Cleo terpana, terpaku dan terkesima
melihat pemuda yang baru saja menolongnya dari ulah nakal para Senior kelas 2.
Sebenarnya Cleo yang rada-rada tomboy gak jelas itu hampir saja melawan keempat
seniornya yang gak banget itu, tapi berhubung hari ini adalah hari terakhirnya
OSPEK di sekolah barunya, Cleo pun mengurungkan niat gilanya itu.
“Hm,
kamu gak apa-apa khan?” Tanya Pemuda itu seraya memberikan pita warna-warni
Cleo yang terjatuh. “Selamat datang di dunia biru-putih. Beginilah dunia
barumu...”
“Iya
Bang. Makasih yach udah nolongin aku...”
Pemuda
itu mengangguk dan dengan cueknya meninggalkan Cleo yang masih terpana.
“Bayu
Erlangga Junior. Hm, nama yang keren seperti orangnya...” Cleo tersenyum
bahagia. Tak sia-sia hari ini dia dikerjai oleh para senior kalau akhirnya bisa
bertemu dengan Bayu. Hohoho...
©©©
“Dari
mana aja? Aku cariin dari tadi.” Melur, sahabat akrab Cleo sejak kecil telah
menunggunya di Aula.
Cleo
senyam-senyum. “Ada insiden tadi. Tapi itu gak penting...” Kata Cleo saat
melihat sahabatnya mulai panic. “Yang terpenting adalah... aku ditolong oleh
seorang pangeran yang aduhai...”
Melur
mengerutkan kening. “Sumpah! Aku gak ngerti...”
Cleo
menghela nafas. “Gini lhoh fren... tadi aku diusili sama abang-abang kelas.
Sempat melawan sih, tapi makin diusili. Aku pasrah aja deh! Eh rupanya datang
pangeran tampan yang menolongku, namanya... Bayu Erlangga Junior. Duh...
kayaknya aku jatuh cinta...”
Melur
mencubit pinggang Cleo.
“Aduh!!!
Apaan sich Melur? Sakit tau!”
“Habisnya
kamu aneh! Anak kecil udah cinta-cintaan!”
“Lhoh...
memangnya gak boleh? Melur sayang... kita ini udah eS eM Pe. Udah gede, bukan
anak SD lagi...”
“Cleopatra
yang manis dan imut... kita baru saja memasuki gerbang eS eM Pe. Itu berarti,
kita baru beberapa hari mendapatkan ijazah SD. Jadi kita belum pantas lah untuk
dekat dengan cinta...”
Cleo
memonyongkan bibirnya. “Tapi kata kakakku, cinta itu fitrah manusia. Jadi siapa
saja bisa jatuh cinta, termasuk anak baru tamat SD seperti kita.”
“Huh!
Terserah dech apa katamu. Yang penting aku gak peduli dan gak campur.” Melur
membereskan barang-barangnya. “Mau nebeng sama aku?”
“Mau
dong!” Cepat-cepat Cleo membereskan barang-barangnya yang sedikit tapi lumayan
acak-acakan.
©©©
Semenjak
kejadian ‘romantis’ tersebut, Cleo selalu memperhatikan dan memikirkan Bayu.
Setiap gerak-gerik Bayu tak pernah ada yang luput dari pantauannya. Walaupun
Melur tidak mau membantunya, dengan gigih berani Cleo mencari tau tentang Bayu.
Inilah efek dari cinta…
“Ya
ampun Cle… aku pikir si Bayu itu ganteng dan termasuk ke top ten lah di sekolah
kita. Ternyata… biasa aja dan gak terkenal, malah terkesan cupu dengan kacamata
besar plus tebal-nya itu. Ada-ada saja kamu Cle.” Itulah yang dikatakan Melur
saat Cleo menunjukkan photo Bayu, sang pujaan hati Cleo.
Cleo
langsung mencubit bahu sahabatnya, tanda protes. “Ini khan di photo Melur… kalo
aslinya dia cute koq…” Bela Cleo.
“Cle,
aku kenal dengan orang ini. Beberapa kali aku bertemu dia di perpustakaan…”
“Dia
lagi ngapain? Hebat khan ada cowok serajin dia…” Cleo memotong perkataan
sahabatnya.
“Cleo…
dia itu biasa aja, gak ada yang special. Koq bisa sih kamu suka sama orang cupu
dan freak kayak si Bayu itu???”
Cleo
menatap sahabatnya tak suka. “Jadi menurut kamu orang jelek, cupu dan freak itu
gak pantas dicintai? Aku tau kamu cantik, tapi bagaimana denganku? Aku hanya si
itik buruk rupa yang gak akan mungkin bersanding dengan si angsa berbulu emas.
Aku tau diri, makanya aku Cuma jatuh cinta dengan Bayu yang menurutku sudah
sangat ‘wah’…”
“Maafin
aku Cle. Aku gak bermaksud seperti itu, aku hanya…”
“Gak
apa-apa koq, aku maklum. Hm, aku ke kelas duluan yach…” Tanpa menunggu jawaban
sahabatnya, Cleo langsung beranjak menuju kelasnya.
©©©
Hari-hari
pun berganti. Tak terasa kini sudah memasuki semester 2, berarti sudah 6 bulan
Cleo mengecap pendidikan di bangku SMP.
“Hai!
Kamu Cleopatra khan? Juara I lomba penulisan puisi antar sekolah.” Seorang
gadis cantik nan mempesona menyapa Cleo sok ramah.
Cleo
tau siapa gadis yang menyapanya itu. Rachel, cewek paling cantik, paling
pintar, paling tajir dan paling TOP di sekolahnya. Cleo pun tersanjung disapa
oleh kakak kelasnya itu. “Iya kak.” Jawab Cleo polos.
“Kalau
begitu bisa dong kamu bantu aku?”
“Bantu
apa?”
“Seminggu
lagi ada acara peringatan hari Kartini di alun-alun kota dan aku dipercaya
untuk membacakan pusi. Kamu bisa khan buatin aku puisi? Temanya tentang
Kartini. Nanti aku umumkan kalau itu puisi karya kamu.”
“Hm,
gimana yach kak…”
Tangan
lembut Rachel menggenggam tangan Cleo. “Please…” Wajah cantiknya memelas,
membuat Cleo enggan menolak.
“Oke
dech. Tapi beri aku waktu beberapa hari yach kak untuk menyelesaikannya.”
Rachel
tersenyum. “Baiklah. Nanti aku hubungin kamu lagi. Thanks.” Rachel mengedipkan
mata indahnya dan bergabung dengan teman-teman ‘selevelnya’ yang sudah lama
menunggu.
Cleo
tersenyum karena dihampiri oleh orang ‘sekelas’ Rachel. Ingin rasanya
memamerkan keberuntungan itu pada Melur yang pasti sudah kesal menunggu lama di
perpustakaan. Tanpa Cleo sadari, ada sepasang mata yang mengawasi dari jauh
dekat dan kini pemilik mata itu menghampiri Cleo.
“Cleopatra?”
Alangkah
terkejutnya Cleo mendapati orang yang sudah beberapa bulan ini dikagumi
memasang senyum indah di hadapannya. “I… iya…” Jawab Cleo gugup.
“Kamu
yang memberiku coklat di hari valentine khan?”
“I…
iya…”
Bayu tersenyum lega. “Aku sudah lama mencari-cari
kamu, baru hari ini punya kesempatan untuk berbicara langsung.”
Wajah
Cleo merona merah. “Masa sih bang? Duh… jadi malu.”
“Kamu
punya acara nanti sore?”
Jantung
Cleo semakin berdebar. “Hm, sebenarnya sih ada bang…”
Wajah
Bayu Nampak kecewa, membuat Cleo jadi serba salah.
“Tapi
kalau abang mau ikut sih gak apa-apa.”
“Memangnya
kamu mau ke mana?”
“Aku
mau ke beberapa toko buku untuk mencari referensi tentang Kartini. Tadi kak
Rachel minta tolong dibuatkan puisi.”
Mata
elang Bayu langsung berbinar. “Wah, pas banget aku juga mau ke toko buku.
Berarti bisa bareng. Hm, ada nomor yang bisa aku hubungi?”
“Hah!
Bang Bayu minta nomorku???”. Dalam hati Cleo bergejolak senang. “Tapi telepon
rumah bang, soalnya aku belum boleh pakai ponsel…”
“Ow,
no problem. Berapa nomornya?” Bayu menyodorkan sebuah buku.
Dengan
gemetar, Cleo menuliskan nomor telepon rumahnya.
“Nanti
sore aku telepon yach…” Kata Bayu sebelum meninggalkan Cleo yang semakin
berbunga-bunga.
©©©
Siang
itu sepulang sekolah, Cleo langsung menceritakan 2 hal yang membuatnya begitu
senang hari ini, Melur pun mendengarkan dengan seksama.
“Koq
ada yang aneh yach…” Kata Melur selesainya cerita Cleo.
Cleo
mengerutkan kening. “Apa?”
“Bisa-bisanya
kejadian ini berbarengan. Kemudian kenapa tiba-tiba Bang Bayu deketin kamu
setelah kamu berbicara dengan Kak Rachel? Ada yang gak beres.”
Cleo
mencibir. “Jangan gitu dong Lur… aku jadi down nich! Harusnya kamu menyemangati
aku.”
“Yach
maaf dech… aku hanya ingin membuka mata kamu agar berhati-hati. Takutnya kamu
hanya dimanfaatin.”
Cleo
menatap Melur tak suka. “Udah ah! Kalau bicarain Bang Bayu selalu kamu
membuatku kesal. Kamu masih lama dijemput? Aku mau tidur-tiduran…”
“Kamu
ngusir aku?”
“Ya
gak juga, tapi aku kesal lhoh sama kamu.”
Dengan
emosi Melur membenahi barang-barangnya. “Gak perlu dijemput, aku bisa pulang
sendiri koq. Makasih atas tumpangannya!.” Melur meninggalkan sahabatnya dengan
kesal. “Bisa-bisanya dia mengusirku hanya gara-gara si Bayu yang gak seberapa
itu. Huh!”
Setelah
kepulangan Melur, Cleo langsung membuka lemari pakaian dan memilih baju apa
yang pantas ia gunakan untuk ‘kencan’ pertamanya. Hati Cleo berbunga-bunga
seakan melayang ke langit ketujuh. Cinta oh cinta…
©©©
“Cleo…”
“Eh
Bang Bayu! Dari mana Bang?”. Cleo tersenyum malu-malu saat Bayu memandangnya.
“Dari
kelas, mau nyamperin kamu.”
Cleo
tertawa manja.
“Mau
ke mana? Kelihatannya terburu-buru?”
“Aku
mau ke kelasnya Kak Rachel, mau memberikannya puisi yang aku ceritakan kemarin.”
Wajah
Bayu berbinar cerah. “Aku ikut.” Bayu langsung merangkul Cleo yang semakin
bergetar terbius oleh cintanya sendiri. “Oia, nanti kenalin aku yach sama
Rachel…” Pinta Bayu yang langsung disanggupi oleh Cleo.
“Kak
Rachel, ini puisinya udah aku buat…”
Rachel
yang sedang latihan dance langsung menghampiri Cleo. “Wah… makasih ya Cle…”
“Tapi
kalau gak bagus jangan marah ya kak…”
“Ya
ampun Cle… udah kamu buatin aja aku udah senang banget. Thanks a lot…” Rachel
memeluk Cleo. “Tapi aku gak bisa lama-lama ngobrolnya, lagi latihan untuk lomba
dance besok. Maaf yach…”
“Oh
gak apa-apa kak. Ya sudah, aku pamit dulu.”
Rachel
melambaikan tangan gemulainya.
“Kamu
gimana sich Cle? Katanya mau kenalin aku sama Rachel.” Kata Bayu ketus setelah
beberapa langkah meninggalkan ruangan tempat Rachel latihan.
“Maaf
bang, kak Rachel lagi sibuk jadi…”
“Harusnya
kamu cari celah dong supaya Rachel berkenalan denganku! Kamu ini gimana
sich?!!” Suara Bayu naik beberapa oktaf.
“Ma…
maaf bang. Nanti kalau ada kesempatan, aku pasti memperkenalkan abang ke kak
Rachel. Maaf banget dech…” Air mata Cleo hampir tumpah.
“Janji?”
“Janji.”
Bayu
tersenyum dan merangkul Cleo. “Gitu doooong…”. Kemudian Bayu langsung
meninggalkan Cleo yang banjir air mata.
©©©
Seperti
biasa, apapun masalah yang dihadapi oleh Cleo pasti akan dicurahkan pada Melur
yang akan selalu menampung walaupun Cleo sering membuatnya sakit hati. Mungkin
inilah arti sahabat sejati yang sering diagung-agungkan orang. Namun kali ini
Melur tidak mau menghakimi Cleo dengan menjelek-jelekkan Bayu. Melur hanya
dapat mengelus rambut Cleo seraya mengucapkan beberapa kata yang membuat Cleo
tersenyum.
“Makasih
Ya Lur, kamu sahabatku yang paling mengerti dan memahamiku.” Cleo memeluk
Melur.
“Apapun
yang terjadi, kamu harus ingat kalau aku selalu ada dan sayang kamu…” Bisik
Melur.
Cleo
tersenyum.
©©©
Pagi
yang cerah secerah hati Cleo. Burung, rerumputan dan hawa sejuk di pagi ini
mengiringi langkah bahagia Cleo. Ada apa yach??? Baru kemarin Cleo menangis
karena sang pujaan hati, tapi hari ini Ia tersenyum bahagia. Ternyata
penyebabnya adalah sang pujaan hati itu sendiri. Tadi malam Bayu menghubunginya
dan meminta maaf atas kata-katanya siang tadi di sekolah. Mendengar suara Bayu
yang penuh rayuan gombal, Cleo yang polos pun langsung memaafkannya. Maka hari
ini, Bayu berjanji akan menemani Cleo sarapan di kantin sekolah. Cleo pun tak
sabar menanti kehadiran Bayu di sekolah.
“Hallo
manis…” Sapa Bayu di depan gerbang sekolah. “Sudah lama menunggu?”
Cleo
menggeleng. Padahal sudah hampir 30 menit dia menunggu, bahkan bel masuk kelas
sudah 5 menit yang lalu berbunyi.
“Aku
telat bangun, jadi telat ke sekolah.”
Cleo
tersenyum hambar. “Gak apa-apa bang…”
“Masuk
yuk! Nanti kita dihukum karena terlambat.”
Langkah
tak semangat Cleo berjalan di samping Bayu. “Bang…”
“Nanti
jadi khan kenalin aku sama Rachel?” Bayu memotong perkataan Cleo.
Dengan
terpaksa Cleo mengangguk. “Aku jalan lewat sini ya bang…” Cleo memutuskan untuk
memutar arah menjauhi Bayu.
Bayu
mengangguk. Ia sudah tak sabar menjabat tangan seorang Rachel tanpa
memperdulikan Cleo yang sudah menunggunya lama, bahkan Cleo sangat lemas karena
belum sarapan.
©©©
Bayu
sudah menunggu Cleo di depan kelas, padahal bel istirahat belum berbunyi.
“Hm,
yang lagi kasmaran… gak sabar untuk bertemu.” Goda Melur.
Cleo
tersenyum. Padahal dia ingin menjerit dan mengatakan pada Melur kalau Bayu
bukan tak sabar untuk bertemu dengannya, tapi bertemu dengan Rachel. Semua
ditahan oleh Cleo agar nama baik Bayu yang selama ini dia besar-besarkan tidak
tercemar di mata sahabatnya.
“Udah
bel tuh! Langsung tancap gas deh…” Melur menyemangati sahabatnya.
“Thanks
ya Lur…” Dengan langkah beratnya Cleo menghampiri Bayu.
“Lama
banget sih! Kakiku keram nungguin kamu.”
“Maaf
bang.” Hanya itu yang dapat dikatakan Cleo karena ia tak ingin berdebat dengan
orang yang dicintainya.
“Kita
langsung ke tempat Rachel khan?”
Cleo
mengangguk. Padahal ia berharap Bayu mengajaknya ke kantin untuk melunasi
janjinya tadi malam, Cleo sangat lemas karena lapar.
“Nanti
kamu bilang kalau puisi Kartini itu aku yang buat.”
“Iya
Bang.”
“Terus
kamu bilang juga kalau aku ini pandai membuat puisi. Pokoknya yang bagus-bagus
dech.”
“Iya…”
Kata Cleo lemah.
“Itu
Rachel! Hm, cantiknya bidadariku…” Bayu menarik tangan Cleo agar berjalan lebih
cepat. “Kamu samperin gih si Rachel…”
“Kak
Rachel.” Panggil Cleo.
“Hai
Cle! Apa kabar?” Rachel memeluk Cleo. “Makasih lhoh puisinya. Sukses! Semua
orang memuji puisi yang kamu buat.”
Cleo
tersenyum paksa. “Nah, yang buat puisi mau kenalan sama kakak. Sekalian mau tau
tanggapan kakak tentang puisinya.”
Kening
mulus Rachel berkerut. “Lhoh, bukannya puisi itu kamu yang buat?”
“Puisi
itu aku yang buat…” Dengan PeDe Bayu menyabotase percakapan. “Aku Bayu, anak
kelas II.” Bayu mengulurkan tangan.
Rachel
menjabat tangan Bayu dengan enggan. Pengen muntah rasanya melihat wajah
berminyak pemuda berkacamata ‘pantat’ botol di depannya. Kalau bukan karena
puisi yang menaikkan point-nya di depan para petinggi Kota Medan, Rachel pasti
enggan berjabat tangan dengan Bayu yang cupu. “Rachel. Kamu pasti sudah kenal.”
Katanya angkuh.
“Siapa
sich yang gak kenal seorang Rachel. Hm, bagaimana puisi yang aku buat itu?”
“Not
bad. Hm, kapan-kapan boleh khan aku minta dibuatin puisi lagi? Soalnya dalam
bulan ini ada 4 event yang mengharuskanku untuk membaca puisi.” Rachel langsung
to the point. Niatnya sudah bulat untuk memanfatkan Bayu yang cupu dan
kelihatan sangat menyukai Rachel.
Bayu
tersenyum senang. “Boleh… boleh banget. Kapan mau aku buatkan puisi? Kalau
perlu aku akan ajarin kamu tekniknya supaya kamu bisa membuat sendiri puisi
yang kamu suka.” Tawar Bayu.
Rachel
tertawa, padahal dalam hati ia mencibir. “Oh boleh juga. Kapan punya waktu?
Nanti aku hubungi kamu.”
“Kapan
aja boleh koq. Mau nomor ponselku?”
“Gak
perlu, ntar aku Tanya Cleo. Sekarang aku mau latihan, jadi gak bisa ngomong
lama-lama. Udah ya…” Rachel langsung meninggalkan Bayu yang masih terpesona.
Bayu
tersenyum, tanpa sadar kalau Cleo berlinang air mata karenanya.
©©©
“Cle,
tolong buatin aku puisi tentang keindahan alam yach! Besok pagi aku tunggu
puisinya di kelasku.”
Waktu
menunjukkan angka 11 saat Bayu menelepon dan memerintah Cleo sesuka hatinya.
Ini bukan pertama kalinya Cleo terbangun dan bergadang membuat bermacam-macam
puisi perintah Bayu yang pastinya akan diberikan pada Rachel. Cleo ingin
menolak setiap perintah Bayu, tapi apalah daya cinta itu terbelenggu untuk
menuruti semua permintaan Bayu. Cleo berharap pada suatu hari Bayu akan melihat
dan betapa besar samudera cintanya itu. Padahal cinta itulah yang akan
menenggelamkan Cleo di dasar samudera.
©©©
“Cle,
ada yang ingin aku bicarakan.”
Cleo
bertanya-tanya dalam hati karena Melur sangat serius. “Kenapa?”
“Hubungan
kamu sama Bayu gimana sich?”
“Ya
gak gimana-gimana, biasa aja. Kenapa?”
“Kamu
gak pacaran sama dia?”
Cleo
tersenyum. “Belum, tapi sebentar lagi pasti akan pacaran. Kenapa sich?” Kata
Cleo pede.
“Bayu
pacaran dengan Rachel.”
Bak
mendengar petir di siang hari, alangkah terkejutnya Cleo mendengar pernyataan
Melur. Entah apa yang Cleo rasakan, marah, malu dan kecewa bercampur aduk
seperti permen nano-nano. Okelah apabila Bayu dan Rachel berpacaran, Cleo sudah
menduga itu pasti akan terjadi satu saat. Tapi kenapa harus Melur yang
memberitahukannya? Mengapa bukan orang lain, Rachel atau bahkan Bayu??? Rasanya seperti ditelanjangi
tatkala Melur tau yang sebenarnya. Tak terasa air mata Cleo menetes.
“Kamu
gak apa-apa khan Cle?”
Cleo
menghapus air matanya agar Melur tidak khuatir. Namun terlambat karena air mata
itu bak waduk bocor yang menumpahkan airnya. Cleo memeluk Melur. “Kamu jangan
salah sangka dulu yach Lur. Bang Bayu pacaran sama Kak Rachel itu karena aku
yang comblangin, aku hanya menganggap bang Bayu itu sahabat.” Entah apa yang
dipikirmakn Cleo, hanya kebohongan itu yang terucap. Padahal baru saja Cleo
bilang tak lama lagi akan berpacaran dengan Bayu.
Melur
memandang sahabatnya, ia tidak mengerti arah pikiran Cleo. “Kamu bohong khan
Cle?”
“Kapan
aku pernah bohong Lur?”
Melur
menggeleng. “Semenjak kamu jatuh cinta sama Bayu, setiap kata yang keluar dari
bibirmu adalah kebohongan.”
Cleo
terperanjat karena aktingnya tak berhasil. “Maafkan aku Lur, aku salah karena
gak pernah dengerin kamu. Aku menyesal…”
Melur
memeluk Cleo erat. “Aku selalu ada dan sayang padamu Cle…”
Tangis
Cleo semakin kencang.
©©©
Semenjak
kejadian air mata itu, Cleo berusaha untuk melupakan Bayu dan semakin
mendekatkan diri dengan sahabatnya. Dan tak terasa hari-hari pun terlewati
tanpa ada nama Bayu di hidup Cleo. Hari ini murid kelas 3 akan melaksanakan
perpisahan untuk beranjak ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu bangku SMA.
Harusnya moment perpisahan ini adalah moment bagus bagi Cleo untuk mendapatkan
Bayu kembali. Apalagi sebuah kejadian dasyat terjadi…
Saat
itu Rachel yang memperoleh nilai tertinggi naik ke podium untuk mengucapkan
beberapa patah kata perpisahan. Bayu menatap dan bersorak bangga untuk
kekasihnya. Namun itulah terakhir kali Bayu bisa berbahagia karena beberapa
menit kemudian Rachel dengan kejamnya MEMUTUSKAN Bayu di depan semua tamu acara
perpisahan. Ternyata selama ini Rachel hanya memanfaatkan keluguan Bayu untuk
mendongkrak popularitasnya sebagai pembaca puisi yang terkenal. Semenjak saat
itu Cleo tak pernah melihat Bayu hadir di sekolah. Rupanya Bayu hijrah ke
Singapore mengikuti ayahnya yang baru saja bercerai dengan sang ibu. Setelah
kejadian itu, Cleo memang benar-benar menghapus Bayu dalam kata-katanya. Tapi
nama itu tetap tersimpan di hati dan terlukis di diary Pink milik Cleo. Bahkan
ketika bibir Cleo mengucap kata cinta pada orang lain, hati Cleo masih milik
Bayu walau mungkin Bayu tak mengingatnya lagi.
©©©
Bertahun-tahun
kemudian…
Setelah
menyelesaikan pendidikan SMA, Cleo dan Melur hijrah ke Jakarta karena mereka
mendapatkan beasiswa dari sebuah Universitas Negeri paling bergengsi di Ibukota
Negara tersebut.
Walaupun
Cleo dan Melur yang berbeda Fakultas itu sangat sibuk dengan aktivitas mereka
masing-masing, kedua sahabat itu selalu punya waktu untuk berkumpul dan
bercerita tentang aktivitas baru sebagai seorang mahasiswi.
“Cle,
kamu di mana?”
“Lagi
di jalan menuju rumah tantemu.”
“Cepetan
dong…”
“Iya
bawel! Sabaran dikit napa? Aku tau kamu kangen tapi…”
Tut…tut…
Cleo
tertawa karena sudah berhasil membuat sahabatnya kesal sampai memutuskan
telepon.
©©©
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum
salam. Siapa Lo?” Seorang pemuda membuka pintu rumah dan bertanya kasar.
Cleo
tercengang. “Siapa neih anak? Gak sopan amat.” Ucapnya dalam hati. “Permisi
mas, Melurnya ada?”
“Lo
pikir ini toko bunga?”
“Hah?”
“Apaan?
Kurang jelas apa kata-kata gue? Ini bukan toko bunga, jadi gak ada Melur.”
“Gila!”
Akhirnya keluar juga makian dari bibir Cleo.
“Kalo
mau ke RSJ bukan di sini.”
Cleo
semakin heran, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Kamu siapa sich?
Aku mau cari Melur, bukan toko bunga atau RSJ.” Intonasi suara Cleo semakin
naik. Siang-siang bikin gondok!
“Gue
yang punya rumah. Lo siapa? Mau minta sumbangan ya?”
“Hah???
Emang tampangku mirip pengemis apa?!!”
Pemuda
itu tertawa. “Kurang lebih gitu dech…”
“Ihh!
Kamu siapa sich? Pembokat baru ya makanya gak sopan sama tamu.”
“Gue
yang punya rumah. Mau liat KK? Tunggu di situ biar gue ambil.” Pemuda
menyebalkan itu berbalik. “Ingat tunggu di situ, jangan bergerak setengah
langkah pun.”
Cleo
semakin kesal dan langsung menghubungi Melur. “Kamu di mana? Ada orang gila di
rumah tante kamu.”
Melur
langsung menghampiri Cleo dengan khuatir. “Mana orang gilanya Cle? Kamu gak apa-apa
khan?”
Pumuda
yang membuat Cleo kesal itu datang dengan sehelai kartu di tangannya. “Imel,
kamu ngapain dekat-dekat sama orang aneh itu?”
Dikatakan
orang aneh, Cleo langsung baik darah. “Enak aja! Kamu tu yang aneh. Nyebelin
banget sih!”
“Hello…
jangan bertengkar dong. Mas, ini Cleo sahabatku yang sering aku ceritakan itu
lhoh...” Melur menarik tangan Cleo. “Ini sepupuku, Iura. Anak bungsu tante yang
kuliah di Ausie, baru pulang beberapa hari yang lalu.”
Cleo
mengerutkan keningnya. “Anak tante? Gak mirip!”
“Lo
juga gak seperti yang diceritakan Imel. Kata Imel Cleo itu anaknya manis,
lembut dan ramah. Ternyata jauh banget dari cerita.”
“Whatever
lah! Masuk yuk Lur, aku liat sepupu kamu jadi naek darah. Mana panas lagi
udaranya...”
Melur
tersenyum. “Ya udah, kamu naik duluan yach… aku mau ambil jus dulu.” Setelah
Cleo naik ke atas, Melur mendekati sepupunya. “Kalau suka bilang aja, gak perlu
pakai bertengkar.”
Iura
tertawa, terdengar aneh di telinga Melur.
©©©
“Resek
banget sich sepupu kamu itu.” Cleo menggerutu. “Hampir aja aku keluarin jurus
silatku.” Tambahnya lagi.
Melur
tertawa. “Mentang-mentang udah ‘ban’ hitam, dikit-dikit main hajar…”
“Habisnya
aku kesal banget Lur. Mana panas banget, macet lagi, eh sampe di rumah ada
orang stress. Btw nama kamu koq bisa berubah jadi Imel sih?”
“Itu
panggilan kesayangan Mas Iura, Cuma dia yang boleh panggil Imel.”
“Ow
pantesan dulu kamu mutusin si Vino gara-gara dia panggil kamu Imel…”
“Duh,
jangan bahas masa lalu dech!” Melur merengut.
“Iya…
iya… sorry…”
“Cuma
bercanda koq!”
Langsung
saja tangan Cleo mengambil bantal terdekat dan menimpuk sahabatnya itu dengan
garang. Maka seperti jaman kanak-kanak bertahun-tahun silam, perang bantal pun dimulai.
©©©
Mentari
mulai menampakkan ‘keangkuhannya’ menyinari bumi dengan panasnya yang garang.
Debu-debu pun ikut-ikutan menampakkan kekuasaannya dengan menyelelimuti seluruh
jalanan. Hm, andai bukan musim midtest, ingin rasanya Cleo berendam di kamar mandi
sambil mendengarkan music mellow kesukaannya. Namun sekarang, di sini lah Cleo
bukan di kamarnya apalagi berendam di
kamar mandi. Cleo melangkah keluar dari gedung Fakultasnya. Pukul 17.00,
ternyata matahari masih garang dan belum hendak berganti tahta dengan rembulan.
Cleo pun menghela nafas berat seraya mengipasi badannya yang gerah dan panas.
Lagi panas-panasan gini, ada saja yang membuat kepalanya tambah panas. Siapa
lagi kalau bukan Iura yang selalu saja mengusilinya. Kali ini Iura sengaja
menekan klekson mobil sampai gelendang telinga Cleo serasa mau pecah.
“Resek
banget sich ne orang!” Cleo menghampiri mobil Honda jazz berwarna hitam yang
parkir tak jauh dari tempatnya duduk. “Woiiiii!!!” Cleo menggedor kaca jendela mobil
tersebut.
Kaca
mobil diturunkan, seraut wajah tampan tapi menyebalkan menyembul dari dalam
mobil. “Hati-hati bu, mobilnya dibeli pake duit bukan pake daun.”
“Iura!
Kamu… ya ampun…” Cleo kehilangan kata-kata.
“Kenapa?
Lo terkesima dengan ketampanan gue?”
“Amit-amit
dech! Bisa gak sih kamu itu sehari saja gak menggangguku? Kenapa di mana-mana
selalu ada kamu? Jangan-jangan kamu sakit jiwa ya? Ngikutin aku tiap hari!”
Iura
tertawa terbahak-bahak. “GR! Aku ke sini mau jemput Imel koq.”
“Oia?
Hari ini Imel kamu itu gak ke kampus, dia khan lagi sakit bulanan. Masa gak
tau?”
Iura
gelagapan. “Hah? Masa sih? Tapi tadi dia sms gue suruh jemput.”
“Bo’ong.
Sebenarnya ngapain kamu ke sini?” Tanya Cleo serius.
“Ya
mau jemput Imel.”
“Sumpah?”
“Iya.”
“Mana
tangan kamu?”
“Untuk
apa?”
“Kalo
kamu bohong aku gigit.” Cleo menarik tangan Iura dengan paksa. “Jujur. Ngapain
kamu ke sini?”
“Mau
jemput… au! Sakit!”
Cleo
tertawa, apalagi melihat cap ‘giginya’ ada di tangan Iura yang kekar. “Rasain.
Makanya jangan resek sama aku.” Cleo meninggalkan Iura.
“Eh…
eh… mau ke mana?” Iura menjalankan mobilnya mengikuti Cleo.
“Pulang.”
“Ke?”
“Kuburan.
Ikut?” Tanya Cleo ketus.
“Temannya
kunti dong.”
“Yupz!”
“Gue
antar ya!”
Cleo
menghentikan langkahnya, memandang Iura dengan muka manis campur masam.
“Makasih…” Katanya sok manis. “Tapi aku gak butuh bantuan kamu.” Katanya masam.
Iura
menelan ludah. “Udah malem lhoh, ntar kamu diapa-apain preman yang suka mangkal
di ujung jalan ini.”
“Udah
biasa… aduh…”
Iura
langsung menghentikan mobilnya dan menghampiri Cleo yang mengaduh kesakitan.
“Kenapa Cle? Ya ampun…” Iura berlari ke mobil dan mengambil seperangkat kotak
P3K. “Makanya jangan suka pake sandal jepit kalau berpergian, kaki lo gak save
jadinya…” Dengan telaten Iura membersihkan darah yang menyucur dari telapak
kaki Cleo, kemudian Ia membubuhi obat merah dan memasang kain kassa sebagai
perban. “Selesai.”
Cleo
memandang Iura dengan takjub, ada secercah rasa berbeda di relung hati yang
langsung ditepisnya. “Makasih ya…”
“Yupz!
Jadi bagaimana? Aku antar?”
Cleo
menggeleng. “Gak usah, aku bisa pulang sendiri koq.”
“Kamu
yakin?”
Cleo
mengangguk. “Makasih udah keluarin paku dan bersihin lukaku…” Cleo hendak
berdiri namun terjatuh lagi karena ternyata kakinya masih sakit.
Iura
langsung merangkul Cleo dan membawanya ke mobil. “Benar kata Imel, kamu itu
keras kepala. Sepertinya lukamu itu dalam, aku takut terjadi infeksi. Lebih
baik aku bawa kamu ke RS terdekat…”
Mau
tak mau Cleo pun menuruti perkataan Iura, rasa sakit di kakinya memang menjalar
sampai ke seleuruh tubuh. Alhasil malam itu Cleo harus menjalani operasi kecil
untuk mengeluarkan karat dari paku yang menusuk telapak kakinya itu. Apalagi
ternyata trombosit Cleo rendah, sehingga penyembuhan lukanya lama dan
ujung-ujungnya harus opname di rumah sakit sampai luka sembuh dan tombositnya
normal.
©©©
“Gimana
keadaan kamu Cle?” Tanya Iura keesokan harinya. Sepertinya Iura tidak tidur
karena menjaga Cleo.
“Baik.”
Jawab Cleo lemah.
Melur
memandangi Iura dan Cleo bergantian. “Kamu?” Tanyanya pada Iura. “Sejak kapan?”
Iura
gelagapan. “Kamu? Memangnya kapan gue sebut kamu?” Tanya Iura balik.
Melur
mencibir. “Ya udah kalau gak mau ngaku…”
“Cle,
lo mau makan apa? Bubur atau roti?” Iura mengalihkan pembicaraan.
Melur
semakin yakin kalau ada ‘sesuatu’ antara sepupu dan sahabatnya itu. “Ehem…”
“Lur,
kamu gak beritahu papa dan mama khan?” Tanya Cleo.
Melur
menepuk jidatnya, Ia meringis. “Maaf Cle, tadi malam aku panik banget jadi ya
aku hubungin deh papa dan mama kamu.”
Cleo
menarik nafas panjang, Ia pun tersenyum. “Gak apa-apa koq Lur, aku malah
bersyukur karena akhirnya ada alasan yang membuat mama dan papa berkunjung ke
Jakarta.”
“Dasar
manja!” Ejek Iura.
Cleo
langsung melotot dan bersiap-siap untuk perang. Tapi seperti biasa ada Melur
yang menengahi.
©©©
3
hari kemudian…
Cleo,
Melur dan Iura menjemput papa dan mama Cleo di Bandara Internasional
Soekarno-Hatta. Sebenarnya mama dan papa ingin berangkat pas malam operasinya
Cleo, namun tidak ada tiket sampai 3 hari kemudian. Maka Cleo pun yang sudah
sehat menjemput kedua orang tuanya di Bandara.
“Ya
ela… udah buru-buru nyampe sini eh pesawatnya terlambat, 2 jam pula tuh.” Keluh
Cleo saat melihat pengumuman bahwasanya pesawat yang ditumpangi kedua orangtuanya
itu terlambat. “Delay lagi… delay lagi…”
“Berarti
belum berangkat dong…” Kata Melur.
Cleo
mengangguk sambil merengut.
“Ya
udah deh, lebih baik kita jalan-jalan sekitar Bandara. Hm, kita ke terminal
luar negeri aja, gue dengar si Miyabi sampai ke Indo hari ini.” Usul Iura yang
aneh terpaksa diikuti Cleo dan Melur. Habisnya maksa sih…
©©©
“Lur,
kayaknya ada artis dech! Rame wartawan di sana…” Cleo mengarahkan tangannya pada
kerumunan orang, rata-rata membawa kamera dan recorder.
“Benar
nih feeling gue, ada Miyabi. Asiiiikkkk…” Iuga langsung mendekati kerumunan
wartawan. “Ada apa mas? Miyabi ya?” Tanyanya sok ramah pada seorang wartawan.
“Bukan
mas, ada model terkenal Singapore pulang kampung. Aslinya sih orang Indonesia
tapi terkenal di sana. Dengar-dengar sih mau merambah ke dunia acting di sini.”
Jawab si wartawan panjang lebar.
Iuga
manggut-manggut. “Makasih ya Mas.”
“Apaan
tu rame-rame?” Tanya Cleo ke Iura.
“Model
terkenal Singapore pulang kampung. Biasa lah dunia intertain kita suka
nga-dopsi artis luar negeri, paling-paling tuh orang tuh gak laku lagi di
negaranya. Alasan pulang kampung! Payah nih bangsa kita, Cuma modal tampang
doang.” Jawab Iura panjang lebar, kesannya kok malah curhat ya? “Gue kirain si
Miyabi…”
Tanpa
sadar Cleo menjitak kepala Iura sampai pemuda itu mengaduh kesakitan. “Pikiran
udah berpolusi, harus segera dibersihkan. Yang dipikirin cowok Cuma Miyabi.
Huh!”
Iura
tertawa. “Cemburu atau jealous nih?”
“Cuih…
amit-amit dech!” Cleo pura-pura meludah.
“Biasa
aja lagi, khan cuma tanya bukan minta.” Kata Iura.
Pipi
Cleo bersemu merah, apalagi Melur menatapnya dengan tatapan yang menyelidik.
Cleo pun segera meninggalkan Melur dan Iura yang mulai berbisik. Iseng-iseng
Cleo mendekati kerumunan wartawan, saat itu seorang pemuda atletis, tampan
namun berwajah angkuh berjalan melewatinya. Jantung Cleo langsung berdetak
kencang, sampai-sampai nafasnya ketinggalan untuk mengikuti detak jantungnya.
Cleo kenal bahkan sangat kenal siapa pemuda yang berjarak 1 meter darinya itu.
Walaupun pemuda itu sudah berubah 180 derejat, tapi Cleo masih merasakan
getaran-getaran yang sudah bertahun-tahun Ia pendam. Getaran itu kini bangkit
lagi seperti mummy yang ingin mencari pasangan hidupnya. Tanpa sadar Cleo menyerukan
sebuah nama yang membuat semua orang yang mencoba mewawancarai pemuda itu
terkejut, termasuk pemuda itu sendiri…
“Bayu?”
Pemuda
itu menghentikan langkahnya saat mendengar ada seorang gadis menyerukan dengan
lantang sebuah nama yang selama ini tak ada yang tau. Pemuda tampan itu
menghampiri Cleo. “Apa aku pernah mengenalmu? Tak ada yang pernah tau nama itu.”
Pemuda iu mengamati wajah Cleo dengan seksama, tak ada ruas yang terlewatkan.
“Jangan-jangan kamu…”
Cleo
menatap pemuda di hadapannya. “Aku bukan siapa-siapa.” Cleo berlari melewati
kerumunan orang. “Kita pulang sekarang!” Katanya tegas.
Melur
dan Iura mengikuti Cleo tanpa suara. Cleo pun menangis tersedu-sedu di dalam
mobil.
“Kenapa
Cle? Apa ada yang menyakitimu di bandara tadi? Siapa orannya? Bilang padaku.”
Tanya Melur.
Isak
Cleo semakin keras. “Dia memang sangat berubah, tapi aku masih mengenali mata
dan suaranya. Aku sangat mengenalinya Lur…”
“Siapa
Cle?”
“Bayu.”
“Apa?
Kamu jumpa dia di mana?”
“Model
Singapore itu…”
“Gak
mungkin si Bayu yang cupu bisa jadi model terkenal. Kamu pasti salah orang Cle,
pasti bukan dia.”
“Gak
mungkin karena dia itu jelek dan culun? Sampai kapan kamu menilai dia seperti
itu? Wajah dan penampilan bisa berubah dalam sehari Melur. Kamu lupa seperti
apa jeleknya aku waktu kecil dulu? Setelah bertahun-tahun semua akan berubah,
tapi hanya satu yang tidak bisa berubah… hati ini.”
Melur
menatap Cleo marah. “Jadi kamu masih memendam rasa pada si bodoh itu?!! Ya
ampun Cleo! Selama ini ak piker kamu sidah melupakannya, ternyata…”
“Maafin
aku Lur, aku udah bohongin kamu. Jujur aku gak bisa melupakannya, bahkan
semakin aku berusaha rasa itu semakin menjadi-jadi.”
Melur
menggeleng-gelekkan kepalanya. “Aku pikir aku sudah merubahmu secara total,
ternyata ada satu hal yang belum berubah dan itu akan berakibat fatal buatmu.”
Cleo
memeluk Melur. “Maafkan aku Lur. Maaf. Maaf. Maaf. Aku terpaksa bohongin kamu
agar kamu gak mengkhuatirkanku. Aku gak mau kamu memikirkan kebodohanku ini.”
“Cleo…” Melur memegang bahu Cleo. “Tatap
mataku. Sampai kapan kamu sanggup menyimpan perasaan tu? Okelah dulu kamu
berpikir tidak akan pernah berjumpa lagi dengan Bayu. Nah sekarang Bayu ada di
Jakarta, mungkin saja dia tinggal dekat kampus atau kontrakanmu. Lalu bila
kalian bertemu, apa yang akan kamu lakukan? Parahnya lagi, apa yang kamu
harapkan? Menjadi kekasihnya seperti dulu? Sama saja kamu mengulang kebodohan
yang sama.”
“Aku
gak tau…”
Melur
memeluk Cleo. “Oh Cleo…” Melur pun ikut menangis.
Bukan
hanya kedua bersahabat itu yang menangis, ada hati yang menangis dan terluka
dalam diamnya.
©©©
Sementara
itu di sebuah apartemen mewah di pusat Kota Jakarta…
Seorang
pemuda tampan sedang mencari-cari sesuatu di kotak usangnya, sehelai photo.
“Ternyata kamu benar-benar Cleo. Kamu
memang sudah berubah dari seorang gadis kecil yang polos menjadi gadis cantik
dan menarik. Semua memang berubah kecuali tatapan mata penuh cinta yang selalu
ku tepis.” Bayu menghela nafas berat. Ia menatap nanar sehelai photo
bergambarkan dirinya yang sedang merangkul Cleo. Itu satu-satunya photo yang
bisa mengingatkannya pada keluguan seorang Cleo, karena setelah photo itu
dicetak Ia benar-benar meninggalkan Cleo dan larut dalam pesona Rachel yang
malah mencampakkannya. “Tatapan cinta itu masih sama seperti dulu, masih
untukku.” Bayu tersenyum misterius. Lalu ponselnya bordering, tak lama kemudian
ponsel itu hancur berantakan. Sepertinya sang empunya marah besar pada si penelepon.
©©©
“Gue
udah jumpa dengan Bayu.” Kata Iura pada Melur saat sarapan.
“Mas
nyari si dia? Untuk apa?”
“Untuk
Cleo. Lagipula gue gak mencarinya, dia datang sendiri ke studio. Manajemen
pakai dia jadi model video klip band gue.”
“Kok
kalian setuju sih? Enak banget si kunyuk itu, baru nongol udah dipake! Aku gak
rela kalau dia bahagia di atas penderitaan Cleo.” Melur menyudahi sarapannya.
“Di mana bisa menjumpai dia? Aku mau menghantamkan wajah sok gantengnya, terus
aku ludahin sepuas-puasnya. Bertahun-tahun aku menunggu untuk membalas semua
sakit hati Cleo.”
Iura
menyentuh pundak Melur. “Mel, jangan berpikir akan kesakitan Cleo tapi
berpikirlah akan kebahagiaan Cleo apabila bisa bersama dengan orang yang
dicintainya. Cleo akan semakin sakit kalau Lo menghalangi mereka…”
“Mas,
aku gak rela si Kunyuk itu nyakitin Cleo lagi!”
“Tapi
bagaimana dengan Cleo Mel? Tidakkah Lo lihat bagaimana bahagianya dia saat
berjumpa dengan Bayu? Air mata itu hanya sandiwara karena di dalam lubuk
hatinya dia sangat ingin berjumpa dengan Bayu. Kalau gue jadi Lo, gue akan
lakukan apa saja untuk membuat orang yang gue sayangi bahagia.”
“Aku
tau mas, kamu benar-benar sayang sama Cleo. Yah walaupun si bodoh itu pura-pura
gak merasa, tapi sebenarnya dia suka juga sama kamu tapi gara-gara kedatangan
si Bayu semua jadi berantakan. Dasar Bayu biang kerok!”
“Dan
gue akan lakukan apa saja untuk membuatnya bahagia, walaupun gue sakit.” Iura
melanjutkan kata-katanya tanpa mempedulikan kata-kata Melur.
Melur
terdiam. “Okelah kalau begitu. Yang penting Cleo bahagia aja dech…”
©©©
“Cle,
lo bilang pengen maen ke studio gue khan?”
Cleo
mengangguk. “Tapi Melur harus ikut.”
“Emangnya
siapa yang ngajak Lo?”
Cleo
merengut. Ia tertawa malu karena udah GR. “Gak ngajak yach? Habisnya Mas Iura
udah janji khan mau ngajak aku dan Melur akhir bulan ini. Yach kirain mau
ngajak…”
“Hm,
berhubung Lo udah belajar sopan santun dengan manggil ‘mas’ maka gue berubah
pikiran untuk ngajak Lo…”
“Hore!!!”
Cleo langsung memeluk Iura. “Ops… sorry mas. Kelepasan…” Wajahnya bersemu
merah. Entah mengapa sejak peristiwa masuk RS itu selalu ada getaran setiap
kali Cleo berbicara dengan Iura. Tapi getaran itu selalu ditepisnya.
“Sering-sering
aja Cle, rezeki nomplok… plok… plok…”
Semakin
malu rasanya, Cleo mencubit pinggang Iura yang langsung terdiam dari tawanya.
“Jadi pergi?”
“Jadi
dong…” Iura menggandeng Cleo di tangan kanannya dan Melur di tangan kirinya.
©©©
“Lur,
koq diem aja? Gak suka ya diajak ke studio Mas Iura? Kita khan bisa hunting
cowok cakep Lur, udah lama nih gak hunting…”
Melur
tersenyum, terpaksa. “Aduh Clo… kok ngebocorin rahasia sacral kita sih???”
“Sorry
deh. Tapi kayaknya kegiatan kita gak jauh beda dengan mas Iura, paling bedanya
mas Iura suka hunting cewek kayak Miyabi. Iya khan Mas?” Cleo mengedipkan
matanya pada Iura.
“Enak
aja!” Iura menjitak kepala Cleo.
©©©
Cleo,
Melur dan Iura menapaki sebuah bangunan modern, di tingkat 6 lift yang mereka
tumpangi berhenti.
“Welcome
to the jungle…” Iura memamerkan studio manajemen band-nya dengan bangga. Namun
hanya diberi cibiran oleh Cleo dan sedikit pujian oleh Melur.
“Kamu
jalan duluan deh Cle, aku mau ke toilet dulu…” Melur menarik Iura untuk berbicara
sejenak. “Aku khuatir Cleo belum siap bertemu si Bayu. Takutnya malah semakin
sakit kalau dipertemukan secepat ini. Beberapa hari ini aku sering menyinggung
tentang Bayu tapi gak ada tanggapan mas.”
“Mel,
percayakan semua pada gue. Yakin deh, Cleo pasti sudah sangat siap. Gue janji
Mel, semua akan baik-baik saja…”
Melur
bernafas setengah lega. “Aku percaya Mas…”
©©©
“Lama
banget sih! Aku nungguin dari tadi, kayak kambing congek tau…” Protes Cleo saat
Melur dan Iura menghampirinya dengan senyuman sok manis.
“Mau
protes atau lihat band yang lagi rekaman?”
“Lihat
band dong…” Jawab Cleo cepat. Sudah lama Cleo ingin melihat prosesi rekaman,
penasaran dari jaman SD dulu.
“Kalau
begitu ikut gue…” Ajak Iura.
Baru
beberapa langkah Clo berjalan…
“Cleo?”
“Bayu?”
Belum
sempat Iura mengajak Cleo dan Melur ke studio rekaman, pertemuan yang sudah
dinanti-nantikan oleh Iura dan Melur pun terjadi bak adegan sinetron.
Ada
debaran aneh saat melihat tatapan Cleo ke Bayu dan sebaliknya. Iura langsung
menepis semuanya demi kebaikan Cleo. “Hei kalian saling kenal? Di mana? Ya
sudah deh, gue tingga dulu ya…” Iura menghampiri Melur yang bersembunyi di
balik tembok. “All is well.”
Tak
lama kemudian di sebuah CafĆ© masih di gedung yang sama…
“Apa
kabar?” Tanya Bayu kaku.
“Baik.”
Jawab Cleo singkat.
“Bertahun-tahun
tak berjumpa ternyata banyak perubahan. Aku hampir tak mengenalimu, kecuali
binar matamu itu.”
Cleo
tertawa. “Kamu juga berubah, tak ada yang aku kenali dari wajah barumu itu.”
“Suaramu
terdengar ketus. Maaf kalau aku memaksamu untuk ada di sini…”
“Biasa
aja.”
“Cle,
saat aku menyakitimu tak ada kata maaf yang sempat aku ungkapkan. Jujur aku gak
punya keberanian untuk meminta maaf padamu, tapi sekarang aku sadar kalau semua
ini kesalahanku dan aku minta maaf karena menggores luka di hatimu…” Bayu
menggenggam jemari Cleo lembut.
“Aku
sudah memaafkan kamu.” Cleo menarik tangannya.
“Cle,
semenjak kita bertemu di bandara beberapa minggu yang lalu… aku selalu
memikirkanmu dan kenangan kita dulu. Aku menyesal telah menyakitimu. Aku
sungguh-sungguh menyesal Cle.”
“Aku
sudah memaafkanmu.”
“Andai
aku bisa membalikkan waktu, aku ingin kita seperti dulu.”
“Kembali
seperti dulu? Memanfaatkanmu untuk mendekati perempuan lagi? Oh tidak.”
“Aku
tau kamu marah, kamu benci dan muak padaku. Tapi tolong beri aku kesempatan
untuk menebus kesalahanku, please…”
“Kalau
mau menebus kesalahan, tebuslah pada Tuhan bukan padaku. Lagipula tidak terjadi
apa-apa di antara kita yang mengharuskanmu memperbaikinya.”
Tiba-tiba
Bayu menaiki kursi dan berteriak. “Cleo! Maafkan aku yang selama ini
menyakitimu. Beri aku satu kesempatan untuk menebus semuanya. Aku cinta kamu
Cleo! Maukah kau menjadi pacarku? Aku sangat yakin, hatimu masih tertaut padaku
dan itu tergambar di tatapan matamu Cleo…”
Seketika
CafƩ menjadi sangat riuh, semua orang bersorak agar Cleo menerima dan memaafkan
Bayu.
“Cleo,
please…” Pinta Bayu memelas.
Melihat
mata Bayu yang begitu mengharapkannya, Cleo pun mengangguk. “Ya.”
“Terima
kasih untuk Cle. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu. I love you…” Bayu
memeluk Cleo erat.
Cleo
menangis di pelukan Bayu. Tuhan mendengar do’a-do’a-nya, dream comes true. Kini
cintanya bersambut, tidak bertemu sebelah tangan seperti dulu.
Bayu
mencium kening Cleo. “Aku antar kamu pulang ya sayang…”
Cleo
mengangguk.
“Oh,
jadi ini kontrakan kamu. Hm, besok pagi aku jemput ya! Kita cari kontrakan baru
yang lebih berkelas. Masa pacar seorang Bayu Erlangga tinggal di kontrakan
kumuh seperti ini.”
“Tapi
Bay…”
“Sudah,
kamu masuk dan cepetan tidur. Pukul 7 aku jemput sekalian kita sarapan bareng.
Good night honey…”
“Tapi
besok aku ujian…” Belum sempat Cleo bicara, mobil Bayu sudah meninggalkan perkarangan
kontrakannya. “Aku juga gak perlu kontrakan baru karena aku sudah berjanji akan
tinggal bersama Melur di rumah tantenya.” Cleo memasuki rumah tanpa semangat.
Tiba-tiba ada yang begitu menyesakkannya, Cleo menangis.
Mobil
Bayu melaju cepat di keheningan malam. Di sebuah restoran ia berhenti. Tanpa
basa basi Bayu berbicara dengan seorang wanita cantik dan sexy. “Jangan ganggu
aku lagi! Aku sudah menemukan gadis yang lebih pantas darimu.”
“Oh,
jadi gadis kampung itu yang menggantikanku?” Wanita itu mencibir. “Aku piker
sainganku seorang artis sekelas Luna Maya, ternyata gadis cupu yang menjelma
menjadi Cinderella. Dengar Bayu Erlangga Junior, seperti apa pun kau merubahnya
dia tetap gadis yang sama seperti beberapa tahun lalu. Dia tidak akan pernah bisa
setara denganku walaupun penampilannya berubah. Dia tetap Cleopatra yang dulu…”
“Terserah!
Aku pastikan dia lebih pantas mendampingku dari pada wanita penipu sepertimu!
Sekarang dengarkan aku baik-baik, jangan pernah menggangguku karena aku tidak
akan terbujuk rayuanmu untuk ketiga kalinya.” Bayu meninggalkan wanita itu.
“Kau
pasti akan jatuh kepelukanku, lagi dan lagi…” Kata wanita itu sangat yakin.
©©©
“Sayang,
kamu cantik deh kalau pakai baju itu.” Bayu mengambil sebuah baju santai
berwarna coklat.
“Gak
ah Bay, terlalu sexy membuatku risih.”
“Cleo,
berhenti mencari alasan ini dan itu. Coba kamu lihat sekelilingmu, semua mata
tertuju padaku. Kenapa? Karena aku seorang superstar. Dan seorang superstar
hanya pantas berdampingan dengan wanita cantik, smart dan berkelas. Kamu
beruntung berpacaran denganku karena di luar sana bagitu banyak wanita yang
ingin menjadih kekasihku, mereka lebih segalanya dari kamu. Paham?”
Untuk
kesekian kalinya Cleo mengangguk. Yah, sejak resmi menjadi pacar Bayu otomatis
kehidupan Cleo berubah. Mulai dari kontrakan, penampilan, dandanan, makanan
bahkan pergaulan. Alhasil Cleo tidak bisa seenaknya bertemu dan bercanda dengan
Melur dan Iura. Hidup Cleo seluruhnya diatur oleh Bayu. Tapi namanya cinta itu
buta, Cleo pun membutakan seluruh hatinya walaupun itu sangat menyiksa.
“Sayang,
kalau sedang bersamaku sebaiknya kamu tidak usah mengangkat telepon.”
“Tapi
ini Mama dan Papa…”
Bayu
mengambil ponsel Cleo, “Tanpa terkecuali.”
Cleo
menelan ludah, pahit!
©©©
Cleo
selalu tersenyum setiap mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu, di mana
Bayu menggenggam tangannya mesra dan mengungkapkan semua perasaan cinta.
Ternyata do’anya dikabulkan oleh Tuhan, tak sia-sia pengorbanannya selama ini.
Kesabarannya membuahkan hasil, Bayu bisa dimilikinya tanpa ada Rachel yang
membayang-bayangi hubungan mereka. Padahal tanpa Cleo sadari, dial ah yang
sudah menjadi Rachel versi Bayu.
“Kenapa
Lo senyam-senyum sendiri?” Iura melempar tissue bekasnya ke wajah Cleo. Suasana
dapur rumah Iura pun jadi gaduh.
“Mas
Iura! Aduh… make up-ku jadi rusak deh. Padahal sebentar lagi Bayu mau
menjemput, dia pasti marah kalau aku tidak…”
Melur
dan Iura saling bertatapan, lalu menatap Cleo.
“Kenapa
sih pada ngeliatin aku? Ada yang aneh ya?” Cepat-cepat Cleo membuka perlengkapan
make up-nya.
“Sejak
kapan kamu punya ‘itu’?” Tanya Melur seakan-akan make up di tangan Cleo adalah
barang yang menjijikkan.
“Biasa
aja kali Lur… ini make up lhoh bukan ganja…” Kata Cleo agak tersinggung.
“Kamu
aneh!”
“Aduh
Melur… jangan kolot dech! Make up itu hal biasa, bukan sesuatu yang aneh.”
“Terserah
deh!”
Melihat
suasana yang mulai memanas, Iura berusaha mendinginkan. “Mau ke mana Cle?”
“Puncak
mas, ada pemotretan untuk cover film terbarunya Bayu.”
“Yang
dipotret Bayu khan? Kok kamu yang sibuk sih? Baru lima menit kamu di sini sudah
mau pergi lagi!” Kata Melur ketus.
“Itulah
mengapa aku malas ke sini, aku malas bertengkar denganmu.” Ucap Cleo tak kalah
ketus.
“Oh
iya ya aku lupa! Sekarang kamu itu pacarnya Bayu Erlangga yang sedang naik
daun, pastinya lebih asyik bersama superstar dong dari pada di rumah ini
bersama seorang sahabat yang dilupakan.”
“Kalau
kamu memang sahabat, seharusnya kamu mendukungku dong.”
“Kalau
aku mendukungmu sama saja aku mengkhianati orang tuamu. Kuliah berantakan,
hubungan keluarga dan pertemanan berantakan, semua berantakan hanya gara-gara
satu lelaki. Ingat kapan terakhir kamu berbicara dengan mama-papa? Ingat kapan
terakhir kita hang out bareng? Ingat berapa banyak janji yang terabaikan?
Bahkan ketika mas Iura masuk rumah sakit tak sekalipun kamu bertanya
keadaannya, boro-boro berharap kamu datang. Lalu waktu aku wisuda, tak ada kata
selamat, yah aku pun gak berharap kamu datang di tengah-tengah kesibukan
menjadi baby sitter-nya si Bayu. Mungkin pun saat aku mati kamu juga gak akan
datang…”
“Kamu
kenapa sih? Kenapa gak pernah sekali pun mendukung hubunganku dengan Bayu? Kamu
gak senang kalau aku bahagia? Katanya kamu sahabat, bulshit!”
“Yap!
Aku memang sahabat bulshit. Ingat siapa yang membelamu saat disakiti Bayu?
Siapa yang mengusap dan memelukku saat kamu sedih? Siapa yang menjagamu tanpa
sempat terlelap saat kamu sakit? Itu orang tuamu, aku dan mas Iuga. Tapi kamu
lupa karena saat ini kamu sedang bersenang-senang dengan kekasih idamanmu.
Lihat saja nanti ketika kamu dicampakkan, siapa orang yang akan memungut dan
membersihkanmu!”
“What?!!”
Suasana
saat ini bukan hanya panas, tapi bagaikan bom atom yang akan meledak. Maka
cepat-cepat Iura menengahi pertengkaran Cleo dan Melur. Iura hendak berbicara
ketika klekson mobil Bayu menjerit tak sabaran, seperti biasa! Maka Iura yang
awalnya dingin, kini mendidih.
“Gak sabaran amat sih tu orang!” Rutuk Melur.
“Hello…
orang itu bernama Bayu, Bayu itu pacarku lhoh…”
Melur
melotot. “Seakan-akan pacarmu itu adalah Tuhan yang wajib kamu sembah!” Melur
meninggalkan Cleo.
“Kenapa
sih dia???” Tanya Cleo pada Iura.
“Lo
yang kenapa!” Iura pun meninggalkan Cleo. “Jangan lupa tutup pintu pagar.”
Cleo
mengangkat bahu seakan-akan tak ada kejadian apapun. “Hai sayang…” Cleo mencium
pipi Bayu. “Pergi sekarang?”
©©©
Suasana
restaurant mewah itu tampak romantis dengan lilin putih yang menghiasi setiap
sudut ruangan, membuat Cleo semakin kasmaran dengan cinta yang tak
henti-hentinya dicurahkan oleh Bayu.
“Suasananya
romantis sekali…”
Bayu
menarik kursi untuk Cleo. “Semua akan aku berikan untuk gadis sehebat kamu
Cle…”
Wajah
Cleo langsung merona. “Thanks sayang… hm, sebenarnya dalam rangka apa kamu
mengajakku dinner seromantis ini?”
Bayu
diam, memandang Cleo. “Hm…”
“Beib,
jangan buat aku penasaran dong…”
Bayu
tertawa, semakin membuatnya bertambah tampan. “Ini untuk kita dan… film
perdanaku…”
“Apa?”
Saking senangnya tak sengaja Cleo menyenggol botol anggur, warna merah anggur
tersebut pun mengotori jas putih Bayu.
“Dasar
cewek bego! Kampungan!” Maki Bayu.
Cleo
terpana. “Ma…maaf Bay… aku gak sengaja…” Cleo berusaha menggapai jas bayu untuk
dibersihkan.
Bayu
menepis tangan Cleo asar. “Ternyata semua yang dikatakan Rachel itu benar! Kamu
gak pantas buatku. Kamu Cuma cewek bodoh yang bisanya membuatku malu! Shitttt…”
Bayu menepis tangan Cleo. “Kamu tau berapa harga jas ini? Gaji kamu selama
seumur hidup sebagai editor di majalah murahan itu gak akan bisa mengganti jas
mahal ini! Kamu benar-benar tidak bisa menjadi seperti Rachel!”
Air
mata Cleo menetes. Dari semua kata-kata kasar Bayu, hanya satu kata yang begitu
menyayat hatinya. “Rachel? Kamu masih berhubungan dengan Rachel?”
Bayu
tertawa. “Dua tahun yang lalu aku kembali
memacari Rachel, kemudian beberapabulan yang lalu kami putus dan aku
bertemu denganmu. Kamu pasti sangat tau betapa aku terobsesi pada Rachel,
makanya aku mengubahmu sepertinya. Tidak sadar? Dasar bodoh! Okelah dari segi
kecantikan kamu gak kalah dari Rachel, tapi kamu tetap seorang Cleo yang bodoh
dan kampungan. Sampai kapan pun kamu gak akan mungkin bisa menyaingi seorang
model papan atas seperti Rachel. Dasar freak! Bodoh! Ternyata hanya Rachel yang
pantas bersanding denganku, bukan cewek bodoh seperti kamu!”
“Jadi
kamu menjadikanku sebagai tumbal untuk kesekian kalinya?”
“Kalau
peluang itu memang ada, why not??? Semua orang juga melihat cintamu padaku
begitu luas, seluas dunia mungkin…”
Cleo
mengambil anggur dan mencampakkannya di wajah Bayu.
“Hey!
Apa-apaan ini?!!” Bayu membersihkan wajahnya, namun noda di jas-nya tidak dapat
terelakkan.
“Kamu
lihat noda di wajah dan jas mahalmu? Dalam hitungan detik, noda anggur di
wajahmu dapat dibersihkan. Tapi noda di jas-mu tidak akan pernah bisa
dibersihkan dengan apapun. Seperti itulah dirimu. Dua atau tiga tahun lagi
wajah dan penampilanmu akan berunah, tapi hatimu tetap kerdil seperti beberapa
tahun yang lalu. Mengapa? Karena ternyata kamu itu seorang BANCI!!! Kamu BANCI
yang hanya bisa menutupi wajah burukmu dengan tebalnya Make Up. Kamu gak lebih
dari seorang pemuda bodoh yang bisanya Cuma mencari tameng untuk cinta yang
berkali-kali mencampakkanmu! Terima kasih untuk semuanya. Suatu hari kamu akan
menyesal untuk apa yang sudah kamu perbuat padaku, takkan ada maaf dan
kesempatan lagi!” Cleo berlari keluar restaurant. Saat melihat mobil mewah Bayu,
Cleo langsung mengambil batu dan memecahkan kacanya. Cleo tersenyum sinis
melihat mobil kesayangan Bayu hancur di tangannya, namun rasanya hati ini lebih
hancur.
©©©
Cleo
memandang hamparan perkebunan teh yang ada di hadapannya. Udara sejuk sebuah
perkampungan kecil di Kota Bandung mampu membuat rasa sakit di hatinya sedikit
berkurang. Ketika mendapati semua orang di kampung itu menerimanya, Cleo
sejenak melupakan semua kejadian terbodoh yang pernah dia alami. Mungkin di
sinilah tempat yang tepat bagi Cleo untuk memulai hidup baru bersama
orang-orang yang baru pula. Setidaknya rasa malu terhadap orangtua dan para
sahabat bisa dia redam di tempat ini sampai Cleo siap untuk meminta maaf.
“Mbak
Cleo sudah lama di sini?” Tanya seorang gadis kecil kepada Cleo.
Cleo
tersenyum hangat. “Belum kok. Hm, belajar apa kita hari ini?”
“Matematika
mbak…” Jawab anak-anak lain serempak.
Cleo tersenyum tulus menghantar
anak-anak kurang mampu itu ke jenjang ilmu pengetahuan…
“Oia, mbak Cleo udah punya pacar?”
Pertanyaan lugu seorang bocah kecil menampar hati Cleo.
Cleo
terdiam. “Hm, kenapa sayang?”
“Kalau
mbak Cleo yang cantik belum punya pacar, aku mau kok jadi pacar mbak Cleo…”
Kata si bocah itu tanpa ragu.
Cleo
tertawa. “Ada-ada saja… mbak terlalu tua untuk kamu…”
Bocah
itu menunduk. “Tapi aku suka banget sama Mbak Cleo, habisnya Mbak Cleo cantik
dan baik sih…”
Cleo
memeluk si bocah kecil, sudut matanya berair. Tiba-tiba Cleo teringat akan
seseorang yang sangat pantas dijadikannya pacar, bahkan menjadi pendamping
hidupnya. Pemuda itulah cinta yang selama ini dia nantikan, walaupun cinta itu
tak pernah meminta balasan tetapi Cleo yakin kalau cinta itu teramat tulus.
Cleo jadi ingin cepat-cepat menemui cintanya itu. Cleo ingin kembali dan
menjalani aktivitas seperti dulu, tentunya bersama cinta dan sahabat tersayang…
©©©
Jakarta,
tiga bulan kemudian…
“Lur,
di mana Cleo?” Tanya Bayu.
Melur
menatap Bayu tajam. “Untuk apa mencari Cleo? Belum puas menyakitinya berulang
kali? Dasar pengecut!”
“Aku memang pengecut! Aku bodoh karena
menyakiti gadis sebaik Cleo, aku menyesal Lur… izinkan aku bertemu Cleo dan
menebus kesalahanku. Aku janji akan membahagiakan Cleo seumur hidupku. Tolong
pertemukan aku dengan Cleo… aku sangat mencintainya…” Bayu memelas.
Melur
tertawa. “Bagaimana rasanya dicampakkan berulang-ulang oleh orang yang sama?
Sakit bukan? Sakitnya di bagian mana? Seperti apa rasa sakitnya?” Ejek Melur.
“Dan lagi-lagi kamu mencari Cleo untuk mengobati rasa sakit itu. Lalu ketika
Cleo kamu campakkan, dia mencari obat di mana? Kamu tau Bayu Erlangga Junior,
semenjak kamu membuangnya seperti sehelai tissue bekas, Cleo menghilang. Kami
tidak tau bagaimana keadaannya, masih hidupkah? Sekarat atau sudah mati. Tak
ada yang tau. Gara-gara siapa? Gara-gara pengecut sepertimu! Pergilah kau! Aku
muak melihatmu! Dari dulu aku ingin mencaci maki dan memukulmu, tapi semua
sia-sia karena Cleo tidak ada di sini. Pergi!!!” Melur mendorong Bayu sekuat
tenaga. Di saat genting seperti ini, Iura tidak ada di tempat.
“Melur,
biarkan aku bertemu Cleo. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Please…” Bayu
mengemis sedikit kesempatan dan kebaikan hati Melur.
“Kalaupun
Cleo mau menerimamu, aku orang pertama yang akan menghalangi kalian! Pergi dari
hadapanku sekarang juga atau aku teriak maling!” Ancam Melur, tapi Bayu tak
sedikit pun begeming apalagi takut.
“Maling!!!”
Teriak Melur berulang kali.
Entah
berapa belas orang menghampiri Melur, tanpa bertanya mereka membawa Bayu ke
tengah jalan. Ternyata ada belasan warga yang sudah menunggu, selanjutnya Melur
tak tau apa yang terjadi. Dan Melur cukup lega karena berita di infotaiment,
Bayu masih hidup beberapa tulangnya patah. “Say goodbye untuk karirmu Bayu!”
Melur tersenyum sinis. “Cleo, entah apa reaksimu bila melihat berita ini.
Semoga sakit hatimu sedikit terobati. Pulanglah Cleo… kami semua merindukanmu…”
“Melur…”
“Lihatlah
Cle bagaimana aku merindukanmu sampai-sampai aku berkhayal kau sedang
memanggilku…” Melur mengusap air matanya.
“Melurrrrr
ini aku, Cleo…”
Melur
terperanjat kaget saat berbalik dan mendapati sosok cantik Cleo tersenyum di
hadapannya. “Beneran kamu Cle?”
Cleo
mengangguk.
“Mas
Iura! Cleo pulang!” Jerit Melur. “Alhamdulillah kamu pulang Cle…” Melur memeluk
sahabatnya erat seakan takut Cleo menghilang lagi.
“Lur
aku gak bisa nafas…” Cleo meringis.
Melur
tertawa. “Jangan pernah lari lagi dari masalah ya Cle…”
Cleo
mengangguk. Dan mereka pun berpelukan erat.
Tak
jauh dari situ, Iura menatap Cleo dan Melur dengan senyuman di bibir. Iura
yakin pada suatu hari Cleo akan kembali dan tersadar bahwa cintanya-lah yang
pantas disandang, karena Ia mencintai Cleo tanpa pamrih. Tanpa harus membuat
Cleo menjadi yang Ia mau, tanpa harus membuat Cleo mencintainya dan tanpa harus
membuat air mata di pipi Cleo. Karena cinta itu begitu indah kalau harus
dinodai oleh pengkhianatan seperti yang ditawarkan oleh Bayu.
Cleo
pun sadar bukan Bayu yang dia cintai. Bayu hanya obsesinya terhadap seorang
pemuda yang menjadi penolongnya bertahun-tahun lalu. Selama ini Cleo tidak
pernah sekalipun merasa nyaman bersama Bayu karena Cleo tidak pernah bisa
menjadi dirinya sendiri, obsesi Bayu pada Rachel membuatnya merubah Cleo
seperti Rachel. Wajah, penampilan dan sifat memang bisa sekejab saja dirubah,
namun jati diri dan hati seseorang takkan mudah dirubah. Seperti apapun usaha itu,
Cleo tetap lah Cleo dan tidak akan bisa menjadi seorang Rachel.
Cleo
menghela nafas, menghempaskan semua beban dan sakit hatinya. “Bye… bye Bayu…”
Ia tersenyum manis pada Iura. Amat sangat manis!
©©©


Tidak ada komentar:
Posting Komentar