Jumat, 09 Desember 2011

Cinta tak Pernah Salah


Aku jatuh cinta padanya ketika mata kami bertemu di festival antar sekolah. Wajah putihnya kemerah-merahan disengat sinar matahari siang itu. Kaki jenjangnya tak pernah lelah melangkah menawarkan sebuah produk buatan sekolahnya. Lesung di kedua pipinya menghiasai senyuman penuh semangat, membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Sorot matanya tajam menatapku dengan tatapan jenaka khas anak muda. Aku tercengang, beginikah yang disebut 'fall in love'? Aku benar-benar terlarut dalam pesonanya. Dan akhirnya setelah acara usai, aku mendapat sebuah petunjuk tentang pemuda itu. Bara, kelas III SMU Taman Bahagia.
***
Aku mencatat tanggal itu. Pertama kali jatuh cinta pada Bara, 16 April 2003 . Akan ku kenang seumur hidupku, hari di mana aku menemukan Mr. Right-ku. Sampai saat ini aku masih mengingat senyuman, tawa bahkan bau tubuhnya. Dan semenjak hari itu aku terus mencari tau tentangnya. Apa yang dia suka dan yang tidak, tentang sekolah, teman dan keluarganya. Hobby dan kegiatannya. Yang paling membuatku senang karena dia single alias belum punya pacar. Horeeeee!!! Dia pasti jodoh yang dikirimkan Tuhan untukku. My Bara, I loph yu ful...
***

"Ra, ada cowok cakep tuh!" Kata Nadine heboh. Mata dan tangannya menuju ke seorang pemuda di seberang jalan. Sepertinya syndrom 'cowok keren' Nadine kambuh.
Aku melihat pemuda itu sekilas, lalu mencibir. Gak banget deh! "Itu yang kamu bilang cakep? Masih cakepan My Bara dong..."
Nadine mendengus. "Always Bara. Dari tiga bulan yang lalu, Bara, Bara dan Bara. Bosen! Bahkan orangnya aja aku gak tau." Protes sahabatku itu.
Aku tertawa. Dalam hatiku sudah terdetak nama Bara, always Bara!
Nadine mencubit pipi 'chubby-ku'. Dia merengut, ngambek deh! "Kapan sih mau ngenalin si Bara ke aku? Penasaran banget! Jangan-jangan sebenarnya dia gak ada, cuma cowok khayalan. Ngaku aja deh..."
Aku mencubit pipi Nadine, hitung-hitung membalas cubitannya tadi. "Enak aja! Aku jumpa dia di festival sekolah, waktu kamu tampil di pentas. Pas aku mau nunjukin ke kamu, eh dia malah udah pergi sama teman-temannya."
"Jangan-jangan kamu salah orang, mungkin aja yang kamu lihat tuh cowok khayalanmu. Masa tiba-tiba saja cowok yang selama ini kamu impikan, alias cowok idaman dalam angan-anganmu muncul begitu saja. Pasti kamu lagi berkhayal, saking seringnya sehingga kamu tak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak nyata. Ayo dong Maura, sadar..." Nadine tak percaya. Dia malah mengguncang bahuku seolah-olah aku putri tidur yang menunggu 'ciuman' dari pangeran tampan.
"Nadine!" Aku menjitak kepalanya. "Aku yakin banget dia hidup, soalnya aku sempat bersentuhan dengannya. Waktu itu dia menawarkan produk minuman dari sekolahnya..."
"Oh... Jadi sekarang aku mengerti kenapa ada dua kotak minuman ringan di kamarmu..." Nadine memotong perkataanku.
Aku tersenyum kikuk. Memang aku tidak memberitahu Nadine tentang minuman yang sengaja ku beli dari Bara. Aku bilang padanya itu produk baru buatan Tanteku yang kebetulan memproduksi minuman kemasan seperti itu. Aku tau sih lama-lama bakal ketahuan, tapi gak nyangka secepat ini. Hm apanya yang cepat? Udah tiga bulan semenjak bertemu dengan pemuda idamanku.
"Kira-kira apa aku bisa menikah dengannya?" Tanyaku pada Nadine, walau aku yakin tak mungkin dijawab.
Nadine menatapku, seakan-akan aku ini alien nyasar dari planet antah berantah. "Gila! Impianmu kecepatan sayang... Masih kelas 1 SMU nih..." Nadine geleng kepala seraya menepuk bahuku. "Kenalan secara resmi aja belum, gimana mau nikah???"
Aku tak menggubris Nadine. Tapi bibirku langsung manyun, cemberut saking kesalnya karena Nadine menggagalkan impian menikahku. Hohoho... Walaupun yang dikatakan Nadine 100 % benar sih...
"Udah ah, aku gak mau bahas si Bara."
Nadine langsung bernafas lega dengan perkataanku. "Langsung dia berkata, "Sadar juga kalau 'Bara' itu membosankan." Tangannya memberi kode pada kata 'Bara'.
"Ehem, aku sih gak akan pernah bosan. Cuma aku mau kita langsung bertindak menemui Bara, jangan omdo alias omong doang. Bahasa kerennya, talk less do more..."
Nadine mencibir. "Kirain..."
Aku pikir Nadine bakal protes, ternyata dia pasrah dengan semua keputusanku. Good girl...
***
Akhirnya keesokan hari setelah pulang sekolah aku dan nadine bertandang ke sekolah Bara. Bel pulang berbunyi sesampainya kami di sana, para murid pun berhamburan keluar dari gerbang sekolah yang menjulang tinggi. Ketauan deh betapa nakalnya murid sekolah itu, sampai-sampai membangun tembok tinggi yang hampir menyamai tembok besar china. Hm, ini sekolah atau penjara yah??? Aku menepuk jidatku. Kalau ramai begini bagaimana aku bisa bertemu Bara?
"Udah deh, hari ini kita lihat saja apa benar Bara siswa di sini. Setelah melihatnya cepat-cepat kamu potret, biar aku tau gimana tampang si Bara-mu itu." Saran Nadine.
"Penasaran juga bu???" Ejekku.
"Setiap dua kalimat yang kamu ucapku, pasti ada terselip kata Bara. So, wajar dong kalau aku penasaran sama cowok tercintamu itu..." Bela Nadine.
"Ya...ya...ya..." Aku tak mau memperpanjang, nanti buruanku malah kabur lagi. Dia kan gak tau bahwasanya ada dua gadis cantik yang sedang mengintainya.
Dari kejauhan radar mataku menangkap sosok Bara. Aku langsung mengguncang bahu nadine dengan semangat.
"Ya udah samperin..." Perintah nadine.
Aku tersenyum. "Gak usah deh, kapan-kapan aja. Aku foto aja..." Ku ambil camera digital yang selalu ku bawa, antisipasi jika penyakit narsis kami kambuh. Langsung ku ambil gambar Bara dari kejauhan, syukurlah wajah tampannya terlihat jelas di camera. Saat aku menyuruh nadine melihat bara, dia sedang sibuk dengan telepon dari Daddy-nya. Ya sudah lah...
"Mana si Bara?" Tanya Nadine lima menit kemudian.
Aku memonyongkan bibirku. "Udah lewat kalle... Kamu sih asyik teleponan, buruan kita udah pulang tuh."
Nadine kecewa, sedikit tidak percaya. "Yang benar?" Tanya-nya sangsi.
"Aku punya kok photo-nya..." Cepat-cepat ku tunjukkan gambar Bara, supaya Nadine percaya bahwa Bara-ku nyata.
Dia melihat dengan teliti photo-photo Bara yang ku ambil dari kejauhan, habisnya pas mau ambil dari dekat eh tertutupi oleh dua orang temannya yang gendut. Setelah itu dia langsung naik ke sebuah mobil mewah berwarna hitam metalic.
"Ohhh..." Nadine memberikan camera padaku.
"Cuma itu tanggapanmu?" Aku kecewa karna tak ada sepatah pujian pun dari Nadine.
Nadine mengangkat bahu. "Maura sayang, kamu pulang naik taxi aja yah... Hari ini aku latihan karate, udah telat nih..."
Aku menepuk jidat. "Oh iya yah... Sorry honey, aku lupa hari ini jadwalmu latihan. Ya udah ga papa kok aku pulang naik taxi. Makasih yah udah menemaniku mengintai Bara..." Aku memeluk Nadine.
Setelah cipika cipiki, kami berpisah ke tujuan masing-masing.
***
Sudah hampir seminggu ini sikap Nadine berubah. Biasanya dia menungguku setiap hari di gerbang, sebelum dan setelah pulang sekolah. Kalau pagi hari kami tidak bertemu, waktu istirahat dia pasti singgah di kelasku yang kebetulan dekat kantin. Pokoknya setiap hari kami bertemu dan bercerita apa saja, walaupun sore atau malamnya kami hang out dan saling berkomunikasi via ponsel atau internet. Tapi mengapa sekarang Nadine sulit sekali dihubungi. Aku telepon tak dijawab, aku sms juga tidak dibalas, begitu juga via facebook dan twitter. Setiap pagi aku menunggunya seperti biasa namun saat bel masuk berbunyi dia tak kunjung datang. Waktu istirahat aku ke kelasnya dan dia tidak ada, ku cari ke sekeliling sekolah dia tidak ada. Pulang sekolah aku menunggunya, kata teman-temannya dia sudah pulang terburu-buru dan selalu begitu.
Aku bingung dengan perubahan sikap sahabatku itu. Soalnya semenjak kami kenal tiga tahun lalu, nadine sangat terbuka dan tak pernah mencueki aku seperti ini. Omg... Ada apa dengan sahabatku itu???
"Maaf Maura sayang, belakangan ini aku sibuk mempersiapkan diri untuk pertandingan karate nasional. Kamu tau kan ini pertandingan perdanaku, dan aku mau kasih suprise ke kamu..." Kata nadine di seberang telepon.
"Oh begitu... Ngomong dong honey,,, aku pikir kamu marah padaku..."
"Gak dong Maura sayang... Ya udah deh, aku tutup teleponnya yah. Badanku pegal-pegal nih, mau istirahat..."
"Oke."
Pembicaraan berakhir. Padahal aku masih ingin berbicara dengan nadine, malahan aku belum bertanya kapan pertandingannya. Jujur, aku masih penasaran dengan sikap nadine. Sepertinya ada yang dia tutupi dariku. Nada suaranya saat berbicara denganku sangat janggal, seperti orang yang baru beberapa hari kenal. Dalam hati aku masih bertanya-tanya, tapi aku tak ingin mengganggu sahabatku yang sedang berkonsentrasi dengan pertandingannya.
***
Aku memandang wajah bara, lalu mengelus pipinya dan terakhir ku cium bibirnya. Oh... Sayangnya bara tak bisa membalas ciumanku karena dia hanya selembar photo yang ku bingkai dalam pigura bergambar naruto.
"Selamat malam bara-ku sayang..." Aku memberi kecupan jauh pada bara yang ada di atas tempat tidurku. Kalau nadine melihatnya pasti langsung histeris dan menganggapku gila. Cinta memang gila! Aku mencetak sebuah poster besar dan menempelkannya di langit-langit tepat di atas tempat tidurku. Dulu sih itu poster naruto, sekarang sudah berganti dengan wajah bara yang tersenyum. Aku mau saat bangun tidur, hanya bara yang ku lihat dan ku sapa.
Sebenarnya sih masih banyak pernak pernik lain yang dulunya bergambar naruto kini berganti dengan wajah bara. "Maaf yah naruto. Kamu cowok impianku juga, tapi tidak nyata. Sedangkan bara, dia itu masa depan, cinta pertama dan terakhirku, dan dia nyata." Cinta... Lagi-lagi cinta...
***
"Sebaiknya kamu lupakan bara!" Itu kata pertama yang terucap oleh nadine setelah hampir tiga minggu tidak bertemu.
Keningku berkerut. Ada apa nih? Apa nadine kesal karena aku ber'nyanyi' terus tentang bara, padahal kami sudah lama tidak bertemu. Bahkan aku tidak bertanya bagaimana keadaannya, juga bagaimana persiapan pertandingannya minggu depan. Memang aku salah... "Maaf nadine, gak seharusnya aku bercerita mengenai pembicaraanku dengan bara via facebook dan twitter. Harusnya aku tanya kedaanmu. Hm, maaf yah sayang... Bagaimana kabarmu? Pertandingannya minggu depan kan?"
Nadine membuang muka. "Pokoknya kamu harus melupakan dia!"
Keningku semakin berkerut. "Lhoh kenapa? Oke aku salah karena membicarakannya di awal pertemuan kita. Aku minta maaf. Yah aku tidak tau harus mengutarakan pada siapa kebahagiaan ini selain padamu. Maafin aku yah..."
Nadine menatapku. "Lupakan saja dia!" Katanya lagi.
"Tapi kenapa?"
"Dia bukan untukmu!"
Sumpah aku gak ngerti maksud ucapan nadine. "Kenapa sih? Memangnya kamu kenal dia?"
Nadine terdiam. "Gak kenal, tapi temanku mengenalnya. Dia pernah melatih karate di club kami, semua orang tau dia playboy makanya dia dikeluarkan dari club. Pokoknya kamu gak usah berharap apa-apa dari dia."
Aku menggeleng. Rasanya ada yang terbakar di dalam tubuhku, mungkin hati ini telah tercabik-cabik oleh api amarah. "Tunggu dulu, itu kan kata teman-temanku. Sebelum kita melihatnya langsung, aku tidak percaya. Bara itu pemuda yang baik, itu yang aku tau melalui akun facebook-nya."
Nadine menghela nafas. "Itu dunia maya maura!"
"Aku gak peduli! Bara gak mungkin begitu. Nanti malam aku akan bertanya padanya secara langsung."
"Ah terserah kamu!" Nadine meninggalkanku.
Aku memejamkan mata. Apa benar yang ku lakukan? Sangat wajar bila nadine mengingatkanku sebagai sahabat. Tapi aku juga tidak bisa melupakan bara sementara aku hanya mendengar kabar dari sepihak, itu pun tidak jelas siapa orangnya. Ahhhh...
***
Semenjak hari itu aku tidak lagi membicarakan bara di depan nadine. Padahal aku pengen banget curhat padanya tentang kedekatan kami, walaupun hanya di dunia maya. Namun demi menjaga perasaan nadine, aku tutup mulut dari kata 'bara'.
Memang hubunganku dan nadine sudah membaik, tapi aku tidak bisa memungkiri ada yang berubah dari sosok sahabatku itu. Nadine yang biasanya agak cuek dengan penampilan kini selalu modis dan feminin, sesekali dia memakai riasan di wajah cantiknya. Aku sih tidak protes selama perubahan itu bernilai positif, hanya saja nadine mulai tertutup padaku. Dia tak pernah bercerita tentang cowok-cowok yang dia taksir atau yang mengejarnya. Yang dia ceritakan hanya seputar sekolah dan kegiatan yang tidak penting. Secara sekilas hubungan persahabatan kami tampak baik-baik saja, padahal sebenarnya ada tembok besar yang membatasi kami, entah apa sebutan yang cocok untuk itu.
Aku hanya bisa tersenyum dan memaklumi sikap nadine, tak henti-hentinya aku berdo'a supaya hubungan kami bisa seperti dulu. Semoga malaikat mendengar do'aku...
***
Tidak biasanya aku mengizinkan orang lain memasuki kamarku. Kamar adalah satu-satunya tempat privasi buatku, maka hanya keluarga dan nadine yang boleh memasukinya. Namun kali ini aku tak enak membiarkan seorang teman menunggu di luar sementara aku mandi. Maka ku persilahkan Citra menungguku di kamar.
Selesai mandi dan memakai baju, aku mendapati Citra duduk manis di tempat tidur. Tapi matanya tak bisa menolak untuk menyapu setiap inci kamarku. Citra berdecak kagum saat melihat photo Bara yang terpampang besar di langit-langit kamar (aku memang tidak mengindahkan perkataan nadine, toh dia tak pernah protes).
"Ini pacarmu?" Tanya Citra.
Aku mengangguk. "Ganteng gak?"
"Pilihan gadis sehebat kamu ya pasti yang terbaik dong..."
Aku tersipu atas pujian Citra. Terpaksa deh aku membohonginya. Bara saja tidak pernah tau perasaanku, boro-boro jadi pacar. Aku tersenyum kecut.
"Hm, kelihatannya persahabatanmu dengan nadine cukup dekat yah..." Mata Citra melihat photo-ku dan nadine yang sedang berangkulan.
"Iya dong..." Jawabku pasti. Walaupun sebenarnya ada keretakan antara aku dan nadine.
"Pacarmu juga pasti akrab dengannya. Bagaimana sih caranya supaya teman dan pacar bisa akur seperti kalian? Soalnya temanku agak kurang suka dengan pacarku..." Entah curhat, entah apa lah. Yang penting aku terkejut dengan perkataan citra. Soalnya setauku nadine tidak mengenal bara, itu menurut pengakuannya.
"Hm... maksud kamu apa ya?"
"Lhoh masa kamu gak tau kalau nadine dan pacarmu sering jalan bareng? Aku sering melihat mereka. Malah aku pikir itu pacarnya nadine, eh ternyata pacar kamu..."
Duaaaarrrrr!!!
Rasanya ada yang meledak tepat di gendang telingaku. Gak mungkin nadine dan bara sering bersama sedangkan mereka tidak saling mengenal. Citra pasti salah lihat! Yang bersama nadine pasti bukan bara, begitu pula sebaliknya. Nadine tidak mungkin membohongiku, apalagi merebut bara dariku. Aku terus berprasangka baik pada nadine, walau hati kecilku membenarkan perkataan citra. Nadine tidak akan mengkhianatiku...
"Kamu kenapa ra?" Citra menepuk bahuku. "Wajahmu pucat sekali."
"Aku tidak apa-apa." Ucapku seraya tersenyum, namun seperti seringai bagiku. Aku berusaha untuk tenang. Walau hatiku sedang bergejolak, aku tak ingin ada orang lain yang tau bahkan orang tuaku.
Citra yang awalnya panik tampak lega melihat perubahan wajahku. "Syukurlah kamu tidak apa-apa. Oh ya, kita pergi sekarang? Takutnya kesorean, nanti macet lagi."
Aku mengangguk.
Dalam perjalanan menuju rumah seorang teman, tempat kami mengerjakan tugas kelompok, aku berusaha memberanikan diri bertanya lebih rinci akan informasi dari citra.
"Kamu sering banget lihat mereka bersama? Berapa kali? Di mana?"
"Kenapa ra? Ada masalah?" Citra balik tanya.
"Oh gak apa-apa sih..." Jawabku cepat. "Hanya ingin tau saja..."
Citra pun bercerita... Dia sering melihat nadine dan bara di cafe milik orang tua citra. Setiap malam band bara manggung di cafe citra, dan hampir setiap malam sabtu atau minggu nadine ada di sana.
"Kalau kamu pacarnya bara, kenapa sih gak pernah ikut pacarmu manggung? Kenapa selalu nadine yang di sana?"
"Kamu tau lah nasib anak gadis satu-satunya seperti aku. Sebelum umur 17 aku tidak punya jam malam, syukur masih diizinkan berpacaran. Nadine di sana karena ada pacarnya, yang main drum..." Aku berbohong dan pastinya ngarang. Apalagi di bagian pacar nadine.
"Oh begitu yah... Tadi sih aku sempat punya pikiran jelek, aku pikir nadine dan pacarmu selingkuh. Sekarang lagi nge-trend merebut gebetan teman, takutnya itu yang terjadi padamu. Apalagi aku sering melihat mereka jalan berdua bergandengan tangan. Setelah mendengar ceritamu aku jadi lega dan tidak berprasangka buruk ke nadine."
Aku tersenyum. "Makasih ya atas informasinya.,," Ya Tuhan, aku ingin menangis plus teriak sekencang-kencangnya. Gak, itu gak boleh terjadi. Aku gak boleh berburuk sangka dulu pada sahabatku. Sebelum aku yang melihatnya langsung, aku harus buang prasangka ini. Harus! Ku kuatkan hati ini, menjauhi sisi kejahatan yang bisa muncul kapan saja. Lagi-lagi hati kecilku tidak bisa memungkiri kenyataan, ada sesuatu antara nadine dan bara.
Aku tidak akan bertanya langsung ke nadine, itu akan melukai hatinya. Aku juga tidak mau bertanya ke bara, karena aku tidak berhak mencampuri urusan pribadinya. Aku harus mencari informasi langsung, dengan mataku sendiri.
***
Setelah berpikir panjang, aku memutuskan untuk datang ke cafe citra pas malam minggu. Dan malam minggu itu adalah malam ini, maka di depan cafe itu sekarang kaki-ku berpijak.
Dengan jantung berdebar-debar aku memasuki cafe yang ramai pengunjung itu. Di atas panggung suara merdu bara membahana, menyihir setiap pengunjung dan aku pastinya. Namun tak ku lihat nadine di sana, padahal hampir tiga jam aku menunggu. Berarti benar dugaanku, nadine tidak punya hubungan apa pun dengan bara. Buktinya dia sedang latihan karate di club-nya. Aku bersyukur dengan fakta yang aku lihat sendiri, nadine dan bara tidak seperti yang ku bayangkan. Terima kasih Tuhan...
***
Bertahun-tahun berlalu, tidak terasa aku sudah berada di penghujung masa SMA. Semua masih sama seperti cerita terakhirku. Nadine dan aku masih bersahabat, namun tidak sedekat dulu. Mungkin karena kami sibuk dengan urusan masing-masing. 'Hubunganku' dan bara juga masih seperti dulu, hanya teman dunia maya. Tak ada niat untuk bertemu, apalagi menjurus ke level asmara. Aku memang belum, mungkin tidak akan mengutarakan perasaanku padanya. Apalagi bara itu sangat menutupi percintaannya, yang ku tau dia single dan sekarang kuliah di Ausie. Aku tak ingin meminta apa pun dari bara, menjadi temannya saja sudah cukup bersyukur. Jika dia menyapaku saat chat, rasanya ingin menari di angkasa raya. Bayangkan jika dia melamarku... Ops! Masih terlalu dini memikirkan pernikahan, walaupun aku ingin menikah dengannya. Hohoho...
Menikah? Mungkin ini refleks akibat berada di rumah sepupuku yang akan menikah besok. Berhubung ini adalah pernikahan perdana cucu oma-ku, maka rumah tante Rossa anak pertama oma yang juga kakak ibuku jadi ramai bagai pasar malam. Saudara dari luar kota bahkan luar negeri ada di sini, maka otomatis aku harus ada di sini. Aku juga sedang libur setelah ujian akhir nasional. Ya sambil refleshing lah...
"Kak, kamu pernah sekolah di SMA taman bahagia? Kok aku gak tau..." Tanyaku pada kak Lily, adik kak Jasmine yang akan menikah besok.
Kak Lily yang sedang mengganti baju tidur mengangguk. Dia melirik agenda di tanganku. "Cuma satu tahun, pas kelas satu. Waktu itu aku gak lulus di sekolah negeri, jadi teman mama menyarankan untuk masuk ke sekolah swasta dulu. Setelah satu tahun baru aku bisa pindah ke sekolah negeri. Memangnya kenapa?"
Sebenarnya aku tidak terlalu memperdulikan perkataan kak Lily. Walau rasanya aneh saja harus meninggalkan SMA Unggul itu hanya untuk masuk ke sekolah negeri. Memang dasar keluargaku, apa pun yang terjadi harus sekolah negeri, begitu bekerja pun harus jadi pegawai negeri. Tapi bukan itu yang ingin ku bahas, ada hal yang lebih penting.
"Kakak kenal ini?" Aku menunjukkan sebuah photo pemuda berwajah tampan. Walau photo 3x4, aku tetap mengenali si pemilik wajah itu.
"Oh si bara. Kan ada namanya." Jawab kak Lily singkat. "Kenapa? Gebetanmu ya?"
Aku menggeleng. "Maksudku saling kenal, mungkin akrab gitu…"
"Ya kenal dong... Dia teman sekelasku."
"Masih sering komunikasi?"
"Masih. Dia di Ausie kan sekarang? Ambil jurusan ekonomi kalau gak salah."
"Dia orangnya gimana sih kak? Dengar-dengar playboy ya?"
Kak Lily tertawa. "Playboy? Mana mungkin. Dia itu cowok paling cool sedunia, hatinya sedingin salju abadi. Cuma satu cewek yang bisa meluluhkan hatinya. Sepertinya sudah cukup lama mereka berpacaran..."
"Pacaran? Setauku dia gak punya pacar deh. Itu yang aku tau di akun facebooknya."
"Lhoh, malahan aku tau melalui facebook. Itu jadi topik hangat kami lhoh... Apalagi dia mau pulang ke indo, hanya untuk menghadiri acara wisuda SMA pacarnya. Romantis banget kan?"
"Tapi di akunnya gak ada tanda-tanda dia berpacaran lhoh kak..." Aku membuka ponselku dan menunjukkan akun milik bara. "Ini kan akunnya?"
"Oh ini yang lama maura sayang... Dia punya akun baru, bahkan ada photo pacarnya."
Aku terkulai lemas, untung sedang duduk. Mungkin aku akan terjatuh jika sedang berdiri. "Kakak kenal pacarnya? Anak mana?"
"Nah itu yang mau kakak tanyakan ke kamu. Kalau gak salah sih dia anak 25, tamat tahun ini. Kamu SMA 25 kan? Kenal sama yang namanya... Hm... Siapa yah? Kalo gak salah namanya seperti miss atau puteri indonesia deh... Hm... Na... Natali? Eh bukan. Na... Oh ya, nadine rahayu. Kamu kenal gak?"
Duaaaaaaaaarrrrrr!!!
Petir menyambar telingaku, menghancurkan hatikuberkeping-keping. Aku semakin lemas, jantungku berdegup kencang, bibirku kelu. Ternyata hal yang paling aku khuatirkan selama ini akhirnya terjadi, padahal aku sudah menyangkalnya habis-habisan. Sahabat dan cinta pertamaku? Tak ku sangka cinta dan persahabatan yang ku agung-agungkan malah menusukku dari belakang. Malam ini aku pun menangis dalam diamku. Seperti biasa, aku tak menceritakan pada siapa pun. Semoga hati dan tubuhku masih sanggup menanggung sakit ini.
***
Perpisahan sekolah harusnya menjadi moment yang mengharukan dan berlinang air mata. Mungkin teman-teman menangis karena perpisahan setelah 3 tahun bersama-sama merasaka pahit manisnya masa SMA, sedangkan aku menangis karena pengkhianatan dari orang yang paling aku percaya. Yaitu sahabatku sendiri.
Cinta tak pernah salah, dan aku tak akan menyalahkan cinta. Aku hanya tidak habis pikir mengapa nadine tega membohongiku selama tiga tahun ini. Jika dia mencintai bara atau pun sebaliknya, tidak ada masalah buatku. Malahan aku senang karena dua orang yang aku sayangi bisa bersatu. Jadi mengapa nadine tidak mengatakan yang sebenarnya, dia malah membuatku semakin berharap pada sosok yang tak mungkin aku miliki. Aku benci keadaan ini! Aku benci cinta dan persahabatan. Semuanya bulshit!
Aku tidak tau siapa duluan yang mengenal bara, aku atau nadine. Seharusnya nadine jujur padaku bila dia juga menyukai bara, jangan mengkhianatiku dan membuatku mencintai lelaki itu seperti ini. Kalau bara lebih memilih nadine, aku akan mengalah dan menerimanya dengan ikhlas. Atau bisa saja kami bersaing secara sportif, bukan seperti ini. Aku benci!
"Maura..." Nadine memelukku.
Aku mendengus. Apalagi melihat air matanya. Aku tau itu air mata sungguhan, hanya saja aku tak bisa menyangkal pikiran buruk ini. Bagiku semua yang nadine lakukan palsu dan penuh kebohongan. Rasanya sosok gadis di depanku seperti voldemort di serial Harry Potter.
"Maura sayang, maafin aku ya kalau ada salah. Besok aku akan berangkat ke Ausie. Aku mendapat beasiswa dari sebuah universitas di sana..."
Mataku terbelalak. Pengkhianatan apa lagi ini? Pertama, aku dan nadine sudah berjanji untuk kuliah di Universitas Indonesia. Kedua, dia pernah bilang gak akan pernah sekolah ke luar negeri. Ketiga, nadine ke ausie pasti karena bara. Keempat, yang paling fatal, kenapa baru sekarang dia memberitahukan padaku? Apa sebegitu tidak berartinya aku dan persahabatan ini???
Nadine menggenggam tanganku. "Jangan marah ya ra... Aku tau berita ini dua bulan yang lalu. Saat aku ingin memberitahukan padamu, aku takut nanti kamu malah kepikiran sedangkan kita mau ujian nasional. Lama-lama aku lupa mengabarimu. Bukan aku sengaja ra mengabarinya saat aku mau berangkat, aku gak mau kamu sedih atas kepergianku. Aku tau ini berat karena kita gak pernah berpisah selama ini. Aku janji akan mengabarimu setiap hari. Jangan marah ya maura sayang..."
Aku menyeringai dalam hati. Ingin rasanya aku mencabik-cabik wajah munafik nadine yang berlinang air mata di depanku. Aku sangat kecewa padanya! Bukan hanya soal bara, juga soal keberangkatannya. Tidak menyangka persahabatanku berakhir seperti ini. Ops... Dia bukan sahabatku lagi.
"Ra, maafin aku ya! Nanti malam aku ke rumah ya, sekalian pamitan dengan keluargamu..."
"Gak perlu, nanti aku sampaikan ke mereka. Pulang dari sini kami langsung berangkat ke rumah oma. Ada acara keluarga..." Aku berbohong.
Wajah nadine tampak kecewa. "Jadi besok kamu gak bisa mengantarku? Padahal aku berharap ada kamu saat aku pergi..."
Aku pura-pura sedih. "Ya apa boleh buat. Habisnya kamu mendadak sih ngabarinnya. Coba kamu beritahu lebih awal, pasti akan ku siapkan waktu khusus untukmu." Aku menyindirnya. Aku melihat ponsel, lalu pura-pura panik. "Ya ampun ada 57 misscall dan 22 sms! Ayah dan bunda masih sudah lama menungguku. Ya udah nadine, aku pergi dulu. Selamat jalan, semoga sukses di sana..." Aku langsung meninggalkan nadine.
Rupanya nadine mengejar dan memelukku. "Maafkan aku karena baru mengabarimu. Aku tau kamu marah. Sekali lagi maaf. Aku sayang kamu ra..." Dia mengisak.
Aku membisikkan sebuah kalimat tepat di telinga nadine. "Semua kesalahan yang kau lakukan di depan mataku sudah ku maafkan. Tapi aku tidak akan pernah memaafkan kesalahan yang kau perbuatan di belakangku.” Kataku sinis. Langsung ku tinggalkan nadine yang pastinya terperanjatdan terpana melihatku dengan wajah sendu sok tak berdosa itu.
Ada dua kemungkinan dari reaksi nadine. Dia tidak mengerti akan ucapanku, atau dia tidak menduga aku sudah tau hubungannya dan bara.
Saat men-starter mobil, ku lihat bara sedang bersandar di mobil nadine. Hatiku sungguh terluka. Sampai detik ini bara tidak tau tentang perasaanku padanya, mungkin dia juga tak tau kalau aku bersahabat dengan kekasihnya. Seandainya dia tau pun, aku bisa apa? Toh dia sudah memilih nadine. Tinggal aku lah yang merasa tersakiti dan dikhianati oleh cintaku sendiri…
***
Orang-orang bilang: exsperience is the best teacher, pengalaman adalah guru yang paling baik. Dari pengalamanku dikhinanati oleh sahabat dan cinta yang tak terbalaskan, aku menjadi sosok yang berbeda. Aku tak pernah mempercayai siapa pun, bahkan kedua orang tuaku. Aku juga tak lagi bisa mencintai siapa pun selain diriku sendiri. Siapa lagi yang akan mencintaiku kalau bukan aku. Orang yang katanya akan mengorbankan hidupnya untukku pun hanyalah omong kosong, basa basi belaka untuk mencapai keinginannya. Tak ada seorang pun yang bisa melindungiku selain diriku sendiri, bahkan kedua orang tuaku. Akhirnya aku menjadi gadis yang tertutup pada apa pun. Meski banyak teman, tak ada satu pun dari mereka yang menjadi tempat curahan hatiku.. Kalau ada pemuda yang mencoba mendekatiku, langsung ku tepis dengan tembok china buatan hatiku. Alhasil semuanya menguntungkan diriku sendiri. Masa pendidikan yang harusnya diselesaikan selama 4 tahun ku selesaikan dalam waktu 3 tahun 4 bulan, dengan nilai memuaskan pula. Dan aku pun diterima di sebuah perusahaan milik negara. Hm, setidaknya pahit pengkhiatan yang aku terima tiga tahun lalu berbuah manis saat ini. Malah sangat manis...
***
Dua tahun kemudian...
Lima tahun telah berlalu, luka itu pun hampir sembuh. Aku berusaha melupakan pengkhianatan nadine, namun aku tidak bisa berteman seperti dulu. Makanya setiap dia menghubungiku, tak pernah ada balasan. Lalu aku berusaha membunuh semua perasaanku pada bara, hasilnya… nihil! Malah aku semakin mencintai dan hampir selalu memimpikan dia. Akhirnya aku biarkan saja cinta ini mati, mungkin waktu yang terus berputar akan membunuh cinta dan kemarahanku. Yang penting aku sudah mengikhlaskan mereka, itu saja sudah cukup.
"Iya bunda, sepulang dari kantor aku akan langsung ke rumah tante rossa..." Aku mengakhiri membicaraan. Bunda sedang mengingatkanku untuk menginap di rumah tante Rossa, soalnya besok kak Lily menikah.
Saat menutup pintu, tak sengaja kaki-ku menendang sesuatu. Aku langsung memungutnya. Dua buah undangan berwarna ungu. Yang satu untuk ayah dan bunda, yang satunya lagi untukku.
"Menikah, Nadine Rahayu dan Bara Prayudha"
Aku membaca berkali-kali nama yang tercetak di undangan itu. Tak ada perubahan sedikit pun, bahkan ketika ku bolak balik halamannya. Photo mesra mereka berdua terpampang jelas di mataku. Benar-benar Nadine dan bara.
"Oh bagus lah... Setidaknya mereka sudah terbuka, tidak bermain kucing-kucingan lagi..." Ucapku dalam hati.
Aku sudah mengikhlaskan nadine dan bara, seperti apa pun kebohongan yang mereka ciptakan. Aku tak berhak menghujamkan kemarahan pada cinta mereka, karena cinta tak pernah salah. Aku juga tidak perlu mengklarifikasikan masalah ini ke nadine dan bara, fakta yang aku lihat sudah cukup membuktikan seperti apa mereka. Rasanya aku tak perlu repot-repot bertanya untuk sesuatu yang sudah aku ketahui jawabannya.
"Selamat menempuh hidup baru bara. Semoga kau bahagia dengan cintamu..." Aku tersenyum, mengikhlaskan hatiku yang masih memiliki secuil rasa pada bara. "Ketika aku tak bisa memiliki orang yang ku cintai, yang bisa ku lakukan hanya mendo'akan kebahagiaannya. Sekali lagi, selamat berbahagia bara. Jaga Nadine baik-baik..."
Aku berusaha mengikhlaskan bara untuk nadine. Namun entah mengapa undangan itu tetap berada di tempatnya, tong sampah.
"Selamat tinggal bara. Semoga bahagia dengan pilihanmu…" Semoga tak ada orang lain lagi yang tersakiti karena cinta kalian. Selamanya cinta tak pernah salah, hanya manusia yang memilikinya yang salah…
***

Tidak ada komentar: