Aku jatuh cinta padanya ketika
mata kami bertemu di festival antar sekolah. Wajah putihnya kemerah-merahan
disengat sinar matahari siang itu. Kaki jenjangnya tak pernah lelah melangkah
menawarkan sebuah produk buatan sekolahnya. Lesung di kedua pipinya menghiasai
senyuman penuh semangat, membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Sorot
matanya tajam menatapku dengan tatapan jenaka khas anak muda. Aku tercengang,
beginikah yang disebut 'fall in love'? Aku benar-benar terlarut dalam
pesonanya. Dan akhirnya setelah acara usai, aku mendapat sebuah petunjuk
tentang pemuda itu. Bara, kelas III SMU Taman Bahagia.
***
Aku mencatat tanggal itu.
Pertama kali jatuh cinta pada Bara, 16 April 2003 . Akan ku kenang seumur hidupku, hari
di mana aku menemukan Mr. Right-ku. Sampai saat ini aku masih mengingat
senyuman, tawa bahkan bau tubuhnya. Dan semenjak hari itu aku terus mencari tau
tentangnya. Apa yang dia suka dan yang tidak, tentang sekolah, teman dan
keluarganya. Hobby dan kegiatannya. Yang paling membuatku senang karena dia
single alias belum punya pacar. Horeeeee!!! Dia pasti jodoh yang dikirimkan
Tuhan untukku. My Bara, I loph yu ful...
***
"Ra, ada cowok cakep
tuh!" Kata Nadine heboh. Mata dan tangannya menuju ke seorang pemuda di
seberang jalan. Sepertinya syndrom 'cowok keren' Nadine kambuh.
Aku melihat pemuda itu sekilas,
lalu mencibir. Gak banget deh! "Itu yang kamu bilang cakep? Masih cakepan
My Bara dong..."
Nadine mendengus. "Always
Bara. Dari tiga bulan yang lalu, Bara, Bara dan Bara. Bosen! Bahkan orangnya
aja aku gak tau." Protes sahabatku itu.
Aku tertawa. Dalam hatiku sudah
terdetak nama Bara, always Bara!
Nadine mencubit pipi
'chubby-ku'. Dia merengut, ngambek deh! "Kapan sih mau ngenalin si Bara ke
aku? Penasaran banget! Jangan-jangan sebenarnya dia gak ada, cuma cowok
khayalan. Ngaku aja deh..."
Aku mencubit pipi Nadine,
hitung-hitung membalas cubitannya tadi. "Enak aja! Aku jumpa dia di
festival sekolah, waktu kamu tampil di pentas. Pas aku mau nunjukin ke kamu, eh
dia malah udah pergi sama teman-temannya."
"Jangan-jangan kamu salah
orang, mungkin aja yang kamu lihat tuh cowok khayalanmu. Masa tiba-tiba saja
cowok yang selama ini kamu impikan, alias cowok idaman dalam angan-anganmu
muncul begitu saja. Pasti kamu lagi berkhayal, saking seringnya sehingga kamu
tak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak nyata. Ayo dong Maura,
sadar..." Nadine tak percaya. Dia malah mengguncang bahuku seolah-olah aku
putri tidur yang menunggu 'ciuman' dari pangeran tampan.
"Nadine!" Aku menjitak
kepalanya. "Aku yakin banget dia hidup, soalnya aku sempat bersentuhan
dengannya. Waktu itu dia menawarkan produk minuman dari sekolahnya..."
"Oh... Jadi sekarang aku
mengerti kenapa ada dua kotak minuman ringan di kamarmu..." Nadine
memotong perkataanku.
Aku tersenyum kikuk. Memang aku
tidak memberitahu Nadine tentang minuman yang sengaja ku beli dari Bara. Aku
bilang padanya itu produk baru buatan Tanteku yang kebetulan memproduksi
minuman kemasan seperti itu. Aku tau sih lama-lama bakal ketahuan, tapi gak
nyangka secepat ini. Hm apanya yang cepat? Udah tiga bulan semenjak bertemu
dengan pemuda idamanku.
"Kira-kira apa aku bisa
menikah dengannya?" Tanyaku pada Nadine, walau aku yakin tak mungkin
dijawab.
Nadine menatapku, seakan-akan
aku ini alien nyasar dari planet antah berantah. "Gila! Impianmu kecepatan
sayang... Masih kelas 1 SMU nih..." Nadine geleng kepala seraya menepuk
bahuku. "Kenalan secara resmi aja belum, gimana mau nikah???"
Aku tak menggubris Nadine. Tapi
bibirku langsung manyun, cemberut saking kesalnya karena Nadine menggagalkan
impian menikahku. Hohoho... Walaupun yang dikatakan Nadine 100 %
benar sih...
"Udah ah, aku gak mau bahas
si Bara."
Nadine langsung bernafas lega
dengan perkataanku. "Langsung dia berkata, "Sadar juga kalau 'Bara'
itu membosankan." Tangannya memberi kode pada kata 'Bara'.
"Ehem, aku sih gak akan
pernah bosan. Cuma aku mau kita langsung bertindak menemui Bara, jangan omdo
alias omong doang. Bahasa kerennya, talk less do more..."
Nadine mencibir. "Kirain..."
Aku pikir Nadine bakal protes,
ternyata dia pasrah dengan semua keputusanku. Good girl...
***
Akhirnya keesokan hari setelah
pulang sekolah aku dan nadine bertandang ke sekolah Bara. Bel pulang berbunyi
sesampainya kami di sana, para murid pun berhamburan keluar dari gerbang
sekolah yang menjulang tinggi. Ketauan deh betapa nakalnya murid sekolah itu,
sampai-sampai membangun tembok tinggi yang hampir menyamai tembok besar china.
Hm, ini sekolah atau penjara yah??? Aku menepuk jidatku. Kalau ramai begini
bagaimana aku bisa bertemu Bara?
"Udah deh, hari ini kita
lihat saja apa benar Bara siswa di sini. Setelah melihatnya cepat-cepat kamu
potret, biar aku tau gimana tampang si Bara-mu itu." Saran Nadine.
"Penasaran juga bu???"
Ejekku.
"Setiap dua kalimat yang
kamu ucapku, pasti ada terselip kata Bara. So, wajar dong kalau aku penasaran
sama cowok tercintamu itu..." Bela Nadine.
"Ya...ya...ya..." Aku
tak mau memperpanjang, nanti buruanku malah kabur lagi. Dia kan gak tau
bahwasanya ada dua gadis cantik yang sedang mengintainya.
Dari kejauhan radar mataku
menangkap sosok Bara. Aku langsung mengguncang bahu nadine dengan semangat.
"Ya udah samperin..."
Perintah nadine.
Aku tersenyum. "Gak usah
deh, kapan-kapan aja. Aku foto aja..." Ku ambil camera digital yang selalu
ku bawa, antisipasi jika penyakit narsis kami kambuh. Langsung ku ambil gambar
Bara dari kejauhan, syukurlah wajah tampannya terlihat jelas di camera. Saat
aku menyuruh nadine melihat bara, dia sedang sibuk dengan telepon dari
Daddy-nya. Ya sudah lah...
"Mana si Bara?" Tanya
Nadine lima menit kemudian.
Aku memonyongkan bibirku.
"Udah lewat kalle... Kamu sih asyik teleponan, buruan kita udah pulang
tuh."
Nadine kecewa, sedikit tidak
percaya. "Yang benar?" Tanya-nya sangsi.
"Aku punya kok photo-nya..."
Cepat-cepat ku tunjukkan gambar Bara, supaya Nadine percaya bahwa Bara-ku
nyata.
Dia melihat dengan teliti
photo-photo Bara yang ku ambil dari kejauhan, habisnya pas mau ambil dari dekat
eh tertutupi oleh dua orang temannya yang gendut. Setelah itu dia langsung naik
ke sebuah mobil mewah berwarna hitam metalic.
"Ohhh..." Nadine
memberikan camera padaku.
"Cuma itu
tanggapanmu?" Aku kecewa karna tak ada sepatah pujian pun dari Nadine.
Nadine mengangkat bahu.
"Maura sayang, kamu pulang naik taxi aja yah... Hari ini aku latihan
karate, udah telat nih..."
Aku menepuk jidat. "Oh iya
yah... Sorry honey, aku lupa hari ini jadwalmu latihan. Ya udah ga papa kok aku
pulang naik taxi. Makasih yah udah menemaniku mengintai Bara..." Aku
memeluk Nadine.
Setelah cipika cipiki, kami
berpisah ke tujuan masing-masing.
***
Sudah hampir seminggu ini sikap
Nadine berubah. Biasanya dia menungguku setiap hari di gerbang, sebelum dan
setelah pulang sekolah. Kalau pagi hari kami tidak bertemu, waktu istirahat dia
pasti singgah di kelasku yang kebetulan dekat kantin. Pokoknya setiap hari kami
bertemu dan bercerita apa saja, walaupun sore atau malamnya kami hang out dan
saling berkomunikasi via ponsel atau internet. Tapi mengapa sekarang Nadine
sulit sekali dihubungi. Aku telepon tak dijawab, aku sms juga tidak dibalas,
begitu juga via facebook dan twitter. Setiap pagi aku menunggunya seperti biasa
namun saat bel masuk berbunyi dia tak kunjung datang. Waktu istirahat aku ke
kelasnya dan dia tidak ada, ku cari ke sekeliling sekolah dia tidak ada. Pulang
sekolah aku menunggunya, kata teman-temannya dia sudah pulang terburu-buru dan
selalu begitu.
Aku bingung dengan perubahan
sikap sahabatku itu. Soalnya semenjak kami kenal tiga tahun lalu, nadine sangat
terbuka dan tak pernah mencueki aku seperti ini. Omg... Ada apa dengan
sahabatku itu???
"Maaf Maura sayang,
belakangan ini aku sibuk mempersiapkan diri untuk pertandingan karate nasional.
Kamu tau kan ini pertandingan perdanaku, dan aku mau kasih suprise ke
kamu..." Kata nadine di seberang telepon.
"Oh begitu... Ngomong dong
honey,,, aku pikir kamu marah padaku..."
"Gak dong Maura sayang...
Ya udah deh, aku tutup teleponnya yah. Badanku pegal-pegal nih, mau
istirahat..."
"Oke."
Pembicaraan berakhir. Padahal
aku masih ingin berbicara dengan nadine, malahan aku belum bertanya kapan
pertandingannya. Jujur, aku masih penasaran dengan sikap nadine. Sepertinya ada
yang dia tutupi dariku. Nada suaranya saat berbicara denganku sangat janggal,
seperti orang yang baru beberapa hari kenal. Dalam hati aku masih
bertanya-tanya, tapi aku tak ingin mengganggu sahabatku yang sedang
berkonsentrasi dengan pertandingannya.
***
Aku memandang wajah bara, lalu
mengelus pipinya dan terakhir ku cium bibirnya. Oh... Sayangnya bara tak bisa
membalas ciumanku karena dia hanya selembar photo yang ku bingkai dalam pigura
bergambar naruto.
"Selamat malam bara-ku
sayang..." Aku memberi kecupan jauh pada bara yang ada di atas tempat
tidurku. Kalau nadine melihatnya pasti langsung histeris dan menganggapku gila.
Cinta memang gila! Aku mencetak sebuah poster besar dan menempelkannya di
langit-langit tepat di atas tempat tidurku. Dulu sih itu poster naruto,
sekarang sudah berganti dengan wajah bara yang tersenyum. Aku mau saat bangun
tidur, hanya bara yang ku lihat dan ku sapa.
Sebenarnya sih masih banyak
pernak pernik lain yang dulunya bergambar naruto kini berganti dengan wajah
bara. "Maaf yah naruto. Kamu cowok impianku juga, tapi tidak nyata.
Sedangkan bara, dia itu masa depan, cinta pertama dan terakhirku, dan dia nyata."
Cinta... Lagi-lagi cinta...
***
"Sebaiknya kamu lupakan
bara!" Itu kata pertama yang terucap oleh nadine setelah hampir tiga
minggu tidak bertemu.
Keningku berkerut. Ada apa nih?
Apa nadine kesal karena aku ber'nyanyi' terus tentang bara, padahal kami sudah
lama tidak bertemu. Bahkan aku tidak bertanya bagaimana keadaannya, juga
bagaimana persiapan pertandingannya minggu depan. Memang aku salah...
"Maaf nadine, gak seharusnya aku bercerita mengenai pembicaraanku dengan
bara via facebook dan twitter. Harusnya aku tanya kedaanmu. Hm, maaf yah
sayang... Bagaimana kabarmu? Pertandingannya minggu depan kan?"
Nadine membuang muka.
"Pokoknya kamu harus melupakan dia!"
Keningku semakin berkerut.
"Lhoh kenapa? Oke aku salah karena membicarakannya di awal pertemuan kita.
Aku minta maaf. Yah aku tidak tau harus mengutarakan pada siapa kebahagiaan ini
selain padamu. Maafin aku yah..."
Nadine menatapku. "Lupakan
saja dia!" Katanya lagi.
"Tapi kenapa?"
"Dia bukan untukmu!"
Sumpah aku gak ngerti maksud
ucapan nadine. "Kenapa sih? Memangnya kamu kenal dia?"
Nadine terdiam. "Gak kenal,
tapi temanku mengenalnya. Dia pernah melatih karate di club kami, semua orang
tau dia playboy makanya dia dikeluarkan dari club. Pokoknya kamu gak usah
berharap apa-apa dari dia."
Aku menggeleng. Rasanya ada yang
terbakar di dalam tubuhku, mungkin hati ini telah tercabik-cabik oleh api
amarah. "Tunggu dulu, itu kan kata teman-temanku. Sebelum kita melihatnya
langsung, aku tidak percaya. Bara itu pemuda yang baik, itu yang aku tau
melalui akun facebook-nya."
Nadine menghela nafas. "Itu
dunia maya maura!"
"Aku gak peduli! Bara gak
mungkin begitu. Nanti malam aku akan bertanya padanya secara langsung."
"Ah terserah kamu!"
Nadine meninggalkanku.
Aku memejamkan mata. Apa benar
yang ku lakukan? Sangat wajar bila nadine mengingatkanku sebagai sahabat. Tapi
aku juga tidak bisa melupakan bara sementara aku hanya mendengar kabar dari
sepihak, itu pun tidak jelas siapa orangnya. Ahhhh...
***
Semenjak hari itu aku tidak lagi
membicarakan bara di depan nadine. Padahal aku pengen banget curhat padanya
tentang kedekatan kami, walaupun hanya di dunia maya. Namun demi menjaga
perasaan nadine, aku tutup mulut dari kata 'bara'.
Memang hubunganku dan nadine
sudah membaik, tapi aku tidak bisa memungkiri ada yang berubah dari sosok
sahabatku itu. Nadine yang biasanya agak cuek dengan penampilan kini selalu
modis dan feminin, sesekali dia memakai riasan di wajah cantiknya. Aku sih
tidak protes selama perubahan itu bernilai positif, hanya saja nadine mulai
tertutup padaku. Dia tak pernah bercerita tentang cowok-cowok yang dia taksir
atau yang mengejarnya. Yang dia ceritakan hanya seputar sekolah dan kegiatan
yang tidak penting. Secara sekilas hubungan persahabatan kami tampak baik-baik
saja, padahal sebenarnya ada tembok besar yang membatasi kami, entah apa
sebutan yang cocok untuk itu.
Aku hanya bisa tersenyum dan
memaklumi sikap nadine, tak henti-hentinya aku berdo'a supaya hubungan kami
bisa seperti dulu. Semoga malaikat mendengar do'aku...
***
Tidak biasanya aku mengizinkan
orang lain memasuki kamarku. Kamar adalah satu-satunya tempat privasi buatku,
maka hanya keluarga dan nadine yang boleh memasukinya. Namun kali ini aku tak
enak membiarkan seorang teman menunggu di luar sementara aku mandi. Maka ku
persilahkan Citra menungguku di kamar.
Selesai mandi dan memakai baju,
aku mendapati Citra duduk manis di tempat tidur. Tapi matanya tak bisa menolak
untuk menyapu setiap inci kamarku. Citra berdecak kagum saat melihat photo Bara
yang terpampang besar di langit-langit kamar (aku memang tidak mengindahkan
perkataan nadine, toh dia tak pernah protes).
"Ini pacarmu?" Tanya
Citra.
Aku mengangguk. "Ganteng
gak?"
"Pilihan gadis sehebat kamu
ya pasti yang terbaik dong..."
Aku tersipu atas pujian Citra.
Terpaksa deh aku membohonginya. Bara saja tidak pernah tau perasaanku,
boro-boro jadi pacar. Aku tersenyum kecut.
"Hm, kelihatannya
persahabatanmu dengan nadine cukup dekat yah..." Mata Citra melihat
photo-ku dan nadine yang sedang berangkulan.
"Iya dong..." Jawabku
pasti. Walaupun sebenarnya ada keretakan antara aku dan nadine.
"Pacarmu juga pasti akrab
dengannya. Bagaimana sih caranya supaya teman dan pacar bisa akur seperti
kalian? Soalnya temanku agak kurang suka dengan pacarku..." Entah curhat,
entah apa lah. Yang penting aku terkejut dengan perkataan citra. Soalnya
setauku nadine tidak mengenal bara, itu menurut pengakuannya.
"Hm... maksud kamu apa
ya?"
"Lhoh masa kamu gak tau
kalau nadine dan pacarmu sering jalan bareng? Aku sering melihat mereka. Malah
aku pikir itu pacarnya nadine, eh ternyata pacar kamu..."
Duaaaarrrrr!!!
Rasanya ada yang meledak tepat
di gendang telingaku. Gak mungkin nadine dan bara sering bersama sedangkan
mereka tidak saling mengenal. Citra pasti salah lihat! Yang bersama nadine
pasti bukan bara, begitu pula sebaliknya. Nadine tidak mungkin membohongiku,
apalagi merebut bara dariku. Aku terus berprasangka baik pada nadine, walau
hati kecilku membenarkan perkataan citra. Nadine tidak akan mengkhianatiku...
"Kamu kenapa ra?"
Citra menepuk bahuku. "Wajahmu pucat sekali."
"Aku tidak apa-apa."
Ucapku seraya tersenyum, namun seperti seringai bagiku. Aku berusaha untuk
tenang. Walau hatiku sedang bergejolak, aku tak ingin ada orang lain yang tau
bahkan orang tuaku.
Citra yang awalnya panik tampak
lega melihat perubahan wajahku. "Syukurlah kamu tidak apa-apa. Oh ya, kita
pergi sekarang? Takutnya kesorean, nanti macet lagi."
Aku mengangguk.
Dalam perjalanan menuju rumah
seorang teman, tempat kami mengerjakan tugas kelompok, aku berusaha
memberanikan diri bertanya lebih rinci akan informasi dari citra.
"Kamu sering banget lihat
mereka bersama? Berapa kali? Di mana?"
"Kenapa ra? Ada
masalah?" Citra balik tanya.
"Oh gak apa-apa
sih..." Jawabku cepat. "Hanya ingin tau saja..."
Citra pun bercerita... Dia
sering melihat nadine dan bara di cafe milik orang tua citra. Setiap malam band
bara manggung di cafe citra, dan hampir setiap malam sabtu atau minggu nadine
ada di sana.
"Kalau kamu pacarnya bara,
kenapa sih gak pernah ikut pacarmu manggung? Kenapa selalu nadine yang di sana?"
"Kamu tau lah nasib anak
gadis satu-satunya seperti aku. Sebelum umur 17 aku tidak punya jam malam,
syukur masih diizinkan berpacaran. Nadine di sana karena ada pacarnya, yang
main drum..." Aku berbohong dan pastinya ngarang. Apalagi di bagian pacar
nadine.
"Oh begitu yah... Tadi sih
aku sempat punya pikiran jelek, aku pikir nadine dan pacarmu selingkuh.
Sekarang lagi nge-trend merebut gebetan teman, takutnya itu yang terjadi
padamu. Apalagi aku sering melihat mereka jalan berdua bergandengan tangan. Setelah
mendengar ceritamu aku jadi lega dan tidak berprasangka buruk ke nadine."
Aku tersenyum. "Makasih ya
atas informasinya.,," Ya Tuhan, aku ingin menangis plus teriak
sekencang-kencangnya. Gak, itu gak boleh terjadi. Aku gak boleh berburuk sangka
dulu pada sahabatku. Sebelum aku yang melihatnya langsung, aku harus buang
prasangka ini. Harus! Ku kuatkan hati ini, menjauhi sisi kejahatan yang bisa
muncul kapan saja. Lagi-lagi hati kecilku tidak bisa memungkiri kenyataan, ada
sesuatu antara nadine dan bara.
Aku tidak akan bertanya langsung
ke nadine, itu akan melukai hatinya. Aku juga tidak mau bertanya ke bara,
karena aku tidak berhak mencampuri urusan pribadinya. Aku harus mencari
informasi langsung, dengan mataku sendiri.
***
Setelah berpikir panjang, aku memutuskan
untuk datang ke cafe citra pas malam minggu. Dan malam minggu itu adalah malam
ini, maka di depan cafe itu sekarang kaki-ku berpijak.
Dengan jantung berdebar-debar
aku memasuki cafe yang ramai pengunjung itu. Di atas panggung suara merdu bara
membahana, menyihir setiap pengunjung dan aku pastinya. Namun tak ku lihat
nadine di sana, padahal hampir tiga jam aku menunggu. Berarti benar dugaanku,
nadine tidak punya hubungan apa pun dengan bara. Buktinya dia sedang latihan
karate di club-nya. Aku bersyukur dengan fakta yang aku lihat sendiri, nadine
dan bara tidak seperti yang ku bayangkan. Terima kasih Tuhan...
***
Bertahun-tahun berlalu, tidak
terasa aku sudah berada di penghujung masa SMA. Semua masih sama seperti cerita
terakhirku. Nadine dan aku masih bersahabat, namun tidak sedekat dulu. Mungkin
karena kami sibuk dengan urusan masing-masing. 'Hubunganku' dan bara juga masih
seperti dulu, hanya teman dunia maya. Tak ada niat untuk bertemu, apalagi
menjurus ke level asmara. Aku memang belum, mungkin tidak akan mengutarakan
perasaanku padanya. Apalagi bara itu sangat menutupi percintaannya, yang ku tau
dia single dan sekarang kuliah di Ausie. Aku tak ingin meminta apa pun dari
bara, menjadi temannya saja sudah cukup bersyukur. Jika dia menyapaku saat chat,
rasanya ingin menari di angkasa raya. Bayangkan jika dia melamarku... Ops!
Masih terlalu dini memikirkan pernikahan, walaupun aku ingin menikah dengannya.
Hohoho...
Menikah? Mungkin ini refleks
akibat berada di rumah sepupuku yang akan menikah besok. Berhubung ini adalah
pernikahan perdana cucu oma-ku, maka rumah tante Rossa anak pertama oma yang
juga kakak ibuku jadi ramai bagai pasar malam. Saudara dari luar kota bahkan
luar negeri ada di sini, maka otomatis aku harus ada di sini. Aku juga sedang libur
setelah ujian akhir nasional. Ya sambil refleshing lah...
"Kak, kamu pernah sekolah
di SMA taman bahagia? Kok aku gak tau..." Tanyaku pada kak Lily, adik kak
Jasmine yang akan menikah besok.
Kak Lily yang sedang mengganti
baju tidur mengangguk. Dia melirik agenda di tanganku. "Cuma satu tahun,
pas kelas satu. Waktu itu aku gak lulus di sekolah negeri, jadi teman mama
menyarankan untuk masuk ke sekolah swasta dulu. Setelah satu tahun baru aku
bisa pindah ke sekolah negeri. Memangnya kenapa?"
Sebenarnya aku tidak terlalu
memperdulikan perkataan kak Lily. Walau rasanya aneh saja harus meninggalkan
SMA Unggul itu hanya untuk masuk ke sekolah negeri. Memang dasar keluargaku,
apa pun yang terjadi harus sekolah negeri, begitu bekerja pun harus jadi
pegawai negeri. Tapi bukan itu yang ingin ku bahas, ada hal yang lebih penting.
"Kakak kenal ini?" Aku
menunjukkan sebuah photo pemuda berwajah tampan. Walau photo 3x4, aku tetap
mengenali si pemilik wajah itu.
"Oh si bara. Kan ada
namanya." Jawab kak Lily singkat. "Kenapa? Gebetanmu ya?"
Aku menggeleng. "Maksudku
saling kenal, mungkin akrab gitu…"
"Ya kenal dong... Dia teman
sekelasku."
"Masih sering
komunikasi?"
"Masih. Dia di Ausie kan
sekarang? Ambil jurusan ekonomi kalau gak salah."
"Dia orangnya gimana sih
kak? Dengar-dengar playboy ya?"
Kak Lily tertawa. "Playboy?
Mana mungkin. Dia itu cowok paling cool sedunia, hatinya sedingin salju abadi.
Cuma satu cewek yang bisa meluluhkan hatinya. Sepertinya sudah cukup lama
mereka berpacaran..."
"Pacaran? Setauku dia gak
punya pacar deh. Itu yang aku tau di akun facebooknya."
"Lhoh, malahan aku tau
melalui facebook. Itu jadi topik hangat kami lhoh... Apalagi dia mau pulang ke
indo, hanya untuk menghadiri acara wisuda SMA pacarnya. Romantis banget
kan?"
"Tapi di akunnya gak ada
tanda-tanda dia berpacaran lhoh kak..." Aku membuka ponselku dan
menunjukkan akun milik bara. "Ini kan akunnya?"
"Oh ini yang lama maura
sayang... Dia punya akun baru, bahkan ada photo pacarnya."
Aku terkulai lemas, untung
sedang duduk. Mungkin aku akan terjatuh jika sedang berdiri. "Kakak kenal
pacarnya? Anak mana?"
"Nah itu yang mau kakak
tanyakan ke kamu. Kalau gak salah sih dia anak 25, tamat tahun ini. Kamu SMA 25
kan? Kenal sama yang namanya... Hm... Siapa yah? Kalo gak salah namanya seperti
miss atau puteri indonesia deh... Hm... Na... Natali? Eh bukan. Na... Oh ya,
nadine rahayu. Kamu kenal gak?"
Duaaaaaaaaarrrrrr!!!
Petir menyambar telingaku,
menghancurkan hatikuberkeping-keping. Aku semakin lemas, jantungku berdegup
kencang, bibirku kelu. Ternyata hal yang paling aku khuatirkan selama ini
akhirnya terjadi, padahal aku sudah menyangkalnya habis-habisan. Sahabat dan
cinta pertamaku? Tak ku sangka cinta dan persahabatan yang ku agung-agungkan
malah menusukku dari belakang. Malam ini aku pun menangis dalam diamku. Seperti
biasa, aku tak menceritakan pada siapa pun. Semoga hati dan tubuhku masih
sanggup menanggung sakit ini.
***
Perpisahan sekolah harusnya
menjadi moment yang mengharukan dan berlinang air mata. Mungkin teman-teman
menangis karena perpisahan setelah 3 tahun bersama-sama merasaka pahit manisnya
masa SMA, sedangkan aku menangis karena pengkhianatan dari orang yang paling
aku percaya. Yaitu sahabatku sendiri.
Cinta tak pernah salah, dan aku
tak akan menyalahkan cinta. Aku hanya tidak habis pikir mengapa nadine tega
membohongiku selama tiga tahun ini. Jika dia mencintai bara atau pun
sebaliknya, tidak ada masalah buatku. Malahan aku senang karena dua orang yang
aku sayangi bisa bersatu. Jadi mengapa nadine tidak mengatakan yang sebenarnya,
dia malah membuatku semakin berharap pada sosok yang tak mungkin aku miliki.
Aku benci keadaan ini! Aku benci cinta dan persahabatan. Semuanya bulshit!
Aku tidak tau siapa duluan yang
mengenal bara, aku atau nadine. Seharusnya nadine jujur padaku bila dia juga
menyukai bara, jangan mengkhianatiku dan membuatku mencintai lelaki itu seperti
ini. Kalau bara lebih memilih nadine, aku akan mengalah dan menerimanya dengan
ikhlas. Atau bisa saja kami bersaing secara sportif, bukan seperti ini. Aku
benci!
"Maura..." Nadine
memelukku.
Aku mendengus. Apalagi melihat
air matanya. Aku tau itu air mata sungguhan, hanya saja aku tak bisa menyangkal
pikiran buruk ini. Bagiku semua yang nadine lakukan palsu dan penuh kebohongan.
Rasanya sosok gadis di depanku seperti voldemort di serial Harry Potter.
"Maura sayang, maafin aku
ya kalau ada salah. Besok aku akan berangkat ke Ausie. Aku mendapat beasiswa
dari sebuah universitas di sana..."
Mataku terbelalak. Pengkhianatan
apa lagi ini? Pertama, aku dan nadine sudah berjanji untuk kuliah di
Universitas Indonesia. Kedua, dia pernah bilang gak akan pernah sekolah ke luar
negeri. Ketiga, nadine ke ausie pasti karena bara. Keempat, yang paling fatal,
kenapa baru sekarang dia memberitahukan padaku? Apa sebegitu tidak berartinya
aku dan persahabatan ini???
Nadine menggenggam tanganku.
"Jangan marah ya ra... Aku tau berita ini dua bulan yang lalu. Saat aku
ingin memberitahukan padamu, aku takut nanti kamu malah kepikiran sedangkan
kita mau ujian nasional. Lama-lama aku lupa mengabarimu. Bukan aku sengaja ra
mengabarinya saat aku mau berangkat, aku gak mau kamu sedih atas kepergianku.
Aku tau ini berat karena kita gak pernah berpisah selama ini. Aku janji akan
mengabarimu setiap hari. Jangan marah ya maura sayang..."
Aku menyeringai dalam hati.
Ingin rasanya aku mencabik-cabik wajah munafik nadine yang berlinang air mata
di depanku. Aku sangat kecewa padanya! Bukan hanya soal bara, juga soal
keberangkatannya. Tidak menyangka persahabatanku berakhir seperti ini. Ops...
Dia bukan sahabatku lagi.
"Ra, maafin aku ya! Nanti
malam aku ke rumah ya, sekalian pamitan dengan keluargamu..."
"Gak perlu, nanti aku
sampaikan ke mereka. Pulang dari sini kami langsung berangkat ke rumah oma. Ada
acara keluarga..." Aku berbohong.
Wajah nadine tampak kecewa.
"Jadi besok kamu gak bisa mengantarku? Padahal aku berharap ada kamu saat
aku pergi..."
Aku pura-pura sedih. "Ya
apa boleh buat. Habisnya kamu mendadak sih ngabarinnya. Coba kamu beritahu
lebih awal, pasti akan ku siapkan waktu khusus untukmu." Aku menyindirnya.
Aku melihat ponsel, lalu pura-pura panik. "Ya ampun ada 57 misscall dan 22
sms! Ayah dan bunda masih sudah lama menungguku. Ya udah nadine, aku pergi
dulu. Selamat jalan, semoga sukses di sana..." Aku langsung meninggalkan
nadine.
Rupanya nadine mengejar dan
memelukku. "Maafkan aku karena baru mengabarimu. Aku tau kamu marah.
Sekali lagi maaf. Aku sayang kamu ra..." Dia mengisak.
Aku membisikkan sebuah kalimat
tepat di telinga nadine. "Semua kesalahan yang kau lakukan di depan mataku
sudah ku maafkan. Tapi aku tidak akan pernah memaafkan kesalahan yang kau
perbuatan di belakangku.” Kataku sinis. Langsung ku tinggalkan nadine yang
pastinya terperanjatdan terpana melihatku dengan wajah sendu sok tak berdosa
itu.
Ada dua kemungkinan dari reaksi
nadine. Dia tidak mengerti akan ucapanku, atau dia tidak menduga aku sudah tau
hubungannya dan bara.
Saat men-starter mobil, ku lihat
bara sedang bersandar di mobil nadine. Hatiku sungguh terluka. Sampai detik ini
bara tidak tau tentang perasaanku padanya, mungkin dia juga tak tau kalau aku
bersahabat dengan kekasihnya. Seandainya dia tau pun, aku bisa apa? Toh dia
sudah memilih nadine. Tinggal aku lah yang merasa tersakiti dan dikhianati oleh
cintaku sendiri…
***
Orang-orang bilang: exsperience
is the best teacher, pengalaman adalah guru yang paling baik. Dari pengalamanku
dikhinanati oleh sahabat dan cinta yang tak terbalaskan, aku menjadi sosok yang
berbeda. Aku tak pernah mempercayai siapa pun, bahkan kedua orang tuaku. Aku
juga tak lagi bisa mencintai siapa pun selain diriku sendiri. Siapa lagi yang
akan mencintaiku kalau bukan aku. Orang yang katanya akan mengorbankan hidupnya
untukku pun hanyalah omong kosong, basa basi belaka untuk mencapai
keinginannya. Tak ada seorang pun yang bisa melindungiku selain diriku sendiri,
bahkan kedua orang tuaku. Akhirnya aku menjadi gadis yang tertutup pada apa
pun. Meski banyak teman, tak ada satu pun dari mereka yang menjadi tempat
curahan hatiku.. Kalau ada pemuda yang mencoba mendekatiku, langsung ku tepis
dengan tembok china buatan hatiku. Alhasil semuanya menguntungkan diriku
sendiri. Masa pendidikan yang harusnya diselesaikan selama 4 tahun ku
selesaikan dalam waktu 3 tahun 4 bulan, dengan nilai memuaskan pula. Dan aku pun
diterima di sebuah perusahaan milik negara. Hm, setidaknya pahit pengkhiatan
yang aku terima tiga tahun lalu berbuah manis saat ini. Malah sangat manis...
***
Dua tahun kemudian...
Lima tahun telah berlalu, luka
itu pun hampir sembuh. Aku berusaha melupakan pengkhianatan nadine, namun aku
tidak bisa berteman seperti dulu. Makanya setiap dia menghubungiku, tak pernah
ada balasan. Lalu aku berusaha membunuh semua perasaanku pada bara, hasilnya…
nihil! Malah aku semakin mencintai dan hampir selalu memimpikan dia. Akhirnya
aku biarkan saja cinta ini mati, mungkin waktu yang terus berputar akan
membunuh cinta dan kemarahanku. Yang penting aku sudah mengikhlaskan mereka,
itu saja sudah cukup.
"Iya bunda, sepulang dari
kantor aku akan langsung ke rumah tante rossa..." Aku mengakhiri
membicaraan. Bunda sedang mengingatkanku untuk menginap di rumah tante Rossa,
soalnya besok kak Lily menikah.
Saat menutup pintu, tak sengaja
kaki-ku menendang sesuatu. Aku langsung memungutnya. Dua buah undangan berwarna
ungu. Yang satu untuk ayah dan bunda, yang satunya lagi untukku.
"Menikah, Nadine Rahayu dan
Bara Prayudha"
Aku membaca berkali-kali nama
yang tercetak di undangan itu. Tak ada perubahan sedikit pun, bahkan ketika ku
bolak balik halamannya. Photo mesra mereka berdua terpampang jelas di mataku.
Benar-benar Nadine dan bara.
"Oh bagus lah... Setidaknya
mereka sudah terbuka, tidak bermain kucing-kucingan lagi..." Ucapku dalam
hati.
Aku sudah mengikhlaskan nadine
dan bara, seperti apa pun kebohongan yang mereka ciptakan. Aku tak berhak
menghujamkan kemarahan pada cinta mereka, karena cinta tak pernah salah. Aku
juga tidak perlu mengklarifikasikan masalah ini ke nadine dan bara, fakta yang
aku lihat sudah cukup membuktikan seperti apa mereka. Rasanya aku tak perlu
repot-repot bertanya untuk sesuatu yang sudah aku ketahui jawabannya.
"Selamat menempuh hidup
baru bara. Semoga kau bahagia dengan cintamu..." Aku tersenyum,
mengikhlaskan hatiku yang masih memiliki secuil rasa pada bara. "Ketika aku
tak bisa memiliki orang yang ku cintai, yang bisa ku lakukan hanya mendo'akan
kebahagiaannya. Sekali lagi, selamat berbahagia bara. Jaga Nadine baik-baik..."
Aku berusaha mengikhlaskan bara
untuk nadine. Namun entah mengapa undangan itu tetap berada di tempatnya, tong
sampah.
"Selamat tinggal bara.
Semoga bahagia dengan pilihanmu…" Semoga tak ada orang lain lagi yang
tersakiti karena cinta kalian. Selamanya cinta tak pernah salah, hanya manusia
yang memilikinya yang salah…
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar