding denganku, bukan cewek bodoh seperti kamu!”
“Jadi kamu menjadikanku sebagai tumbal untuk kesekian kalinya?”
“Kalau peluang itu memang ada, why not??? Semua orang juga melihat cintamu padaku begitu luas, seluas dunia mungkin…”
Cleo mengambil anggur dan mencampakkannya di wajah Bayu.
“Hey! Apa-apaan ini?!!” Bayu membersihkan wajahnya, namun noda di jas-nya tidak dapat terelakkan.
“Kamu lihat noda di wajah dan jas mahalmu? Dalam hitungan detik, noda anggur di wajahmu dapat dibersihkan. Tapi noda di jas-mu tidak akan pernah bisa dibersihkan dengan apapun. Seperti itulah dirimu. Dua atau tiga tahun lagi wajah dan penampilanmu akan berunah, tapi hatimu tetap kerdil seperti beberapa tahun yang lalu. Mengapa? Karena ternyata kamu itu seorang BANCI!!! Kamu BANCI yang hanya bisa menutupi wajah burukmu dengan tebalnya Make Up. Kamu gak lebih dari seorang pemuda bodoh yang bisanya Cuma mencari tameng untuk cinta yang berkali-kali mencampakkanmu! Terima kasih untuk semuanya. Suatu hari kamu akan menyesal untuk apa yang sudah kamu perbuat padaku, takkan ada maaf dan kesempatan lagi!” Cleo berlari keluar restaurant. Saat melihat mobil mewah Bayu, Cleo langsung mengambil batu dan memecahkan kacanya. Cleo tersenyum sinis melihat mobil kesayangan Bayu hancur di tangannya, namun rasanya hati ini lebih hancur.
©©©
Cleo memandang hamparan perkebunan teh yang ada di hadapannya. Udara sejuk sebuah perkampungan kecil di Kota Bandung mampu membuat rasa sakit di hatinya sedikit berkurang. Ketika mendapati semua orang di kampung itu menerimanya, Cleo sejenak melupakan semua kejadian terbodoh yang pernah dia alami. Mungkin di sinilah tempat yang tepat bagi Cleo untuk memulai hidup baru bersama orang-orang yang baru pula. Setidaknya rasa malu terhadap orangtua dan para sahabat bisa dia redam di tempat ini sampai Cleo siap untuk meminta maaf.
“Mbak Cleo sudah lama di sini?” Tanya seorang gadis kecil kepada Cleo.
Cleo tersenyum hangat. “Belum kok. Hm, belajar apa kita hari ini?”
“Matematika mbak…” Jawab anak-anak lain serempak.
            Cleo tersenyum tulus menghantar anak-anak kurang mampu itu ke jenjang ilmu pengetahuan…
            “Oia, mbak Cleo udah punya pacar?” Pertanyaan lugu seorang bocah kecil menampar hati Cleo.
Cleo terdiam. “Hm, kenapa sayang?”
“Kalau mbak Cleo yang cantik belum punya pacar, aku mau kok jadi pacar mbak Cleo…” Kata si bocah itu tanpa ragu.
Cleo tertawa. “Ada-ada saja… mbak terlalu tua untuk kamu…”
Bocah itu menunduk. “Tapi aku suka banget sama Mbak Cleo, habisnya Mbak Cleo cantik dan baik sih…”
Cleo memeluk si bocah kecil, sudut matanya berair. Tiba-tiba Cleo teringat akan seseorang yang sangat pantas dijadikannya pacar, bahkan menjadi pendamping hidupnya. Pemuda itulah cinta yang selama ini dia nantikan, walaupun cinta itu tak pernah meminta balasan tetapi Cleo yakin kalau cinta itu teramat tulus. Cleo jadi ingin cepat-cepat menemui cintanya itu. Cleo ingin kembali dan menjalani aktivitas seperti dulu, tentunya bersama cinta dan sahabat tersayang…
©©©
Jakarta, tiga bulan kemudian…
“Lur, di mana Cleo?” Tanya Bayu.
Melur menatap Bayu tajam. “Untuk apa mencari Cleo? Belum puas menyakitinya berulang kali? Dasar pengecut!”
 “Aku memang pengecut! Aku bodoh karena menyakiti gadis sebaik Cleo, aku menyesal Lur… izinkan aku bertemu Cleo dan menebus kesalahanku. Aku janji akan membahagiakan Cleo seumur hidupku. Tolong pertemukan aku dengan Cleo… aku sangat mencintainya…” Bayu memelas.
Melur tertawa. “Bagaimana rasanya dicampakkan berulang-ulang oleh orang yang sama? Sakit bukan? Sakitnya di bagian mana? Seperti apa rasa sakitnya?” Ejek Melur. “Dan lagi-lagi kamu mencari Cleo untuk mengobati rasa sakit itu. Lalu ketika Cleo kamu campakkan, dia mencari obat di mana? Kamu tau Bayu Erlangga Junior, semenjak kamu membuangnya seperti sehelai tissue bekas, Cleo menghilang. Kami tidak tau bagaimana keadaannya, masih hidupkah? Sekarat atau sudah mati. Tak ada yang tau. Gara-gara siapa? Gara-gara pengecut sepertimu! Pergilah kau! Aku muak melihatmu! Dari dulu aku ingin mencaci maki dan memukulmu, tapi semua sia-sia karena Cleo tidak ada di sini. Pergi!!!” Melur mendorong Bayu sekuat tenaga. Di saat genting seperti ini, Iura tidak ada di tempat.
“Melur, biarkan aku bertemu Cleo. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Please…” Bayu mengemis sedikit kesempatan dan kebaikan hati Melur.
“Kalaupun Cleo mau menerimamu, aku orang pertama yang akan menghalangi kalian! Pergi dari hadapanku sekarang juga atau aku teriak maling!” Ancam Melur, tapi Bayu tak sedikit pun begeming apalagi takut.
“Maling!!!” Teriak Melur berulang kali.
Entah berapa belas orang menghampiri Melur, tanpa bertanya mereka membawa Bayu ke tengah jalan. Ternyata ada belasan warga yang sudah menunggu, selanjutnya Melur tak tau apa yang terjadi. Dan Melur cukup lega karena berita di infotaiment, Bayu masih hidup beberapa tulangnya patah. “Say goodbye untuk karirmu Bayu!” Melur tersenyum sinis. “Cleo, entah apa reaksimu bila melihat berita ini. Semoga sakit hatimu sedikit terobati. Pulanglah Cleo… kami semua merindukanmu…”
 “Melur…”
“Lihatlah Cle bagaimana aku merindukanmu sampai-sampai aku berkhayal kau sedang memanggilku…” Melur mengusap air matanya.
“Melurrrrr ini aku, Cleo…”
Melur terperanjat kaget saat berbalik dan mendapati sosok cantik Cleo tersenyum di hadapannya. “Beneran kamu Cle?”
Cleo mengangguk.
“Mas Iura! Cleo pulang!” Jerit Melur. “Alhamdulillah kamu pulang Cle…” Melur memeluk sahabatnya erat seakan takut Cleo menghilang lagi.
“Lur aku gak bisa nafas…” Cleo meringis.
Melur tertawa. “Jangan pernah lari lagi dari masalah ya Cle…”
Cleo mengangguk. Dan mereka pun berpelukan erat.
Tak jauh dari situ, Iura menatap Cleo dan Melur dengan senyuman di bibir. Iura yakin pada suatu hari Cleo akan kembali dan tersadar bahwa cintanya-lah yang pantas disandang, karena Ia mencintai Cleo tanpa pamrih. Tanpa harus membuat Cleo menjadi yang Ia mau, tanpa harus membuat Cleo mencintainya dan tanpa harus membuat air mata di pipi Cleo. Karena cinta itu begitu indah kalau harus dinodai oleh pengkhianatan seperti yang ditawarkan oleh Bayu.
Cleo pun sadar bukan Bayu yang dia cintai. Bayu hanya obsesinya terhadap seorang pemuda yang menjadi penolongnya bertahun-tahun lalu. Selama ini Cleo tidak pernah sekalipun merasa nyaman bersama Bayu karena Cleo tidak pernah bisa menjadi dirinya sendiri, obsesi Bayu pada Rachel membuatnya merubah Cleo seperti Rachel. Wajah, penampilan dan sifat memang bisa sekejab saja dirubah, namun jati diri dan hati seseorang takkan mudah dirubah. Seperti apapun usaha itu, Cleo tetap lah Cleo dan tidak akan bisa menjadi seorang Rachel.
Cleo menghela nafas, menghempaskan semua beban dan sakit hatinya. “Bye… bye Bayu…” Ia tersenyum manis pada Iura. Amat sangat manis!
©©©

Tidak ada komentar: